Pasar Saham Masih Muram - Mainkan Enam Belas Saham

NERACA

Jakarta- Terpuruknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dengan penurunan sebanyak 86,47 poin atau jauh di bawah dari pekan sebelumnya yang naik 9,41 poin atau sebesar 0,18% ditengarai akibat aksi jual bersih (net sell) yang sebagian besar dilakukan investor asing.

Ke depan, posisi IHSG pun dinilai tetap belum nyaman karena masih rawan melanjutkan koreksi. “Pola yang sama akan berlaku di mana pelaku pasar akan memanfaatkan setiap kenaikan untuk profit taking karena mulai tidak nyamannya sentimen yang ada.” kata Kepala Riset Trust Securities, Reza Priyambada di Jakarta, Senin (2/6).

Menurutnya, kecenderungan IHSG untuk bergerak negatif dapat ditekan jika mendapatkan dukungan positif dari sentimen eksternal dan internal pasar. Oleh karena itu, dia menyarankan pelaku pasar tetap selalu mencermati setiap sentimen yang ada dan mewaspadai potensi koreksi lanjutan. Diperkirakan, pada pekan ini IHSG akan berada pada rentang support 5052-5085 dan resisten 5195-5231. “Cermati sektor perkebunan, industri dasar, infrastruktur, konsumer, dan properti.” ujarnya.

Sejumlah saham yang dapat diperhatikan, lanjut dia, antara lain PT London Sumatera Plantation (LSIP), PT Astra Agro Lestari (AALI), PT BW Plantation (BWPT), PT Salim Ivomas Pratama (SIMP), PT Alam Sutera Realty (ASRI), PT Agung Podomoro Land (APLN), PT Ciputra Property Tbk (CTRP), PT Duta Graha Indah (DGIK), PT Pakuwon Jati (PWON), PT Modern Land Realty (MDLN), PT Indocement Tunggal Prakarsa (INTP), PT Jembo Cable Company (JECC), PT Wijaya Karya (WIKA), PT Pembangunan Perumahan (PTPP), PT Indofood CPB Sukses Makmur (ICBP), dan PT Tiga Pilar Sejahtera Food (AISA).

Dijelaskan Reza, penurunan IHSG selama sepekan sebanyak 86,47 poin antara lain karena kembali variatifnya bursa saham Asia, terlebih dengan pelemahan tajam indeks HSI yang terimbas pelemahan bursa saham AS dan Eropa. Plus, adanya sentimen pelemahan rupiah.

Pergerakan nilai tukar rupiah yang terperosok hingga mendekati level Rp10.000, kata dia, terjadi setelah merespon positifnya data-data Amerika Serikat (AS) yang di antaranya terkait kenaikan durable goods orders.“Dengan adanya komentar The Fed di pekan kemarin membuat setiap rilis data positif memberikan sentimen yang positif pula untuk US dollar, terutama dengan rencana percepatan penarikan stimulus The Fed.” jelasnya.

Nilai tukar rupiah, sambung dia, juga terkena sentimen negatif oleh rilis berita pemangkasan outlook ekonomi China oleh The Fed sehingga terefleksi pada pelemahan Yuan yang berimbas pada sejumlah mata uang di Asia Pasifik, termasuk rupiah. Karena itu, asing pun semakin agresif jualan hingga mencapai Rp4,39 triliun sehingga menyebabkan IHSG terperosok.

Penurunan IHSG yang terjadi sepekan kemarin juga diikuti indeks utama lainnya, di mana indeks IDX30 memimpin penurunan sebesar 3,95% dan diikuti indeks JII dan LQ45 yang masing-masing anjlok -3,52% dan -3,47%. Hanya indeks DBX yang mengalami penguatan dengan naik 1,05%. Di sisi lain, laju indeks sektoral pun tidak jauh berbeda, di mana mayoritas mengalami penurunan namun, hanya tiga sektor yang menguat yaitu indeks properti, perkebunan dan perdagangan yang mengalami kenaikan masing-masing sebesar 8,90%, 2,54%, dan 1,57%. (lia)

Related posts