Menperin Pastikan Inalum Akan Jadi BUMN Oktober 2013

NERACA

Jakarta - Pemerintah menyiapkan dana sebesar Rp10 miliar untuk memfasilitasi pengambilalihan PT Indonesia Asahan Aluminium atau Inalum. \"Anggaran sebesar Rp10 miliar akan digunakan untuk memfasilitasi perundingan pengambilalihan PT Inalum,\" kata Hidayat di Jakarta, Senin (3/6).

Dana tersebut merupakan re-alokasi dari dana konversi bahan bakar minyak (BBM) ke bahan bakar gas (BBG) yang pada tahun 2013 lalu dana konversi tersebut disiapkan sebesar Rp206,8 miliar. Dari anggaran sebesar Rp206,8 miliar tersebut, Kementerian Perindustrian melakukan pemotongan anggaran sebesar Rp106,05 miliar dan menyisakan Rp90,75 miliar untuk pengadaan konverter kit sebanyak 4.000 unit dan Rp10 miliar tersebut diperuntukkan untuk memfasilitasi perundingan tersebut.

Kementerian Perindustrian bertekad menyelesaikan semua masalah PT Inalum dan dapat menjadi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) pada Oktober 2013. \"Iya, akan selesai Oktober dan saya bertanggung jawab bahwa ini bisa selesai,\" ujar Hidayat.

Indonesia tengah melakukan perundingan untuk pengambilalihan PT Inalum dari pihak Jepang yaitu konsorsium investor asal Jepang yang tergabung dalam Nippon Asahan Alumunium Co. Ltd (NAA).

Pada 7 Juli 1975, pemerintah Indonesia dan 12 Perusahaan Penanam Modal Jepang menandatangani Perjanjian Induk untuk PLTA dan Pabrik Peleburan Aluminium Asahan yang kemudian dikenal dengan sebutan Proyek Asahan.

Ke-12 Perusahaan Penanam Modal Jepang tersebut adalah Sumitomo Chemical company Ltd., Sumitomo Shoji Kaisha Ltd., Nippon Light Metal Company Ltd., C Itoh & Co., Ltd., Nissho Iwai Co., Ltd., Nichimen Co., Ltd., Showa Denko K.K., Marubeni Corporation, Mitsubishi Chemical Industries Ltd., Mitsubishi Corporation, Mitsui Aluminium Co., Ltd., Mitsui & Co., Ltd.

Inalum merupakan perusahaan yang membangun dan mengoperasikan Proyek Asahan, sesuai dengan Perjanjian Induk, dan perbandingan saham antara pemerintah Indonesia dan Nippon Asahan Aluminium Co., Ltd pada saat perusahaan didirikan adalah 10% dengan 90%.

Pada Oktober 1978 perbandingan kepemilikan saham tersebut menjadi 25% dengan 755 dan sejak Juni 1987 menjadi 41,13% dengan 58,87%. Sejak 10 Februari 1998 berubah kembali menjadi 41,12% dengan 58,88%. Inalum dicatat sebagai pelopor dan perusahaan pertama di Indonesia yang bergerak dalam bidang industri peleburan aluminium dengan investasi sebesar 411 miliar yen.

Ambil Alih

Sebelumnya Menteri Hidayat juga mengatakan pemerintah Indonesia sepakat untuk mengambil alih Inalum 100% setelah habis masa kontraknya. Pemerintah pun menyiapkan dana Rp 7 triliun guna ambil alih tersebut. \"Tapi pada prinsipnya pemerintah Indonesia tetap membuat statement bahwa 31 Oktober itu pengambil alihan, 1 november jadi milik Indonesia 100%,\" ujarnya.

Menurut Hidayat, saat ini pemerintah masih bernegosiasi untuk permasalahan harga yang diminta pihak Jepang. Pemerintah pun mempunyai referensi angka yang telah diserahkan Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan (BPKP) untuk mengambil alih Inalum. \"Namanya orang negosiasi, dan selama 30 tahun kan, pasti ada cara pandang yang berbeda. Tapi kita gunakan juga BPKP sebagai referensi angka kita,\" jelas dia.

Hidayat menambahkan dalam proposal tandingan tersebut juga akan disebutkan permintaan angka pembelian Inalum. Namun, Hidayat enggan membeberkan berapa nilai pembelian Inalum.\"Ya sudahlah. Karena mereka ingin datang kesini resmi akhir Juni ini. Jadi kita tunggu saja,\" tukasnya.

Pemerintah menyatakan anggaran dana pembelian Inalum yang disimpan di rekening PT Penyertaan Modal Negara (PMN) sebesar Rp 7 triliun sudah cukup untuk membeli perusahaan penghasil aluminium tersebut. Hidayat mengatakan dana tersebut cukup walaupun adanya selisih perhitungan dari pihak Jepang sebesar US$ 100 juta atau sekitar Rp 920 miliar. \"Itu yang sedang dibicarakan. BPKP hitung selama 30 tahun, hitung versi dia ada perbedaan, sekitar US$ 100 juta. Perbedaan karena ada perbedaan perhitungan nilai dan membuat rumusan kalkulasi beda,\" ujar Hidayat.

Inalum merupakan perusahaan ini berdiri pada 1976, dengan 58% sahamnya dikuasai konsorsium 12 perusahaan Jepang, termasuk Mitsubishi Corporation. Pada 2012 penjualan aluminium jenis ingot dari Inalum mencapai 198.003 ton. Dengan rincian, diekspor ke Jepang sebesar 115.002 ton dan dipasok ke pasar domestik sebesar 83.001 ton.

Hasil kajian Tim Pengambilalihan Inalum menyebutkan, akuisisi saham Inalum akan berdampak positif untuk kepentingan negara. Alasannya, industri alumunium memiliki prospek baik seiring program hilirisasi industri yang dicanangkan pemerintah.

Selain itu, Inalum merupakan satu-satunya perusahaan peleburan alumunium di Asia Tenggara yang memiliki fasilitas lengkap. Sehingga pemerintah dapat memanfaatkan pabrik ini sebagai fondasi integrasi industrialisasi di Indonesia.

Related posts