Anggaran Kemenperin Dipangkas Rp 183 Miliar

NERACA

Jakarta - Komisi VI Dewan Perwakilan Rakyat menyetujui usulan Kementerian Keuangan untuk memotong anggaran Kementerian Perindustrian sebesar Rp 183,621 miliar. Saat ini pagu anggaran belanja kementerian pimpinan MS Hidayat tersebut sebesar Rp 3,16 triliun.\"Komisi VI setuju pemotongan APBN-P Kementerian Perindustrian menjadi Rp 3,16 triliun sesuai dengan surat Kementerian Keuangan,\" jelas Ketua Komisi VI Erlangga Hartarto dalam Rapat Kerja dengan Kemenperin di Jakarta, Senin (3/6).

Selain itu, Komisi VI juga menyetujui anggaran belanja tambahan sebesar Rp 77,1 miliar untuk dibahas di Badan Anggaran DPR RI. Anggaran tambahan ini untuk membiayai program penanggulangan banjir, pengembangan IKM hingga fasilitasi pengadaan mesin dan peralatan untuk laboratorium. \"DPR RI setuju realokasi anggaran antar program dan kegiatan sebesar Rp 17,5 miliar,\" lanjut Erlangga.

Pagu anggaran awal Kemenperin sendiri sebesar Rp3,26 triliun, dan dalam RAPBN-Perubahan 2013 dipotong sebesar Rp183,62 miliar beserta anggaran tambahan sebesar Rp77,08 miliar sehingga pagu anggaran Kemenperin dalam RAPBN-Perubahan menjadi sebesar Rp3,163 triliun.Selain itu, disetujui pula relokasi anggaran antarprogram dan antarkegiatan sebesar Rp17,5 miliar.

Di tempat yang sama, Menteri Perindustrian MS Hidayat memaparkan kalau pos-pos anggaran yang dipotong itu berasal dari program yang belum jalan karena persiapan teknis. Antara lain konversi Bahan Bakar Minyak (BBM) ke Bahan Bakar Gas (BBG) yang semula Rp 206 miliar dipotong menjadi Rp 106,05 miliar.

Sisa anggaran sebesar Rp 89 miliar diperuntukkan untuk pengadaan 3.000 konverter kit beserta kegiatan pendukungnya dan sisa anggaran sebesar Rp 10 miliar diusulkan untuk digunakan dalam rangka fasilitasi perundingan pengambilalihan PT Inalum dari Jepang. Pos anggaran lain yang dipangkas adalah pembangunan pabrik minyak goreng di kota Subulussalam, Aceh. Anggaran yang semula Rp 54 miliar dipotong menjadi Rp 46,50 miliar.

Lebih jauh lagi Hidayat mengungkap pemotongan anggaran ini lantaran Pemerintah Daerah belum dapat memastikan status lahan yang akan digunakan untuk lokasi pabrik. Pos terakhir adalah dana output cadangan dan dana non alokasi sebesar Rp 31,07 miliar yang merupakan sisa dana hasil penelaahan yang belum ditetapkan penggunaannya Kementerian Keuangan.

Pemotongan Terbesar

Dalam kesempatan itu, Mantan Ketua Kadin ini menerangkan kalau pemotongan anggaran yang terbesar itu dari program konversi BBM ke BBG. Pemotongan anggaran tersebut berasal dari kegiatan yang tidak dapat sepenuhnya direalisasikan seperti penyediaan konverter kit dalam program konversi bahan bakar minyak (BBM) ke bahan bakar gas (BBG).\"Anggaran koverter kit tersebut tidak apa-apa jika dipotong sekarang karena pada tahun 2013 stasiun pengisian bahan bakar gas juga belum siap,\" terang Hidayat.

Pada awalnya, anggaran untuk pengadaan konverter kit sebesar Rp206,8 miliar, dan dengan adanya pemotongan sebesar Rp106,05 miliar tersebut hanya menyisakan Rp90,75 miliar yang diperuntukkan untuk pengadaan 4.000 unit konverter kit beserta pendukungnya.\"Program konversi tersebut masih tetap berjalan,\" ujar Hidayat.

Related posts