RI Layangkan Surat Protes ke Uni Eropa - Ekspor Biodiesel Kena Tuduhan Dumping

NERACA

Jakarta - Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM Rida Mulyana menjelaskan bahwa Indonesia akan melayangkan surat keberatan ke Uni Eropa atas keputusan Uni Eropa mengenakan bea masuk anti dumping sementara sebesar 2,8-9,6% untuk biodiesel dari Indonesia. Rida menjelaskan bahwa surat tersebut akan dikirimkan kepada kedutaan Uni Eropa yang berada di Jakarta.

\"Nantinya pengiriman surat protes tersebut akan dilakukan melalui Kementerian Perdagangan. \"Kami juga sudah menugaskan Kedutaan Besar RI di luar negeri untuk menyampaikan hal sama (ketidaksetujuan atas pengenaan pajak impor). KBRI diminta lakukan lobi,\" ungkap Rida di Jakarta, Senin (3/6).

Menurut dia, tuduhan dumping yang dilayangkan oleh Uni Eropa sangatlah tidak tepat. Karena yang menyebabkan lebih murahnya harga biodiesel Indonesia dibandingkan biodiesel yang diproduksi oleh Uni Eropa lantaran murahnya bahan baku sawit yang ada di Indonesia. \"Maka dari itu,sangatlah logis jika biodiesel kita lebih murah dari punya mereka. Jadi, bukan karena dumping,\" tuturnya.

Dia menuturkan, pemerintah bersama asosiasi dan perusahaan yang dikenai sanksi akan terus melakukan upaya hingga September 2013. \"Langkah berikutnya menunggu keputusan Uni Eropa apakah akan meneruskan kebijakan anti dumping tersebut atau tidak,\" jelas dia.

Sekadar informasi, Uni Eropa mengenakan tarif bea masuk anti dumping untuk biodiesel asal Indonesia dan Argentina. Sanksi tersebut diberikan karena kedua negara ini diduga menjual biodisel dengan harga rendah dari pasar Eropa, atau dikenal dengan praktik dumping. Uni Eropa bakal menerapkan tarif bea masuk anti dumping ini harus dibayar selama 6 bulan atau bisa diperpanjang hingga lima tahun.

Beberapa perusahaan seperti Molinos Rio de la Plata SA, Aceitera General Deheza SA dan Pelita Agung Agrindustri ditargetkan membayar pajak impor anti dumping sebesar 104,92 euro atau setara Rp 1,3 juta per metrik ton, naik sekitar 10,6%.

Akan Merugi

Sebelumnya, Wakil Menteri Perdagangan (Wamendag) Bayu Krisnamurthi menilai konsumen Uni Eropa (UE) akan merugi jika mengenakan bea masuk anti dumping sementara terhadap pengusaha biodiesel Indonesia. Pembatasan impor melalui pengenaan bea masuk anti dumping sementara sebesar 2,8% - 9,6% dinilai membuat UE kehilangan bodiesel yang kompetitif.

Indonesia merupakan salah satu negara produsen minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) terbesar di dunia dan produk turunannya. Biodiesel yang dipasok sepanjang 2011-2012 mencapai 1,5 juta ton untuk memenuhi kebutuhan pasar UE.

Namun, belakangan UE justru menambah bea masuk sebesar 2,8% - 9,6% terhadap produk biodiesel yang berasal dari Indonesia. Pemerintah Uni Eropa mengklaim serapan kapasitas produksi dalam negeri yang baru 50% disebabkan karena harga biodiesel Indonesia lebih murah. \"Harga jual biodiesel lebih rendah dari yang mereka gunakan, karena secara natural sawit kita memiliki keunggulan kompetitif (volume produksi besar). Rata-rata biodiesel lebih murah US$ 200 per ton,\" kata Bayu.

Sehingga, dari kacamata Kemendag, pengenaan bea masuk anti dumping sementara tersebut justru menyebabkan konsumen Uni Eropa sendiri merugi, kehilangan biodiesel yang kompetitif.

Tak hanya konsumen Uni Eropa yang merugi tidak mendapatan biodiesel dengan harga kompetitif, pengusaha biodisel Indonesia pun merugi dan kecewa dengan keputusan pemerintah UE tersebut. \"Kami sangat kecewa, dan tidak bisa menerima keputusan sementara pengenaan bea masuk. Namun begitu, kita akan ikuti proses sesuai prosedur seperti yang sampaikan Pak Bayu,\" kata Sekjen Asosiasi Produsen Biofuels Indonesia (Aprobi), Paulus Tjakrawan.

Menurut Paulus, keputusan tersebut jelas mempengaruhi ekspor pengusaha biodiesel Indonesia. \"Tentu ada perubahan yang lumayan besar,\" imbuh dia.

Penurunan ekspor terlihat dari kinerja empat bulan pertama 2013 yang menurun hingga 50%. Sebagai informasi, ekspor biodiesel Indonesia ke Uni Eropa per tahun mencapai 1,5 juta ton. Paulus mengatakan setidaknya selama 4 bulan awal 2013 berkurang sekitar 200 ribu ton. \"Tentu produsen akan menyesuaikan permintaan. Tapi jelas ini akan berkurang,\" pungkas dia.

Related posts