Peluang Pasar Regional dan Hambatan Regulasi

Peluang Pasar Regional dan Hambatan Regulasi

Pasar Asean sangatlah besar dan menjanjikan. Hal itu ditandai dengan besarnya total produk domesrtik bruto atau Gross Domestic Product (GDP) Asean yang mencapai sekitar US$ 2.327 miliar dengan jumlah penduduk sekitar 598 juta jiwa atau 8% penduduk dunia. Saat ini, mayoritas atau sekitar 99% perdagangan barang lokal Asean telah menikmati tariff 0% (zero tariff).

Hasil survei yang dilakukan Japan ASEAN Integration Fund (JAIF) pada 2012 menunjukkan, 73% para pelaku bisnis di Asean perpandangan bahwa integrasi Asean akan memberikan manfaat peningkatan ekonomi. Sebanyak 64 % kalangan publik meyakini bahwa integrasi Asean akan meningkatkan kondisi ekonomi secara keseluruhan.

Saat ini, Asean telah memiliki lima pakta perdagangan bebas atau free trade agreement (FTA). Kelimanya adalah dengan RRC (ACFTA), dengan Jepang (AJCEPA), Korea Selatan (AKFTA), dengan India (AIFTA), dan dngan Australia-New Zealand (AANZFTA). Awal tahun ini dimulai negosiasi Asean Framework for Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP) yang bertujuan membuat arsitektur ekonomi dengan melibatkan kawasan lain.

Sedang kerangka pembentukan Masyarakat Ekonomi Asean (AEC) 2015 akan mendorong masuknya investasi dan memudahkan pembentukan kerjasama usaha atau joint venture. AEC 2015 juga bertujuan untuk mewujudkan pasar tunggal dan basis produk regional, menciptakan kawasan berdaya saing tinggi, pembangunan ekonomi yang merata, serta terintegrasi dengan perekonomian dunia.

Posisi Indonesia

Lalu, bagaimana dengan posisi Indonesia saat ini di kawasan Asean? Nilai ekspor Indonesia masih di bawah Singapura, Malaysia, dan Thailand. Pada 2012, neraca perdagangan Indonesia di Asean mengalami defisit sebesar US$ 11,9 miliar. Defisit itu membesar dibanding pada 2011 yang besarnya US$ 8,6 miliar. Sedangkan peringkat daya saing Indonesia ada di urutan 50. Sedangkan empat negara Asean lainnya jauh di depannya. Singapura di urutan 2, Malaysia 25, Brunei 28, dan Thailand 38.

Direktur Industri Kecil Wilayah I Kementerian Perindustrian Roy Sianipar mengungkapkan, saat ini, pasar Asean yang masih terbuka lebar antara lain industri pertanian baik kakao, karet, dan sawit/CPO, perikanan, tekstil dan produk tekstil, kulit dan alas kaki, furniture, makanan dan minuman, pupuk dan petrokimia, permesinan, serta logam dan metal dasar. Sedangkan pasar lokal yang masih menjanjikan adalah otomotif elektronik, semen, garmen, alas kaki, makanan dan minuman, serta furniture.

Yang juga sangat penting adalah pengawasan terhadap kepatuhan terhadap Standar Nasional Indonesia (SNI), label, ingridien, kedaluwarsa, kesehatan, lingkungan, dan keamanan barang produksi. Pengawasan juga dilakukan terhadap peredaran barang, terutama impor yang tidak sesuai dengan ketentuan perlindungan konsumen, termasuk kewajiban penggunaan label manual berbahasa Indonesia. Kementerian Koperasi dan UKM menganggap perlu diterapkan instrumen anti-dumping dan countervailing duties atas importasi yang tidak fair.

Salah satu contoh masih adanya politik antidumping yang dikenakan terhadap produk ekspor Indonesia, yaitu ekspor sawit ke Eropa. Uni Eropa menerapkan bea masuk anti dumping hingga 9,6% terhadap biofuel hasil olahan sawit Indonesia. Untungnya, ekspor ke Eropa hanya 10-15% Paling banyak ke India, China, dan Pakistan.

Roy Sianipar menambahkan, , saat ini pengawasan terhadap produk impor masih sangat lemah. Nyaris pasar-pasar tradisional di Jakarta sudah dibanjiri produk China. Tak sedikit di antaranya yang masuk secara ilegal. Itu sebabnya harganya bisa lebih murah.

Serbuan produk asing tak hanya garmen. Separoh pasar sepatu domestik kini dikuasai produk impor. Secara terpisah, Ketua Umum Asosiasi Persepatuan Indonesia Eddy Wijanarko mengungkapkan, pasar domestik sepatu yang mencapai Rp 2,7triliun per bulan itu separuhnya dikuasai produk impor. Menurut dia, sepatu impor harganya bisa lebih murah karena mendapat dukungan penuh dari pemerintah negeri asalnya.

Program Wira Usaha

Untuk itulah, pemerintah banyak melakukan pelatihan-pelatihan usaha maupun mengadakan program pemasaran melalui berbagai pameran baik di dalam maupun ke luar negeri. “Kebijakan pemerintah mendorong sebanyak-banyaknya warga masyarakat yang menjadi wira usaha. Ada 17 kementerian dan lembaga pemerintah yang memilik program unuk mendukung Gerakan Kewirausahaan Nasional,” kata Menteri Koperasi dan UKM Syarifuddin Hasan.

Agar meningkat daya saing kita, Kementerian Koperasi dan UKM pun sudah memancangkan sejumlah program. Seperti membenahi infrastruktur dan ketersediaan energi, maupun pemberian insentip dalam bentuk pajak maupun non pajak. Kementerian juga mengembangkan kluster UKM dalam bentuk produk unggulan dengan pendekatan one village one product (OVOP).

Dari segi permodalan, Kementerian itu juga membuka akses pembiayaan dan pengurangan bunga, baik dari Kredit Usaha Rakyat (KUR), Kredit Ketahanan Pangan dan Energi, modal ventura, keuangan syariah, anjak piutang, hingga Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia. Dari aspek birokrasi, pemerintah juga berkehendak memperbaiki pelayanan publik, penyederhanaan peraturan, dan peningkatan kapasitas ketenagakerjaan.

Untuk mengamankan pasar domestik, perlu ditingkatkan pengawasan di perbatasan. Caranya, meningkatkan pengawasan ketentuan ekspor dan impor, penerapan sistem peringatan dini untuk memantau kemungkinan terjadinya lonjakan impor. Pemerintah juga memperketat penggunaan Surat Keterangan Asal Barang (SKAB). (saksono)

POSISI PERDAGANGAN INDONESIA DI ASEAN DAN DUNIA (US$)

No. Negara Perdagangan Asean Perdagangan dunia Ekspor Impor Ekspor Impor -----------------------------------------------------------------------------------

1. Brunei Darussalam 1.721,1 1.191,1 12.646.692 5.851.820

2. Kamboja 833,7 2.170,1 8.616.240 11.105.177

3. Indonesia 41.831.096 53.822.133 190.031.839 191.690.908

4. Laos 959,8 1.570,5 2.755.718 5.360.577

5. Malaysia 60.926.855 54.976.200 227.302.727 196.418.972

6. Myanmar 3.957,4 3.250,3 9.696.083 15.448.442

7. Filipina 9.804.383 14.953.912 51.995.238 65.386.399

8. Singapura 129.831.250 79.800.497 408.393.020 379.722.889

9. Thailand 56.732.360 56.732.360 229.544.513 247.575.852

10. Vietnam 13.504,8 20.793,2 123.164.427 124.009.490

sumber:Dikutip dari Kemenperind, dari Trademap, ASEAN Statistic(Trade With ASEAN for CLMV-Brunei using 2011 data)

Posisi Perdagangan Indonesia di Asean dan di Dunia (US$)

No.

Negara

Perdagangan Asean

Perdagangan Dunia

Ekspor

Related posts