BI Menilai Pertumbuhan Ekonomi Capai 6,1% - Mei Diperkirakan Deflasi

NERACA

Jakarta - Bank Indonesia (BI) memprediksi pertumbuhan ekonomi pada triwulan II 2013 sebesar 5,9%-6,1%. Hal itu tentu tergantung dari kebijakan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi yang rencananya akan dilaksanakan pertengahan Juni 2013 mendatang. Selain itu, bank sentral juga memprediksi, pada akhir Mei 2013, ekonomi mengalami deflasi sebesar 0,05% atau 5,41% secara year on year (yoy), atau sedikit lebih rendah dibandingkan deflasi pada April 2013.

\"Proyeksi kita untuk pertumbuhan triwulan kedua. Kalau tidak ada kenaikan harga BBM (pertumbuhan) 6,1%, kalau jadi naik 5,9%,\" kata Deputi Gubernur BI, Perry Warjiyo di Jakarta, Jumat (31/5) pekan lalu. Terkait dengan optimisme BI yang memproyeksikan pertumbuhan ekonomi sebesar 6,3% pada akhir 2013, Perry menuturkan bahwa hal tersebut disebabkan akan ada dorongan pertumbuhan dari aktivitas Lebaran dan jelang Pemilu 2014.

“Saya katakan, pada triwulan II dan IV ada kegiatan persiapan pemilu dan ada lebaran juga. Atas dasar perkiraan yang dahulu sudah disampaikan, maka tambahan pertumbuhan ekonomi dari aktivitas pemilu sebesar 0,13%,\" ujar Perry. Pada akhir tahun, ekspansi fiskal oleh Pemerintah juga biasanya akan meningkat. Prediksi pertumbuhan ekonomi sebesar 6,3% itu, lanjut Perry, juga belum memperhitungkan kenaikan harga BBM Bersubsidi.

Jika memasukkan asumsi kenaikan harga BBM Bersubsidi, pertumbuhan ekonominya sedikit lebih rendah. \"Kalau ada kenaikan harga BBM, seperti perkiraan yang sudah disampaikan oleh Pak Gubernur (BI, Agus Martowardojo) di DPR sebesar 6,2%, atau selisih 0,1% dari prediksi tanpa kenaikan harga BBM,\" terangnya.

Terkait deflasi, kata Perry, survey pemantauan harga yang dilakukan oleh BI di berbagai kota menunjukkan bahwa sampai dengan minggu ketiga masih deflasi 0,09%. “Kisaran kita deflasinya antara 0-0,9%. Jadi, 0,05% itu angka moderat inflasinya pada akhir Mei,\" kata dia. Adapun faktor-faktor terjadinya deflasi, yakni harga bahan pangan, seperti bawang merah, bawang putih, dan tomat, yang masih mengalami penurunan harga.

\"Untuk bawang merah deflasi 0,21%, bawang putih deflasi 0,12%, dan tomat 0,04%,\" ujar Perry. Dia juga mengatakan bahwa BI sendiri memang belum melihat adanya kenaikan ekspektasi inflasi pada bulan ini. Namun, untuk tiga bulan mendatang memang ada kecenderungan kenaikan ekspektasi inflasi.

\"Kami belum melihat ada kenaikan ekspektasi pada bulan ini, kalau kami lihat ekspektasi untuk tiga bulan ke depan memang ada kecendrungan naik dan itu berkaitan dengan ramadan dan juga faktor kenaikan harga BBM,\" kata Perry.

Sebelumnya, BI memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan II 2013 akan lebih rendah dibanding perkiraan sebelumnya, begitu juga pertumbuhan ekonomi sepanjang 2013. Perekonomian Indonesia di triwulan I 2013 tumbuh 6,02%, melambat dibanding triwulan sebelumnya yang tumbuh 6,11%, atau lebih rendah daripada perkiraan Bank Indonesia sebesar 6,2%.

Perlambatan produk domestik bruto (PDB) ini, menurut dia, diakibatkan oleh permintaan domestik yang menurun di tengah pemulihan ekspor yang masih terbatas. Konsumsi rumah tangga juga tumbuh melambat sejalan dengan menurunnya daya beli akibat inflasi bahan makanan dan meningkatnya ekspektasi inflasi terkait dengan ketidakpastian kebijakan subsidi BBM.

Untuk inflasi, BI juga memperkirakan akan terjadi lonjakan pada tahun ini menyusul rencana Pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi mencapai 7,76%. Prediksi lonjakan inflasi oleh bank sentral tersebut memang lebih tinggi dibanding asumsi Pemerintah, yaitu sebesar 7,2%. BI akan terus berperan aktif dan melakukan koordinasi secara maksimal dengan pemerintah untuk dapat menekan inflasi dengan melakukan langkah berbagai instrumen, seperti suku bunga, nilai tukar, dan kebijakan makro prudential. [ardi]

Related posts