Impor Sepatu Bakal Semakin Kencang di 2013 - Diprediksi Naik 15%

NERACA

Jakarta - Ketua Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo) Eddy Widjanarko menyatakan industri sepatu Indonesia mengungkapkan saat ini impor sepatu ke Indonesia semakin meningkat. Bahkan, tahun ini diprediksi impor sepatu akan naik hingga 15% dibandingkan dengan tahun lalu. Eddy berharap, pemerintah bisa membuat kebijakan yang bisa menahan impor sepatu ke Indonesia.

Adapun, China masih mendominasi pasar impor sepatu ke Indonesia. \\\"Apalagi, mengahadapi pasar tunggal ASEAN akan ada pemain yang kompetitif jadi pesaing seperti dari Vietnam, Kamboja dan Myanmar,\\\" katanya di Jakarta, akhir pekan lalu.

Salah satu yang diminta pengusaha sepatu Indonesia adalah pemerintah harus mencarikan jalan terbaik dalam pengambilan keputusan soal kenaikan UMR. Dia menilai, kenaikan UMR tahun ini tidak rasional atau bisa mencapai 30%. \\\"Kenaikan upah yang tidak rasional membuat industri sepatu terpukul,\\\" tegasnya.

Eddy juga mengatakan, sebenarnya sepatu buatan warga Indonesia sama dengan buatan negara-negara lain. Masing-masing mematuhi standar internasional. “Namun ada yang mengatakan kalau kelebihan produk kita adalah lebih rapi. Tetapi kalau mengenai kerapian, sebenarnya sepatu buatan Vietnam, Cina, sampai Malaysia rapi,” ujarnya.

Mengenai tren penjualan sepatu, lanjutnya, juga terus meningkat. Ia menuturkan, tren penjualan produk sepatu buatan Indonesoa terus positif. Pada empat tahun yang lalu, penjualannya mencapai US$ 1,6 miliar kemudian meningkat menjadi US$ 2,2 miliar , dan tahun 2012 lalu menembus angka US$ 3,3 miliar.

Kendala Produksi

Untuk itu, industri sepatu Indonesia seharusnya dipertahankan. Menurutnya, pemerintah memang banyak membantu industri sepatu Indonesia, namun kendala-kendala masih dihadapi. Dia mengaku masih menghadapi kesulitan saat impor kulit, sehingga produksi sepatu kulit menjadi sulit. Selain itu pihaknya masih harus menghadapi aktor-aktor seperti Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). “Kebijakan UMK juga memukul kami,” ucapnya.

Dia menjelaskan, saat pihaknya mengambil kebijakan UMP, ternyata ada kelompok lain yang tidak setuju lalu melakukan unjuk rasa. Padahal, lanjutnya, unjuk rasa membuat negara tdak bisa maju. Akibat kebijakan UMK yang dirasa berat, sedikitnya 44 ribu karyawan industri sepatu dipecat. Mereka diberhentikan oleh para pengusaha akibat tidak diperbolehkannya kebijakan outsourcing.

Tidak hanya itu, tambahnya, akibat kenaikan harga sepatu, banyak calon pembeli membatalkan pesanannya yang akhirnya pihaknya harus memecat karyawannya. “Dengan adanya kebijakn UMK ini diperkirakan penjualan turun 10%,” katanya.

Dia mencontohkan produk sepatu di Cibaduyut, Bandung, Jawa Barat kini dibanjiri Produk dari Cina. Belum lagi, dalam jelang masyarakat ekonomi ASEAN (AEC) yang sebenarnya bisa jadi peluang. Tapi, tambahnya, impor untuk industri sepatu menjadi sangat luar biasa besar. “Impor resmi pada 2012 sebesar US$ 800 juta, dan tahun ini diperkirakan naik 15%,” ucapnya.

Sedangkan untuk impor semi legal untuk industri sepatu Indonesia, lanjutnya, diperkirakan mencapai empat kali lipat dari jumlah impor legal atau sekitar 2 miliar dolar AS. “Permainan impor ilegal terletak di forwarding apalagi ketika orang dalam bisa diajak. Mereka mencari pihak-pihak yang bisa diajak bekerja sama,” ucapnya.

Akibat impor ilegal itu, tambahnya, kerugian yang diderita negara mencapai triliunan rupiah. Kemudian, negara-negara seperti Vietnam, Kamboja, sampai Myanmar kini menjadi basis baru impor sepatu. “Usaha Kecil Menengah (UKM) juga tidak dibina tapi dibinasakan. Izin untuk mendirikan sepatu juga banyak, yaitu melalui 170 tahap,” ucapnya.

Dia menginginkan pemerintah mempertahankan sekira 500 industri sepatu, bahkan terus dikembangkan. Dia berharap, pemerintah membuat batasan impor. Meski demikian, dia mengakui kalau pemerintah sudah memfasilitasi Teknologi bahan baku yang lebih baik, sampai bunga bank rendah.

Sebelumnya, Panggah Susanto mengatakan, Kementerian Perindustrian menantang para pelaku industri tekstil dan produk tekstil (TPT) dan alas kaki untuk meningkatkan daya saing, guna menghadapi era globalisasi. Dengan adanya globalisasi perdagangan dunia, industri TPT dan alas kaki ditantang untuk dapat terus meningkatkan daya saing dan mengoptimalkan eksistensinya di pasar gobal.

Menurut Panggah, dunia usaha harus mengambil sikap dan mencermati keadaan ini, karena sudah banyak perjanjian kerja sama baik itu bilateral maupul multilateral yang membebaskan bea masuk produk-produk dari negara lain. \\\"Free Trade Agreement (FTA) menyebabkan produk-produk dari negara mitra kerja sama lebih mudah untuk masuk ke pasar dalam negeri,\\\" ujar Panggah.

Related posts