Industri Hilir Baja Terhambat Tiga Masalah - Investasi Ditaksir Naik 6%

NERACA

Jakarta - Direktur Industri Material Dasar Logam Kementerian Perindustrian (Kemenperin), Budi Irmawan memperkirakan, investasi di sektor industri hilir baja hingga akhir tahun bisa mencapai 6% dan terhambat tiga masalah masalah kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi, kenaikan upah, dan kenaikan tarif tenaga listrik (TTL).

“Diproyeksikan, investasi untuk industri baja tumbuh 6% karena terhambat masalah ketidakpastian kenaikan harga BBM bersubsidi serta kenaikan upah minimum provinsi (UMP) maupun kenaikan TTL,” katanya di Jakarta, akhir pekan lalu.

Untuk investasi di sektor hilir baja, menurut Budi, masih didominasi oleh industri yang tradisional dan konvensional. “Investasi sektor hilir baja terdapat pada sektor konstruksi dan pembangunan infrastruktur sedangkan industri hulu baja belum ada investasi baru yang masuk,” paparnya.

Sedangkan Direktur Eksekutif The Indonesia Iron and Steel Industry Association (IISIA) Edward R. Pinem, mengatakan sektor industri baja pada kuartal II tahun ini akan tertekan seiring karena rencana kenaikan harga BBM bersubsidi oleh pemerintah. Meskipun ada peningkatan, tetapi pertumbuhan industri baja tahun ini masih kecil.

“Khusus kuartal II pelaku usaha baja akan menekan atau menunda kegiatannya sehingga berpengaruh pada penjualan. Meskipun industri baja diperkirakan masih lesu, namun pertumbuhan industri tahun ini masih lebih baik dibandingkan dengan tahun lalu,” ujarnya.

Edward menambahkan, untuk mendorong tumbuhnya industri dalam negeri, diperlukan adanya keberpihakan terhadap produk yang dihasilkan, khususnya industri material dasar logam. “Pemerintah harus meningkatkan perlindungan kepada industri baja dan mengurangi izin impor baja yang terlalu longgar karena mendistorsi pasar, sehingga memberatkan industri baja di dalam negeri apalagi di tengah kondisi yang belum membaik,” tandasnya.

Pabrik Baja

Sebelumnya Fosun International Limited, perusahaan manufaktur asal China, menggandeng PT Gunung Gahapi Sakti, anak usaha PT Gunung Garuda untuk membangun pabrik baja sistem tanur tinggi (blast furnace) di Medan, Sumatera Utara dengan kapasitas satu juta ton.

Dirjen Basis Industri Manufaktur Kementerian Perindustrian Panggah Susanto mengatakan pembangunan pabrik yang terdiri dari dua tahap dengan masing-masing kapasitas 500.000 ton tersebut menelan investasi sebesar US$200 juta. “Setiap tahap US$100 juta, ini dalam dua tahap,” kata Panggah.

Nantinya, perusahaan tersebut akan menggunakan bahan baku berupa iron ore pellet (bijih besi) untuk menghasilkan produk slab (baja setengah jadi) dan billet. Bahan baku tersebut akan diperoleh dari domestik, yakni dari Sumatera Barat dan Aceh.

“Produknya bisa digunakan untuk industri kapal, dan otomotif,” tambahnya. Saat ini, Fosun sedang dalam tahap negosiasi dengan Badan Kordinasi Penanaman Modal (BKPM).

Rencananya, proses pembangunan akan dimulai tahun ini. Pasalnya, pembangunan ini terkait dengan aturan hilirisasi mineral dan logam sesuai dengan UU No.4/2009 mengenai Mineral dan Batu Bara. “Yang secara kebetulan juga sudah ada dasar hukumnya, Kementerian Perindustrian sedang menyusun roadmapnya, jadi ini masuk dalam roadmap Kementerian Perindustrian,” jelasnya.

Menurutnya, Fosun memilih Gunung Gahapi sebagai partner bisnis lantaran Gunung Gahapi memiliki pasar baja di Indonesia yang cukup tinggi. Selain itu, saat ini di China masih ada pembatasan kapasitas produksi baja. “Dengan masuknya sejumlah pabrik baja, maka hal tersebut bisa mengurangi impor bahan baku,” ungkapnya.

Related posts