Konsumsi Domestik Kerek Inflasi Tinggi - DEFISIT PRIMER APBN AKAN TEKAN RUPIAH

Jakarta - Di tengah ketidakpastian kondisi ekonomi global, strategi pemerintah yang mengandalkan investasi dan konsumsi domestik untuk mengejar target pertumbuhan ekonomi 6,2% pada 2013 dipertanyakan kalangan pengamat dan akademisi. Pasalnya, strategi seperti itu dianggap belum mampu menangkal serbuan produk China yang masuk ke dalam negeri di tengah melemahnya ekspor Indonesia. Ancaman lainnya, adalah pelebaran defisit primer APBN diprediksi akan membuat kondisi nilai rupiah makin terdepresiasi terhadap dolar AS.

NERACA

Sementara itu, Organization for Economic Cooperation and Development (OECD) pekan lalu, merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia 2013 dari semula 6,1% menjadi 5,8%. Dampaknya, permintaan domestik diperkirakan masih tetap tinggi, tetapi ekspor ke negara-negara Asia akan menurun.

Di sisi lain, pemerintah mengkhawatirkan serbuan produk impor karena pelemahan ekonomi global, meski ekonomi Amerika Serikat sudah sedikit membaik. Pemerintah harus mengantisipasi serbuan produk seperti dari China yang tidak mampu mengekspor ke Eropa dan Amerika. Oleh karena itu, pasar domestik harus dijaga dengan mengisi produkdalam negeri yang tidak mampu diserap pasar ekspor.

Menanggapi hal tersebut, Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Prof Dr Ahmad Erani Yustika mengatakan, kalau pertumbuhan ekonomi yang ditopang oleh konsumsi masyarakat (domestik) memang tidak baik, karena tidak mempunyai fundamental yang kuat.

\"Seharusnya landasan ekonomi Indonesia harus didasari dari pertumbuhan sektor rill yang tinggi, bukan dari konsumsi masyarakat sehingga tidak akan mudah guncang ketika menghadapi perubahan faktor eksternal,\" ujarnya kepada Neraca, akhir pekan lalu..

Guru Besar FE Univ. Brawijaya itu memaparkan, pemerintah selama ini cenderung terlena dengan pertumbuhan ekonomi dalam negeri digerakan dari konsumsi masyarakat. Nah, saat krisis ekonomi sedang menghantui Eropa dan Amerika Serikat, seharusnya pemerintah segera mengalihkan tujuan pasar ekspor untuk menggenjot penerimaan dalam negeri.

Dalam kondisi ekonomi seperti ini, Erani menyarankan pemerintah agar segera memberikan mandat kepada Bank Indonesia (BI) untuk menjalankan pengaruhnya atas jumlah uang yang beredar dengan jalan menaikkan atau menurunkan suku bunga. Dengan menaikkan suku bunga setidaknya dapat mengurangi jumlah uang beredar. Sebaliknya jika suku bunga turun dapat menambah jumlah uang yang beredar. Jadi, politik diskonto sekarang benar-benar jadi taruhan BI.

Langkah kedua, menurut dia, pemerintah harus segera melakukan peningkatan produksi dan peningkatan jumlah barang di pasaran, kemudian mengubah kebijakan upah dengan menaikkan upah riil yang sudah memperhitungkan inflasi dan yang terakhir pengendalian dan pengawasan harga, misalnya pemerintah menetapkan kebijakan harga maksimum.

Kinerja APBN

Lambatnya pemulihan ekonomi global yang berdampak negatif pada kinerja neraca pembayaran membuat defisit keseimbangan primer meningkat. Dalam APBN-P 2013 keseimbangan primer mencapai defisit Rp 120,8 triliun, naik Rp 80,7 triliun dari posisi APBN 2013 yang tercatat Rp 40,1 triliun. Pemerintah memperkirakan keseimbangan primer baru kembali positif alias surplus pada tahun 2016 - 2017.

Menteri Keuangan Chatib Basri mengakui APBN-P 2013 terjadi defisit keseimbangan primer yang semakin melebar. \"Ini terjadi akibat penurunan di pajak, dan struktur pengeluaran yang terus meningkat,\" ujarnya kepada pers, Kamis (23/5).

Dia menjelaskan, dari sisi penerimaan terjadi penurunan di sektor perpajakan akibat turunnya kinerja sumber penerimaan pajak. Diantaranya penurunan harga komoditas ekspor yang membuat setoran pajak dari perusahaan eksportir menurun.

Sementara itu, di sisi pengeluaran, struktur belanja pemerintah tidak terlalu fleksibel, diantaranya karena ada kewajiban anggaran pendidikan 20% yang membuat anggaran belanja pendidikan terus meningkat seiring dengan peningkatan jumlah belanja. Alhasil, \"Ada masalah di keseimbangan primer. Ini yang akan saya kaji secara khusus,\" kata Chatib.

Keseimbangan primer adalah penerimaan dikurangi belanja di luar pembayaran bunga utang. Keseimbangan primer yang defisit, artinya untuk membayar cicilan bunga utang, pemerintah harus menarik utang baru. Keseimbangan primer merupakan indikator likuiditas keuangan negara pada periode tertentu.

Jika terjadi pelebaran defisit keseimbangan primer, menurut Chatib, dalam jangka pendek akan berdampak pada bertambahnya tekanan rasio utang pemerintah. Dalam konsep RAPBN-P 2013 disebutkan, rasio utang terhadap PDB Indonesia akan meningkat 0,37% menjadi 23,5%. Sebelumnya, dalam APBN 2013 rasio utang pemerintah terhadap PDB sekitar 23,13%. Namun, Chatib menilai rasio utang di bawah 24% dari PDB ini masih cukup aman.

Kurs Rupiah

Direktur Bank Pembangunan Asia (ADB) untuk Indonesia Edimon Ginting mengatakan, ada beberapa penyebab defisit neraca transaksi berjalan yang selanjutnya menyebabkan pelemahan kurs. Seperti pertumbuhan ekonomi terjadi akibat investasi, ini akan membutuhkan barang-barang modal impor. Kegiatan ekspor manufaktur Indonesia juga relatif meningkat juga membutuhkan bahan baku impor. Ini sinyal positif bagi ekonomi.

Hanya saja, perkembangan impor barang modal dan bahan baku tidak diikuti dengan melejitnya ekspor produk yang bernilai tambah, belum akan memperbaiki defisit transaksi berjalan. Ini karena ekspor Indonesia tetap didominasi komoditas primer yang tidak memiliki nilai tambah tinggi. Hal ini diperburuk lagi dengan peningkatan impor bahan bakar minnyak (BBM).

Neraca transaksi berjalan adalah memperlihatkan komposisi ekspor-impor, juga arus modal dan arus keluar. Jika ekspor melebihi impor dan arus modal masuk melebihi arus keluar, akan terjadi surplus, begitu juga sebaliknya. Neraca transaksi berjalan yang surplus akan mendorong apresiasi kurs. Dan sebaliknya akan terus menekan depresiasi rupiah.

Adalah lebih bila perekonomian domestik didorong porsi lebih besar sektor investasi. Dengan porsi investasi lebih besar diharapkan juga terjadi proses pendalaman struktur ekonomi. Akan tetapi, pendalaman struktur ekonomi ini tidak pernah terjadi secara signifikan. Mayoritas ekspor Indonesia juga didominasi komoditas ekspor primer. Ini sejak lama juga tidak ditangani dengan benar lewat kebijakan industrialisasi.

Sebelumnya, BI memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan II- 2013 akan lebih rendah dibanding perkiraan sebelumnya, begitu juga pertumbuhan ekonomi sepanjang 2013. Perekonomian Indonesia pada triwulan I-2013 tumbuh 6,02%, melambat dibanding triwulan sebelumnya 6,11%, atau lebih rendah prediksi BI yaitu 6,2%.

Perlambatan produk domestik bruto (PDB) ini, diakibatkan oleh permintaan domestik yang menurun di tengah pemulihan ekspor yang masih terbatas. Konsumsi rumah tangga juga tumbuh melambat sejalan dengan menurunnya daya beli akibat inflasi bahan makanan dan meningkatnya ekspektasi inflasi terkait dengan ketidakpastian kebijakan subsidi BBM.

BI mencatat, neraca pembayaran Indonesia sepanjang kuartal I-2013 mengalami defisit sebesar US$ 6,6 miliar, lebih tinggi dibandingkan defisit neraca pembayaran periode yang sama tahun lalu sebesar US$ 1,03 miliar. Defisit neraca pembayaran ini didorong oleh defisit pada transaksi berjalan sebesar US$ 5,3 miliar dan defisit transaksi modal dan finansial sebesar US$ 1,3 miliar.

Menurut staf khusus Menko Bidang Perekonomian Purbaya Y. Sadewa, mengatakan ada dua hal yang pemerintah perlu waspadai saat inflasi yang akan meningkat tajam seiring kenaikan harga BBM dan akan beriringan dengan kenaikan harga pangan. \"Pertama adalah belanja pemerintah yang perlu dibenahi dan kesiapan dari BI dalam menjaga moneter dan menetapkan kebijakan suku bunga,\" ujarnya, Sabtu.

Faktor yang kedua, lanjut Purbaya, dari sisi suku bunga. BI perlu menerapkan kebijakan suku bunga yang tegas kepada perbankan. Karena ketika BBM mengalami kenaikan maka akan berpengaruh terhadap inflasi sehingga nantinya berakibat kepada suku bunga kredit yang meningkat. \"Kalau ingin menaikkan suku bunga jangan terlalu tinggi. Batas maksimal untuk BI Rate 6,5%, karena jika terlalu tinggi, dapat membuat ekonomi melemah,\" ujarnya.

Inflasi yang akan terjadi setelah kenaikan harga BBM, menurut Wakil Ketua Apindo (Asosiasi Pengusaha Indonesia) Anton Supit, akan menyebabkan bunga bank meningkat. “Betul, bunga bank itu tidak bisa di bawah inflasi, tetapi bank jangan menambah cost of fund lebih tinggi seperti iming-iming hadiah mobil. Ini yang perlu dikurangi,” ujarnya.

Dia juga mengeluhkan perbedaan spread yang besar antara bunga deposito dan bunga kredit yang pada akhirnya memberatkan pengusaha.

Pengamat ekonomi UGM Sri Adiningsih mengatakan saat ini kondisi ekonomi di Indonesia sebenarnya mulai membaik, hanya saja pemulihan kondisi ekonomi dunia yangmasih lambat. \"Ketidak pastian kondisi ekonomi global itu dapat menyebabkan neraca perdagangan hanya surplus kecil, tahun politik juga mempengaruhi kondisi ekonomi nasional,” ujarnya sylke/iqbal/bari/iwan.

Related posts