Awal Pekan, IHSG Masih Dibayangi Aksi Jual

NERACA

Jakarta – Mengakhiri perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) Jum’at akhir pekan kemarin. Indeks harga saham gabungan (IHSG) ditutup anjlok 61,019 poin (1,19%) ke level 5.068,628. Sementara Indeks LQ45 jatuh 18,293 poin (2,13%) ke level 839,468. Derasnya dana asing yang keluar menjadi pemicu pelemahan indeks dan koreksi paling dalam terjadi pada saham-saham unggulan.

Menurut analis Panin Sekuritas, Purwoko Sarto, besarnya dominasi aksi jual investor asing menjadi hambatan penguatan indeks BEI. Karena itu, berikutnya indeks BEI Senin awal pekan diproyeksikan masih akan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah, “Diperkirakan IHSG BEI akan bergerak di kisaran 5.025--5.090 poin,”katanya di Jakarta akhir pekan kemarin.

Dia menambahkan, inflasi priode Mei 2013 yang disampaikan Badan Pusat Statistik (BPS) akan mewarnai aksi pelaku pasar saham untuk melakukan jual. Dijelaskannya, masih berlarutnya masalah kebijakan bahan bakar minyak (BBM) subsidi juga masih memberikan dampak negatif bagi pasar saham di dalam negeri.

Sementara Kepala Riset PT MNC Securities Edwin Sebayang mengatakan, relatif cukup besarnya jumlah investor asing yang melakukan aksi jual saham pada pekan kemarin mengimplikasikan tidak terlalu optimistis menghadapi pasar saham dalam beberapa waktu ke depan.

Meski demikian, lanjut dia, kembali menguatnya bursa AS dan Eropa, sedikitnya akan memberikan stabilisasi atas bursa saham Indonesia, “Perlu dicermati adalah melemahnya rupiah atas dolar AS dan lepas saham asing selama pekan ini,”ujarnya.

Pada perdagangan kemarin, tansaksi investor asing tercatat melakukan penjualan bersih (foreign net sell) senilai Rp 523,58 miliar di pasar reguler dan negosiasi. Aksi jual membuat tujuh dari sepuluh indeks sektoral di lantai bursa melemah.

Perdagangan berjalan cukup ramai dengan frekuensi transaksi mencapai 211.048 kali pada volume 8,993 miliar lembar saham senilai Rp 12,924 triliun. Sebanyak 151 saham naik, sisanya 137 saham turun, dan 79 saham stagnan. Volume dan nilai transaksi di lantai bursa melonjak tinggi berkat beberapa transaksi saham di pasar negosiasi yang dilakukan oleh beberapa broker seperti Credit Suisse Securities (CS), UBS Securities (AK) dan Kim Eng Securities (ZP).

Bursa-bursa di Asia menutup akhir pekan dengan mixed, rata-rata terjebak di zona merah. Hanya bursa saham Jepang yang bertahan di zona hijau hingga penutupan perdagangan. Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers di antaranya Astra Agro (AALI) naik Rp 650 ke Rp 19.500, Fastfood (FAST) naik Rp 400 ke Rp 13.400, Pembangunan Jaya (PJAA) naik Rp 350 ke Rp 1.770, dan Indo Tambangraya (ITMG) naik Rp 350 ke Rp 30.000.

Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Multi Bintang (MLBI) turun Rp 50.000 ke Rp 1,45 juta, Gudang Garam (GGRM) turun Rp 3.000 ke Rp 53.500, Unilever (UNVR) turun Rp 1.850 ke Rp 30.500, dan Telkom (TLKM) turun Rp 800 ke Rp 11.050.

Perdagangan sesi I, indeks BEI ditutup melemah 18,514 poin (0,36%) ke level 5.111,133. Sementara Indeks LQ45 melemah 6,594 poin (0,77%) ke level 851,167. Seperti perdagangan sebelumnya, aksi jual masih didominasi investor asing. Saham-saham unggulan yang pagi tadi sempat naik langsung terkena aksi ambil untung.

Perdagangan berjalan cukup ramai dengan frekuensi transaksi mencapai 100.389 kali pada volume 3,762 miliar lembar saham senilai Rp 4,456 triliun. Sebanyak 125 saham naik, sisanya 125 saham turun, dan 85 saham stagnan.

Bursa-bursa regional berjatuhan ke zona merah hingga siang. Padahal diawal perdagangan rata-rata masih bisa menguat. Hanya bursa Jepang yang masih bisa naik cukup tinggi. Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers di antaranya Indofood CBP (ICBP) naik Rp 600 ke Rp 13.350, Matahari (LPPF) naik Rp 450 ke Rp 13.500, Pembangunan Jaya (PJAA) naik Rp 350 ke Rp 1.770, dan Nipress (NIPS) naik Rp 350 ke Rp 9.050.

Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Gudang Garam (GGRM) turun Rp 1.500 ke Rp 55.000, Unilever (UNVR) turun Rp 850 ke Rp 31.500, HM Sampoerna (HMSP) turun Rp 750 ke Rp 86.750, dan Inti Bangun (IBST) turun Rp 400 ke Rp 5.500.

Diawal perdagangan, indeks BEI dibuka menguat 5,60 poin atau 0,11% ke posisi 5.135,25, sementara indeks 45 saham unggulan (LQ45) menguat 1,41 poin (0,16%) ke level 859,17, “Secara teknikal indeks masih dalam posisi konsolidasi paska \'rally\' penguatan dan kurangnya kelanjutan momentum posistif,\" kata analis HD Capital Yuganur Wijanarko.

Dia menambahkan, pergerakan bursa domestik juga seiring dengan peningkatan di kawasan Asia. Analis Samuel Sekuritas, Benedictus Agung menambahkan setelah mengalami koreksi cukup signifikan, bursa Asia termasuk indeks BEI dibuka menguat, “Penguatan IHSG BEI salah satunya didorong dari ekspektasi penempatan saham di Jepang masih akan tumbuh lebih baik,\" tambahnya.

Bursa regional, di antaranya indeks Hang Seng dibuka melemah 62,46 poin (0,28%) ke level 22.421,85, indeks Nikkei-225 naik 221,40 poin (1,63%) ke level 13.810,54, dan Straits Times melemah 29,54 poin (0,89%) ke posisi 3.306,69.=-i0

Related posts