Investor Asing Mulai Pesimis

NERACA

Jakarta-Hingga perdagangan kemarin, aksi jual (net sell) asing telah mencapai Rp 3.77 triliun. Hal tersebut mengindikasikan investor asing tidak terlalu optimis mengembangkan investasinya di pasar saham untuk beberapa waktu ke depan. “Asing berpikir perlu melakukan koreksi karena dipicu oleh kondisi bursa Asia, dan juga dari internal Indonesia saat ini yang tidak pasti.” Kata analis saham PT Remax Capital, Lucky Bayu Purnomo di Jakarta, Kamis (30/5).

Menurutnya, sebagai salah satu negara yang termasuk dalam kawasan Asia, Indonesia terkena imbas dari pelemahan bursa Jepang, Nikkei. Bahkan, sampai dengan kemarin, Indeks Nikkei melemah cukup dalam, yaitu sebanyak 737.43 poin atau 5,15%. Oleh karena itu, hal inipun akan ikut melemahkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). \"Dengan pelemahan Nikkei, sehingga investor asing juga berpikir investasi di Asia saat ini sedang tidak bagus dan rawan koreksi,\" ucapnya

Dari sisi internal, lanjut dia, kondisi yang terjadi akhir-akhir ini menunjukkan ketidakstabilan di dalam negeri sehingga dianggap cukup mengkhawatirkan untuk berinvestasi saat ini. Pemicunya, hingga kini perdebatan arah mengenai kebijakan menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) masih belum memberikan kepastian. Selain itu, juga adanya penunjukan menteri keuangan yang baru, belum akan memberikan kepastian dalam waktu dekat akan seperti apa perkembangan yang terjadi ke depan, apakah akan lebih positif, atau sebaliknya.

Oleh karena itu, Lucky menilai, investor asing masih akan melakukan koreksi ke depan sambil mencermati perkembangan dari kondisi bursa Asia. Utamanya, stabilisasi dalam negeri. “IHSG dimungkinkan mengalami pelemahan hingga minggu depan, dengan target tertinggi di level 5.240 dan terendahnya di level 5.000.” ucapnya.

Sementara itu, Kepala Riset MNC Securities, Edwin Sebayang mengatakan, kembalinya asing membukukan net sell sebesar Rp 1.44 triliun pada perdagangan kemarin, sehingga total net sell asing tercatat mencapai Rp 3.77 triliun dalam waktu empat hari, mengindikasikan investor asing tidak terlalu optimis menghadapi IHSG untuk beberapa waktu ke depan.

Hal tersebut, kata dia, seiring jatuhnya Indeks Nikkei sebanyak 737.43 poin atau 5,15% setelah semalam Wall Street dan Bursa Utama Eropa \"berguguran\" di tengah terus melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang sempat menyentuh Rp9.880. Melemahnya nilai tukar rupiah ini juga akan menjadi ancaman bagi emiten yang memiliki pinjaman besar dalam mata uang dolar. “Melamahnya nilai tukar rupiah atas dollar yang mencapai di atas level Rp9.800 sehingga ini berpotensi memberikan dampak buruk atas emiten yang punya utang besar dan berbahan baku dalam US dollar.” jelasnya.

Karena itu, lanjut dia, sangatlah bijak melakukan cash-out sebagian posisi portofolio terutama memasuki bulan Juni-Juli. “Ini menjadi sentimen negatif bagi perdagangan di Bursa Indonesia yang kemarin mengalami penurunan cukup tajam sebanyak 71.046 poin atau 1.36%.” ucapnya. (lia)

BERITA TERKAIT

Energi Mulai Produksi Gas di Blok Bentu

NERACA Jakarta — Di kuartal kedua tahun ini, PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) memastikan akan memulai produksi gas dari…

Gelar RUPSLB 2019, PT Pelayaran Tamarin Samudra Targetkan Lima Persen Sahamnya Dimiliki Investor Ritel

Jakarta, PT Pelayaran Tamarin Samudra Tbk (Perseroan) menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) di Jakarta, Kamis (2/5). Dalam…

Kejar Pertumbuhan Produksi - ANJT Mulai Operasikan Dua Pabrik Baru

NERACA Jakarta – Pembangunan dua pabrik PT Austindo Nusantara Jaya Tbk (ANJT) telah berhasil dirampungkan dan rencananya mulai beroperasi pada…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Pefindo Raih Mandat Obligasi Rp 52,675 Triliun

Pasar obligasi pasca pilpres masih marak. Pasalnya, PT Pemeringkat Efek Indonesia atau Pefindo mencatat sebanyak 47 emiten mengajukan mandat pemeringkatan…

GEMA Kantungi Kontrak Rp 475 Miliar

Hingga April 2019, PT Gema Grahasarana Tbk (GEMA) berhasil mengantongi kontrak senilai Rp475 miliar. Sekretaris Perusahaan Gema Grahasarana, Ferlina Sutandi…

PJAA Siap Lunasi Obligasi Jatuh Tempo

NERACA Jakarta - Emiten pariwisata, PT Pembangunan Jaya Ancol Tbk (PJAA) memiliki tenggat obligasi jatuh tempo senilai Rp350 miliar. Perseroan…