BRI Targetkan 400 Rekening Baru

Sponsori Indonesia Islamic Fashion Fair (IIFF) 2013

Jumat, 31/05/2013

NERACA

Jakarta – PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI menargetkan akan meraih sekitar 400 rekening baru sepanjang penyelenggaraan Indonesia Islamic Fashion Fair (IIFF) 2013 yang disponsorinya. Ajang tersebut berlangsung mulai kemarin Kamis (30/5), sampai Minggu (2/6) mendatang. Penyelenggaraan tahun ini merupakan yang keempat kalinya.

“Untuk event ini, kartu debit yang kami targetkan bakal diraih, dalam arti itu penabung baru dalam 4 hari ini, tidak terlalu muluk-muluk juga, paling tidak 300-400 rekening sudah bagus. Lalu, untuk kartu kredit juga tidak terlalu banyak, karena kita baru (merilis itu). Jadi orang yang disetujui apply kartu kreditnya, kita targetkan 100-150 kartu,” tutur Muhamad Ali, Sekretaris Perusahaan BRI, ketika ditemui di Jakarta, Kamis (30/5).

Jumlah kartu kredit BRI saat ini telah mencapai lebih dari 550 ribu kartu dengan rata-rata nominal transaksi per bulan sebesar Rp350 miliar, sehingga diharapkan pada akhir 2013 sudah bisa menyentuh Rp4,5-Rp5 triliun. “Kami optimis untuk target itu, karena hingga April 2013 lalu, nilainya sudah lebih dari Rp1 triliun,” ucapnya.

Dia menjelaskan kalau nasabah kartu debitnya sampai saat ini sudah berjumlah 42 ribu. Dan sudah ada 76 merchant yang bekerja sama dalam pemakaian kartu debit atau kredit BRI untuk belanja atau bertransaksi di tempat tersebut. “Artinya potensi kita luar biasa, sehingga mempermudah pemegang kartu BRI, baik debit atau kredit, apabila akan bertransaksi di sini (IIFF 2013). Dengan menggunakan kartu BRI, di sini akan ada satu gift atau poin tambahan, lalu juga bisa masuk gratis kemari. Jadi dari situ kita memberikan message kepada masyarakat bahwa bekerja sama dengan BRI itu akan memudahkan aktivitas, baik itu transaksi keuangan atau pun kegiatan yang lain,” jelasnya.

Khusus untuk industri fashion, kata dia, selain pinjaman, BRI juga memberikan kesempatan bagaimana dia dapat diakses oleh lebih banyak masyarakat. “Contohnya kita tampilkan dia ikut dalam pameran, kemudian kita support dia dalam bentuk EDC, sehingga sales-nya lebih dipermudah, terutama jika bergabung dengan kami kan ada beberapa program di mana hal tersebut bisa untuk menambah volume penjualan dari si debitur tersebut. Di IIFF 2013 ini, kita mengikutsertakan Escrava dan Gendhis, yang mana adalah mitra binaan kami,” katanya.

Ali menerangkan kalau dalam waktu dekat ini, BRI mempunyai rencana akan membawa nasabah UMKM-nya yang bagus untuk lebih sering berpameran di dalam maupun luar negeri. “Nasabah yang kita sebut usahanya bagus itu yakni yang mempunyai kesempatan menembus pasar lebih luas, baik itu di dalam negeri atau luar negeri. Lalu di samping mereka punya situs sendiri, akan dimasukkan di situs kita juga, sehingga bagi yang memasuki situs BRI, punya dia akan terakses juga,” terangnya.

Dia menuturkan dalam penyaluran kredit untuk industri fashion tersebut, di BRI terbagi atas beberapa jenis, yakni ada yang masuk industri mikro karena berbentuk industri rumahan, lalu kredit program pemerintah, dan lain-lain. “Untuk industri (fashion) yang kita maksud itu bisa industri rumahan, seperti konveksi, atau juga industri pendukungnya, seperti pabrik kancing. Itu besarnya 20% dari portofolio 75% kredit UMKM kita. Average pinjamannya terserah, tapi untuk fashion (kredit) kita terkecil Rp500 juta, terbesar bisa sangat besar,” paparnya.

Sementara, dalam penyaluran kreditnya, BRI selalu melakukan beberapa mekanisme untuk memeringkat si debitur. Ini supaya bisa mendapatkan debitur yang bagus dan memenuhi pembayaran cicilan kreditnya. “Kalau dalam hal seleksi nasabah (kredit), kami sudah melakukan itu (memeringkat nasabah). Dalam menilai nasabah, kita ada four eyes principal, kemudian ketika ingin menjaring nasabah kredit baru, kita ada yang namanya nasabah yang bisa dilayani dalam pasar sasaran. Jadi sebelum account masuk, kita sudah mapping dulu pasar sasarannya di mana. Setelah pasar sasaran itu ketemu, lalu ditentukan kriteria debitur yang bisa kami terima itu seperti apa, baru dari situ kita analisa,” ungkapnya.

Dalam membuat pemeringkatan, kata dia, BRI membaginya dalam beberapa grup, yang nasabah yang kinerjanya terburuk sampai terbaik. “Kita sudah membuat pemeringkatan itu untuk internal kita, yang mana sangat berguna bagi kita untuk melakukan pembinaan terhadap nasabah tersebut. Ini pembinaan apabila sales volume-nya dinaikkan, apakah dia memerlukan bimbingan yang lebih bagus lagi, karena mungkin pinjamannya agak tersendat. Jadi kita oke ada lembaga pemeringkatan kredit (dari BI), tapi dari internal sendiri, kita sudah punya pemeringkatan nasabah tersebut,” katanya.

Jika kinerja si debitur semakin bagus itu artinya volume penjualan dia juga semakin bagus, lalu dia patuh terhadap aturan dari BRI, serta proses bisnisnya juga berkualitas. Sedangkan debitur yang dikatakan buruk atau perlu perhatian khusus, yakni misalnya ada kenaikan harga BBM, usahanya bakal kena dampak tidak. Kalau memang terkena dampak, maka BRI akan coba antisipasi lebih awal.

“Kalau dia memburuk, kita pakai yang namanya restrukturisasi, baik dari jangka waktu, pinjaman, atau pun suku bunganya, di mana agar si debitur ini bisa kembali eksis. Contoh konkrit, kita akan melihat kalau hari ini misalkan si debitur dapat tingkat suku bunga satu bulan 100, tapi dia tidak mampu bayar segitu tapi hanya 25, kenapa tidak kita retract, coba kita buat dia bayar 25, yang 75 kita tunda dulu, sehingga dia tetap ada di posisi lancar dan bagus. Keputusan ini berdasarkan interaksi kita ke dia melalui petugas kredit kami. Sehingga dengan begitu, kita sudah melihat gejalanya, kalau dia memerlukan tambahan (waktu) kenapa tidak, kalau dia memerlukan perhatian lebih (dari BRI) ya akan kita bicarakan juga,” jelasnya.

Sehingga, menurutnya, perlu ada keterbukaan antara debitur dengan pihak bank, ketika usahanya menurun. Kalau usaha si debitur misalnya tutup karena disebabkan musibah, maka akan ada klaim asuransi dari BRI untuk meringankan bebannya. “Supaya kreditnya tetap bagus, maka kita lakukan komunikasi dengan baik kepada setiap nasabah, jadi kalau ada masalah mari kita selesaikan sama-sama. Lalu, adanya pemeringkatan debitur itu juga untuk memitigasi resiko, karena semakin tinggi atau rendah rating-nya pasti ada treatment berbeda, tujuannya supaya si debitur tadi juga mendapatkan pembinaan yang makin bagus oleh bank,” tutupnya.