Babak Baru Mobil Listrik

Jumat, 31/05/2013

Oleh: Munib Ansori

Wartawan Harian Ekonomi NERACA

Kehadiran mobil listrik untuk publik memang masih berada di angan-angan, nun jauh di sana. Tapi, setidaknya, pernyataan Menteri Riset dan Teknologi (Menristek) Gusti Muhammad Hatta di hadapan anggota Komisi VII DPR, Kamis (30/5), tentang program mobil listrik nasional yang terus berjalan, memberi sinyal bahwa harapan masyarakat untuk segera memiliki mobil listrik masih terbuka.

Bahkan, dari sorot mata Gusti yang begitu tajam kala menjelaskan target pemerintah memproduksi massal mobil listrik di 2015, proyek ambisius ini seperti tengah memasuki babak baru. Apalagi, salah satu tahapan paling mendasar yakni tahap penelitian baterai tengah dilakukan. Tahapan ini disebut tahap paling vital lantaran sumber daya dari mobil listrik banyak bergantung pada baterai. Setelah tahap ini rampung, dengan segala uji cobanya, pemerintah akan menyerahkan ke industri untuk diproduksi secara massal.

Entah proyek mana yang lebih dahulu, mobil listrik ala Menteri BUMN Dahlan Iskan atau mobil listrik binaan Menristek Gusti Muhammad Hatta, namun kedua belah pihak, paling tidak, telah berhasil memelihara harapan publik untuk memiliki mobil listrik. Toh, para ilmuan dan teknisi Indonesia sudah betul-betul menguasai teknologi kunci pembuatan mobil listrik, seperti seperti chasis, sistem elektronika, urusan alat charger.

Sedikit maupun banyak, selebrasi mobil listrik ala Dahlan Iskan beberapa waktu lalu telah menyadarkan beberapa kalangan bahwa negeri ini mampu membuat produk secanggih itu. Mobil listrik buatan Dasep Ahmadi dan kawan-kawan itu, kendati dinilai masih punya kekuarangan di sana-sini, patut didukung pemerintah.

Lebih-lebih, dari tangah terampil Ahmadi pula, pemerintah siap meluncurkan 8 bus listrik yang akan dipakai sebagai kendaraan khusus delegasi APEC di Bali, akhir bulan depan. Di tengah cibiran mengenai produksi mobil listrik, jika benar 8 bus listrik itu bisa sukses menjadi kendaraan pejabat lokal maupun mancanegara di pertemuan yang sangat prestisius itu, maka hal ini akan menjadi kredit luar biasa untuk pengembangan mobil listrik. Sebaliknya, jika proyek mobil listrik untuk kendaraan delegasi APEC ini gagal, boleh jadi sentimen negatif terhadap mobil listrik bakal semakin kencang berembus.

Selain lantaran minimnya animo dari raksasa otomotif di Indonesia, keinginan pihak swasta seperti Dasep Ahmadi yang ingin memproduksi mobil listrik Evina di akhir 2013 atau tekad industri swasta di Jawa Timur yang siap mengembangkan mobil listrik tahun ini, memang harus didukung penuh oleh pemerintah. Investasi, SDM, perdagangan, dan komponen-komponen bisnis di industri otomotif untuk produk mobil listrik ini mau tak mau harus diintervensi pemerintah.

Biar bagaimana pun, kehadiran mobil listrik bisa menjadi lentera bagi jiwa-jiwa yang risau terhadap konsumsi bahan bakar fosil yang terus meroket. Seperti kerapkali kita dengar, barga BBM subsidi yang murah di Indonesia diibaratkan pemerintah sebagai kenikmatan yang membawa sengsara karena membobol APBN. Itu sebabnya, kehadiran mobil listrik dengan segala lika-liku dan kekurangannya, diharapkan bisa menyumbangkan secuil solusi terhadap raksasa masalah berupa krisis energi.