Indonesia Perluas Kerjasama Dagang ke Rumania

Duduki Peringkat Ke-62 Tujuan Ekspor

Jumat, 31/05/2013

NERACA

Jakarta – Setelah beberapa negara seperti Kazakstan dan Ukraina yang diajak kerjasama dengan Indonesia, kali ini negara Eropa Timur yaitu Rumania yang akan diajak bekerjasama dengan Indonesia dalam bidang perdagangan dan investasi.

“Walaupun misi dagang ke Rumania baru pertama kali dilaksanakan, kami menilai Rumania sangat berpotensi untuk dijajaki dan diajak bekerja sama dalam bidang perdagangan dan investasi,” ungkap Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kementerian Perdagangan RI, Gusmardi Bustami dalam keterangan pers, Kamis (30/5).

Total perdagangan Indonesia dengan Rumania tahun 2012 adalah sebesar US$ 172,7 juta dengan tren (2008-2012) sebesar 25,81%. Pada tahun 2012, nilai ekspor Indonesia ke Rumania sebesar US$ 106,4 juta sementara nilai impor sebesar US$ 66,26 juta sehingga terjadi surplus untuk Indonesia sebesar US$ 40,2 juta. “Kami yakin bahwa angka ini dapat lebih ditingkatkan lagi melihat potensi yang dimiliki oleh kedua negara dan mengingat Rumania merupakan hub atau pintu masuk ke negara-negara Eropa Timur melalui pelabuhan lautnya yang terkenal, yaitu Constanta,” ungkap Gusmardi.

Ia menjelaskan bahwa Indonesia juga memiliki produk potensial yang dapat dikembangkan melalui kerja sama dengan pengusaha Rumania, seperti makanan dan minuman, komponen otomotif dan suku, produk spa, atau bahkan industri pertahanan. Pemerintah Indonesia mendorong eksportir lokal untuk memberikan nilai tambah yang lain dari produk-produknya. Upaya ini dilakukan untuk menghasilkan kegiatan bisnis yang lebih transparan dan akuntabel antara pengusaha lokal dan investor asing.

Adapun produk-produk ekspor utama Indonesia ke Rumania adalah karet, produk kimia, campuran lemak hewani dan nabati, kopi, serat pokok seperti lysine, headphone, earphones; peralatan radar, minyak kelapa, gulungan kawat, dan peralatan tv.

Saat ini, Rumania menduduki peringkat ke-62 sebagai negara tujuan ekspor Indonesia sedangkan Rumania menduduki peringkat ke-67 sebagai supplier ke Indonesia. Sedangkan diantara negara-negara di ASEAN, Indonesia berada di peringkat kedua setelah Thailand, dan disusul oleh Vietnam, Malaysia, Singapura, Filipina, dan Kamboja.

Kerjasama Dagang

Indonesia memiliki posisi yang sangat strategis. Saat ini, Indonesia merupakan negara dengan ekonomi terbesar ke-15 di dunia dan terbesar di antara negara-negara ASEAN. Selain itu, Indonesia bersama China dan India disebut sebagai negara paling tangguh selama krisis ekonomi global baru-baru ini.

Tidak hanya menjalin kerjasama dengan negara Eropa Timur ataupun Asia Tangah, Indonesia juga berusaha menjalin kerjasama dengan beberapa negara Amerika Latin seperti Brasil, Chile dan Peru untuk memperluas pasar Indonesia. Dengan begitu, pemerintah menargetkan ekspor ke negara Amerika Latin tersebut mencapai US$230 miliar.

Target misi dagang ke Amerika latin diharapkan dapat membuka peluang kerjasama perdagangan yang saling melengkapi antara Indonesia dengan ketiga negara tersebut, terutama di sektor keamanan energi, keamanan pangan dan keamanan lingkungan untuk jangka panjang.

Brasil, Chile dan Peru dipilih sebagai negara target karena beberapa hal, antara lain pertumbuhan perekonomian negara tersebut, nilai perdagangan bilateral dengan Indonesia, tren ekspor Indonesia ke negara tersebut dalam lima tahun terakhir, letak geografis dan konektivitas transportasi dan logistik yang berdekatan antara satu negara dengan negara lainnya, serta tren impor negara tujuan dari dunia dalam lima tahun terakhir.

Berdasarkan data tahun 2010, Indonesia mengalami defisit perdagangan dengan Brasil dan Chile, namun surplus dengan Peru. Ekspor Indonesia ke Brasil pada 2010 sebesar US$1,52 miliar, sementara impor Indonesia dari Brasil tercatat sebesar US$1,71 miliar. Sehingga Indonesia pada 2010 mengalami defisit sebesar US$1,78 miliar.

Ekspor Indonesia ke Chile pada 2010 sebesar US$192 juta, sedangkan impor Indonesia dari Chile sebesar US$1,23 miliar. Neraca Perdagangan Indonesia-Chile pada 2010 defisit untuk Indonesia sebesar US$1,04 miliar.

Neraca perdagangan Indonesia-Peru pada 2010 menunjukkan surplus bagi Indonesia sebesar US$73 juta. Ekspor Indonesia ke Peru pada tahun tersebut sebesar US$94 juta, sementara impor Indonesia dari Peru sebesar US$21 juta.