Industri Tekstil Ditantang Tingkatkan Daya Saing

Persaingan Perdagangan Dunia Kian Sengit

Jumat, 31/05/2013

NERACA

Jakarta - Kementerian Perindustrian menantang para pelaku industri tekstil dan produk tekstil (TPT) dan alas kaki untuk meningkatkan daya saing, guna menghadapi era globalisasi. "Dengan adanya globalisasi perdagangan dunia, industri TPT dan alas kaki ditantang untuk dapat terus meningkatkan daya saing dan mengoptimalkan eksistensinya di pasar gobal.

Demikian diungkapkan Dirjen Basis Industri Manufaktur Kemenperin, Panggah Susanto di Jakarta, Kamis (30/5). Menurut Panggah, dunia usaha harus mengambil sikap dan mencermati keadaan ini, karena sudah banyak perjanjian kerja sama baik itu bilateral maupul multilateral yang membebaskan bea masuk produk-produk dari negara lain. "Free Trade Agreement (FTA) menyebabkan produk-produk dari negara mitra kerja sama lebih mudah untuk masuk ke pasar dalam negeri," ujar Panggah.

Ia mengatakan, pemerintah akan terus mempertahankan keberadaan dan mendukung pengembangan potensi industri TPT dan industri Alas Kaki nasional melalui fasilitas pemberian insentif fiskal. Namun, lanjut Panggah, industri TPT, alas kaki dan penyamakan kulit masih memiliki banyak tantangan berupa masih didominasinya penggunaan mesin-mesin tua yang berusia diatas 20 tahun.

Panggah mengatakan, dengan mesin-mesin yang berusia di atas 20 tahun tersebut, selain menyebabkan konsumsi energi yang besar juga menyebabkan kecepatan dan kualitas produk menjadi kurang atau rendah."Permasalahannya adalah, persaingan akan semakin ketat dengan munculnya negara-negara kompetitor baru yang sudah mengadopsi teknologi yang canggih," tukas Panggah.

Industri TPT dan industri alas kaki merupakan andalan industri manufaktur Indonesia dan menyumbang ekspor sebesar US$ 12,46 miliar pada tahun 2012. Dengan nilai ekspor tersebut, Indonesia mampu memenuhi kebutuhan dunia sebesar 1,8 % untuk produk alas kaki, dan menyerap tenaga kerja yang cukup besar, di mana industri TPT menyerap 1,5 juta orang, sementara industri alas kaki menyerap 700 ribu orang.

Kontribusi Ekspor

Sementara itu, kontribusi ekspor untuk alas kaki dan penyamakan kulit sebesar US$ 3,5 miliar , dan untuk neraca perdagangan dalam waktu lima tahun terakhir surplus dengan rata-rata sebesar US$ 2 miliar dan neraca perdagangan TPT dalam lima tahun terakhir rata-rata mengalami surplus US$ 4,5 miliar.

Ketua Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Ade Sudrajat mengungkap data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan produksi tekstil mengalami penurunan hingga 17,86% pada kuartal I tahun ini.

Lebih jauh lagi Ade memproyeksikan pada kuartal II penurunan akan ditekan hingga 11% dan sampai akhir tahun bisa ditekan hingga 5% - 8%. "Secara keseluruhan pertumbuhan industri tekstil tetap menunjukkan pertumbuhan positif meski hanya 4%.

Data BPS menunjukkan pertumbuhan produksi industri manufaktur kuartal I 2013 mengalami perlambatan dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. "Pertumbuhan kuartal I tahun ini mengalami kenaikan sekitar 8,94% dari kuartal I-2012. Sementara itu pada kuartal I-2012 mengalami kenaikan sebesar 11,10% bila dibandingkan dengan kuartal I-2011," ujar Ade.

Adapun pada kuartal I-2013 produksi industri tekstil tercatat mengalami penurunan hingga 17,86% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Kemudian, tercatat juga turun 7,09% dibandingkan dengan kuartal IV-2012.

Cenderung Pesimis

Akan tetapi Sofjan Wanandi, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), menuturkan pihaknya cenderung pesimistis melihat target pertumbuhan industri pengolahan nonmigas atau manufaktur yang dicanangkan pemerintah sebesar 7,13% pada 2013.

Kendati demikian, target yang dinilai terlalu ambisius itu diharapkan mampu memicu dunia usaha untuk lebih produktif. Menurut Sofjan, sejumlah hambatan siap menggempur sektor industri manufaktur dalam negeri, mulai dari penaikan upah buruh, pengadaan bahan baku, membanjirnya produk impor, hingga tingginya biaya energi. "Sejumlah faktor tersebut berpengaruh signifikan terhadap kinerja industri dalam negeri," ujarnya.

Aneka tantangan tersebut dipastikan akan mengganggu dan menunda rencana ekspansi yang telah direncanakan sejumlah perusahaan. Sofjan menegaskan investor akan ragu-ragu menambah investasi di Indonesia karena pemerintah tidak memberikan kepastian terhadap sektor industri.

Di tengah tantangan itu, sejumlah sektor industri dinilai mampu menjadi kontributor utama pertumbuhan manufaktur, seperti industri otomotif dan makanan serta minuman. Sofjan menilai persaingan produk lokal dengan produk asing masih menjadi pekerjaan rumah yang harus digarap pemerintah. Oleh karena itu, pemerintah harus mampu mendorong kualitas produk dalam negeri dengan cara memberikan kemudahan-kemudahan bagi industri dalam negeri.