KKP : Produk Budidaya Laut Diminati Pasar Ekspor

Masih Kurang Dieksploitasi

Jumat, 31/05/2013

NERACA

Lombok Tengah - Budidaya laut (mariculture) saat ini masih belum tergarap dengan baik. Masyarakat masih menganggap budidaya di laut kurang menguntungkan. Padahal ada beberapa jenis ikan laut yang bernilai tinggi sehingga bisa dimanfaatkan untuk ekspor. Hal ini seperti diungkapkan Menteri Kelautan dan Perikanan Sharif C. Sutardjo saat melakukan kunjungan kerja di Desa Gerubuk, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), Kamis (30/5).

Sharif menjelaskan dengan luas indikatif potensi lahan pengembangan budidaya laut nasional luas 4,58 juta ha sampai dengan tahun 2011 baru dimanfaatkan untuk usaha budidaya sekitar 169.292 ha atau 3,69%. "Padahal banyak jenis ikan konsumsi yang mempunyai nilai jual tinggi. Diantaranya, ikan Kerapu, Bawal bintang dan Kakap putih merupakan komoditi ekspor yang banyak diminati pasar luar negeri," ucapnya.

Menurutnya, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) terus berupaya menggenjot produksi perikanan budidaya melalui optimalisasi pemanfaatan potensi budidaya, salah satunya adalah dengan mendorong percepatan pengembangan kawasan budidaya laut (mariculture). Prospek pengembangan budidaya laut khususnya pada area off shore mempunyai peluang besar sebagai alternative usaha yang prospektif bagi masyarakat pesisir.

"Diantaranya, KKP melalui Ditjen Perikanan Budidaya telah melakukan upaya strategis dalam mempercepat pengembangan kawasan budidaya ikan kerapu, yaitu melalui pengembangan model percontohan atau demfarm budidaya ikan kerapu di 10 Kabupaten," kata Sharif.

Di NTB, Sharif juga melakukan penebaran 30 ribu ekor benih kerapu bebek, kerapu macan dan kerapu hybrid di lahan budidaya PT. Bofa Marine Lombok Tengah. Menurutnya, usaha budidaya ikan kerapu menunjukan perkembangan yang menggembirakan. Terlihat pada sentra-sentra produksi benih kerapu yang secara rutin mendapatkan order dengan jumlah yang cukup besar.

Di samping itu munculnya beberapa perusahaan yang bergerak dalam budidaya ikan kerapu di beberapa daerah menjadi bukti bahwa peluang bisnis kerapu masih sangat prospektif ke depan. Sebagai gambaran tahun 2012 capaian angka produksi sementara untuk ikan kerapu sebesar 10.200 ton, sedangkan capaian produksi ikan kakap sebesar 6.100 ton.

Sedangkan sentra produksi kerapu masih didominasi oleh 10 Provinsi penghasil utama, yaitu Provinsi Sumatera Utara, Provinsi Kepulauan Riau, Provinsi Aceh, Provinsi Lampung, Provinsi Sulawesi Tenggara, Provinsi Jawa Timur, Provinsi Papua Barat, Provinsi NTB, Provinsi Maluku Utara dan Provinsi Maluku. “Hal ini sejalan dengan kebijakan KKP dalam mewujudkan capaian industrialisasi perikanan budidaya,” tegasnya.

Prospek NTB

Sementara itu menurut Dirjen Perikanan Budidaya, Slamet Subjakto, khusus Provinsi NTB, Ditjen Perikanan Budidaya telah mengalokasikan sebanyak 6 klaster atau 96 lubang dengan padat tebar 325 ekor per lubang, masing-masing tersebar di Kabupaten Lombok Tengah, Lombok Timur, Lombok Barat dan Bima.

Sejauh ini hasil monitoring terhadap demfarm ikan kerapu pada beberapa kawasan menunjukan perkembangan yang menggembirakan, ini terbukti selama pemeliharan 3,5 bulan tingkat SR masih mencapai >90% dengan ukuran ikan mencapai 80-100 gr per ekor. "Tujuan pengembangan demfarm ini adalah dalam rangka memperkenalkan model penerapan usaha budidaya ikan kerapu yang sesuai teknologi anjuran berbasis klaster. Diharapkan melalui pengelolaan demfarm berbasis berkelompok ini masyarakat akan mampu mengelola usahanya secara berkelanjutan," jelasnya.

Slamet menjelaskan, potensi area pengembangan budidaya laut (fin fish) di Provinsi NTB mencapai 2.642,37 ha dimana pemanfaatan sampai Tahun 2011 baru mencapai 115,03 ha dengan total produksi ikan kerapu pada tahun yang sama sebesar 256 ton, nilai ini mengantarkan NTB dalam jajaran 10 besar Provinsi penghasil ikan kerapu di Indonesia. Percepatan kawasan budidaya kerapu di NTB juga diarahkan dengan mendorong investasi bagi usaha ini pada kawasan-kawasan potensial.

Salah satu perusahaan yang telah berinvestasi dalam usaha budidaya ikan kerapu adalah PT. Bofa Marine tepatnya di Dusun Grupuk Desa Sengkol Kecamatan Pujut Kabupaten Lombok Tengah. “Pihak perusahaan berkomitmen untuk berinvestasi di budidaya kerapu, karena menilai peluang usaha budidaya laut sangat menjanjikan,” ujarnya.

PT. Bofa Marine, tambah Slamet, telah menerapkan teknologi KJA menggunakan HDPE (High density Polyethilen) diharapkan akan memperoleh beberapa kelebihan diantaranya lebih ramah lingkungan. Teknologi ini juga dinilai lebih efektif dalam pengelolaan, mempunyai daya tahan lama terhadap gelombang sehingga dapat lebih produktif dibanding KJA konvensional, dan dari segi penataan tata letak lebih rapih dan lebih fleksibel. "Tahap awal perusahaan sudah mengembangkan sebanyak 60 lubang dengan ukuran perlubang 4x4x3,5 meter, dengan padat tebar sebanyak 500 ekor per lubang," katanya.

Kerapu, tegas Slamet mempunyai harga tinggi. bayangkan untuk jenis ikan kerapu bebek ditingkat pembudidaya dibandrol dengan harga Rp. 350 ribu per kilogram, sedangkan dtingkat eksportir mencapai Rp. 500 ribu per kilogram. Lain halnya dengan jenis ikan kerapu macan rata-rata ditingkat pembudidaya dibandrol dengan harga Rp. 120 ribu per kilogram. Untuk itu, dengan masuknya PT. Bofa Marine ke NTB, maka akan diikuti para investor lain, sehingga akan semakin mampu mendorong peningkatan produksi ikan kerapu nasional secara signifikan.

"Usaha budidaya kerapu membutuhkan investasi besar dan membutuhkan jangka waktu pemeliharaan yang lama (8 s/d 12 bulan). Dengan masuknya investor, diharapkan akan mampu membangun kemitraan dengan masyarakat sekitar melalui pola segmentasi usaha," jelasnya.

Menurut Slamet, selain kerapu, ada beberapa jenis ikan yang juga nilai ekonominya tinggi. Diantaranya, Kakap Putih dan bawal bintang (Pompano). Saat ini teknologi pembenihan dan pembesarannya telah mampu dikuasai dan mulai berkembang di masyarakat. Sentra produksi ikan kakap tersebar di 10 Provinsi penghasil utama antara lain : Kalimantan Timur, Kepulauan Riau, Sumatera Utara, DKI Jakarta, Maluku Utara, Aceh, Kalimantan Barat, Jawa Timur, Jawa Barat dan Sulawesi Selatan.

Sedangkan budidaya ikan bawal bintang telah mulai berkembang di Batam, Bintan, Lombok,Bali dan daerah lainnya. Saat ini permintaan Bawal bintang untuk memasok kebutuhan restoran sudah meluas. “Untuk di Lombok saja permintaan rutin selalu datang dari Bali sebagai pasar utama. Walaupun harga bawal bintang tidak semahal kerapu, yaitu berkisar 50 rb rupiah per kilogram, namun karena masa pemeliharaan yang tidak terlalu lama, menjadikan komoditas ini cukup diminati oleh masyarakat pembudidaya,\" tambahnya.