Malaysia-Singapura Tak Mau Terapkan Azas Resiprokal - Perbankan Dalam Masyarakat Ekonomi ASEAN

NERACA

Jakarta – Dalam Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) yang akan dimulai pada 2015 mendatang, khususnya ASEAN Banking Intergration di 2020, malah akan lebih memuluskan lagi jalur bank asing untuk semakin banyak masuk ke dalam negeri. Khususnya bank-bank dari regional Asia Tenggara yang mengatasnamakan ASEAN.

“The only way mereka (bank-bank dari negara ASEAN lainnya) expand hanya ke Indonesia, karena hampir pasti bank-bank di luar akan happy bisa masuk pasar yang tidak jenuh, tapi dengan memakai framework ASEAN. Seharusnya kalau memang mau menuju integrasi ASEAN di bidang perbankan yang sempurna, maka tidak boleh pakai nama ASEAN untuk mencaplok pasar yang lebih baik,” kata Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF), Bambang Brodjonegoro, ketika ditemui beberapa waktu lalu di Jakarta.

Integrasi perbankan di ASEAN itu akan termaktub dalam ASEAN Banking Integration Framework (ABIF), namun tutur dia, ABIF ini masih sebatas konsep saja. “Walaupun Bank Negara Malaysia sangat mendorong supaya ABIF ini bisa total, tapi Indonesia belum terlalu aktif di situ. Asas resiprokal itu harus diperhatikan supaya ABIF bisa menjadi konsep yang fair. Kita jangan bertarung dengan regulasi antar negara ASEAN, tapi bagaimana peraturan di masing-masing negara itu saling menguatkan dengan terintegrasi,” tuturnya.

Menurutnya, lebih baik MEA itu dilihat sebagai peluang memperkuat sektor keuangan di Indonesia agar menjadi kompetitif di regional Asia Tenggara. “Tapi the market is still here, jadi aktivitas keluar itu hanya untuk berhubungan dengan masyarakat internasional, bukan untuk benar-benar ekspansi ke sana,” ujarnya.

Bambang menjelaskan, jikalau memang perbankan lokal benar-benar ingin ekspansi keluar negeri, maka perlu ada proteksi tersendiri dari pemerintah. “Karena bank dari Indonesia yang mau masuk Singapura dan Malaysia itu hanya dua sampai tiga bank. Tapi bank dua negara itu yang masuk ke sini memang jumlahnya sedikit, namun size-nya besar. Konteks ke ASEAN Banking Integration tetap kita dukung, tapi jangan sampai tujuan jadi tuan rumah di negara sendiri tidak tercapai,” jelasnya.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Hatta Radjasa, juga pernah menerangkan bahwa ASEAN Banking Integration itu baru akan terlaksana pada 2020, jadi saat ini baru bicara Term of Reference (TOR)nya saja. “Jadi pembicaraan itu dilakukan oleh perwakilan perbankan kita dengan perbankan sana, jadi dia belum masuk score card MEA yang sampai sekarang sudah 80% itu. Karena itu masih memerlukan waktu. Toh disparitas negara-negara ASEAN itu belum begitu siap, terutama lima negara ASEAN yang baru akhir-akhir bergabung. Score card itu meliputi hal yang berkaitan dengan barang, jasa, investasi, capital, termasuk skill labour,” imbuhnya.

Menurutnya, sebelum masuk ke dalam ASEAN Banking Integration tersebut, asas-asas resiprokalitas harus diterapkan oleh masing-masing negara. “Ingat ya, kita ini adalah 40% dari kekuatan ASEAN. Di kawasan ini size-nya itu US$2,2 miliar, dan Indonesia memenuhi 40% dari itu. Jadi orang akan menyerbu kita, apalagi konsumen kelas menengah kita makin meningkat. Maka kita merupakan pasar yang bagus, terutama untuk perbankan, jadi harus resiprokal. Supaya jangan sampai kita susah untuk membuka cabang di sana,” ucapnya.

Sementara itu, Asisten Gubernur BI, Mulya E. Siregar, mengungkapkan bahwa dalam proses pembicaraan atau diskusi ABIF tersebut, dua negara yang memiliki bank-bank terbaik di ASEAN, yakni Singapura dan Malaysia, seringkali menghindar, terutama jika ingin diciptakan perjanjian kerjasama multilateral, karena mereka hanya ingin kerjasama bilateral saja.

“Misalnya untuk penentuan ASEAN Qualified Bank (AQB), kita ingin yang multilateral, misalnya mana dari negaramu yang jadi AQB itu berdasarkan keputusan semua negara di ASEAN, tapi dua negara itu maunya bilateral saja. Jadi mereka bisa menentukan mana bank kita yang bisa masuk ke negaranya, dan mana bank mereka yang boleh masuk ke sini, tapi dengan kesepakatan antar dua negara saja. Padahal kalau mau integrasi ASEAN berarti semua harusnya diajak memutuskan. Maka kita harus berhati-hati ketika berunding dengan dua negara ini,” tukasnya.

Mulya mengutarakan kalau dalam ABIF itu ada konsep Two Plus X, yaitu dua negara ikut serta baru negara lainnya masuk juga. Di sini ada prinsip resiprokal, outcome driven, readyness, inklusif, dan transparan. “Kita sedang mempersiapkan ABIF untuk meningkatkan daya saing, maka kita menyempurnakan regulasi-regulasi yang berkelanjutan ke depannya. Juga kita harus perhatikan efisiensi, ketahanan, kemampuan intermediasi, dari perbankan kita di dalam negeri,” tutupnya.

Related posts