Pasar Iklan di Indonesia Menggiurkan

Jumat, 31/05/2013

NERACA

Jakarta – Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang cukup tinggi dibandingkan dengan negara maju lainnya berimbas kepada pasar iklan. Ketua Kemitraan Luar Negeri Persatuan Pengusaha Periklanan Indonesia (P3I), Maya Carolina Watono menilai pasar iklan Indonesia sangat menggiurkan untuk menarik para investor asing. Hal itu tidak terlepas dari pertumbuhan ekonomi yang cukup baik.

Untuk menunjang pasar iklan di Indonesia, Maya mengatakan, P3I akan mempelajari lebih mendalam segmen-segmen usaha di Nusantara. “Ini sangat penting guna memetakan konsep iklan Indonesia ke depannya. Tentunya kami juga akan mempelajari konsep iklan di luar negeri," ucap Maya di Jakarta, Rabu (29/5).

Dia menyebutkan, anggaran belanja iklan banyak brand di Indonesia tahun lalu mencapai angka Rp107 triliun. Untuk tahun ini P3I menargetkan angka hingga Rp 124 triliun. Menurut data P3I tahun 2011, sepanjang tahun 2010-2011 belanja iklan di Indonesia mengalami peningkatan sebesar 100%. “Hampir 66 persennya berasal dari iklan televisi," ujar Maya.

Ketua Pengembangan Out of Home Advertising P3I, Handoko Hendroyono, mendukung hal tersebut. Maka dari itu, P3I akan menjadi akselarator bagi para brand daerah dan produk pertanian. "Program ini kami sebut paradesa," ucap Handoko.

Ke depannya, Handoko menambahkan, program ini difokuskan pada kolaborasi dengan berbagai pihak untuk pemberdayaan brand-brand daerah dan hasil produksi pertanian. Handoko berharap dengan adanya program paradesa tersebut, P3I mampu menjadi motor penggerak untuk menyongsong pasar terbuka ASEAN.

Sementara itu, Ketua Asosiasi Biro Periklanan Indonesia Harris Thajeb menilai bahwa bisnis untuk iklan digital akan mengalami masa keemasannya pada 2014 karena ada perhelatan besar yang akan terjadi, pemilu dan Piala Dunia. "Internet, khususnya media sosial, akan menjadi salah satu sarana akses berita utama masyarakat pada 2014," ucap Harris.

Menurut Harris, pemilih pemula yang masih berusia 17-20 tahun merupakan target pemilih yang banyak dibidik oleh partai politik. "Mereka adalah generasi melek internet, otomatis kampanye akan memakai media ini," Harris menambahkan. Saat ini, Indonesia memiliki pasar ponsel cerdas terbesar di Asia Tenggara dan 50 persen pengguna internet mengaksesnya melalui perangkat selular mereka.

Bisnis iklan digital sendiri saat ini selalu berkembang setiap tahunnya, walau angkanya belum signifikan. Hal ini membuat para pelaku bisnis di bidang ini optimistis tentang perkembangannya. "Untuk berhasil dalam bisnis ini, semua pihak harus bekerja sama, mulai dari operator hingga agensi," ujar Wijaya Santosa, Kepala Bidang Mobile Advertising XL Axiata. Saat ini, XL mencatat dari 45 juta konsumen, 50 persennya menggunakan ponsel cerdas.

Saat ini, jumlah belanja iklan untuk media digital sebesar 1 persen dari total belanja iklan yang senilai Rp 127 triliun. Menanggapi angka ini, pendiri ad2c, Anuj Khanna Sohum, mengatakan dalam dua tahun pihaknya akan membuat angka tersebut naik 10 kali lipat.

Ekspor Ikan

Tahun 2013, nilai ekspor hasil perikanan Indonesia ditargetkan dapat mencapai US$ 5 miliar. Untuk mencapai target tersebut, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) tetap konsisten membangun jaringan dan dukungan dari para pelaku usaha, pemerintah daerah, asosiasi, komisi hasil perikanan dan unit pengolahan ikan yang tersebar di seluruh Indonesia. Demikian ditegaskan Menteri Kelautan dan Perikanan, Sharif C. Sutardjo, dalam keterangan persnya yang dikutip Neraca.

Salah satu strategi pemasaran hasil perikanan yang direkomendasikan KKP adalah dengan tetap mempertahankan dan meningkatkan ekspor hasil perikanan Indonesia ke pasar utama atau pasar produktif. Negara-negara seperti Amerika Serikat (AS), Jepang dan Uni Eropa yang nilai ekspor RI mencapai 63,19% tahun 2012, harus menjadi target utama. Untuk pasar prospektif lainnya yaitu Asia Tenggara dan Asia Timur menjadi prioritas berikutnya, di mana pada tahun 2012 nilai ekspor RI mencapai 25,93%.

Sedangkan pasar potensial seperti Timur Tengah dan Afrika yang nilai ekspornya masih relatif kecil yaitu 5,49%, juga harus tetap dibangun. “Kami yakin dengan saling bersinergi di antara semua stakeholder dapat mendukung industrialisasi kelautan dan perikanan, untuk pencapaian target ekspor US$ 5 miliar,” kata Sharif.

Untuk memenuhi kebutuhan pasar dalam negeri dan ekspor, tegas Sharif, KKP harus mampu meningkatkan produksi perikanan Indonesia baik dari perikanan budidaya dan perikanan tangkap maupun di sisi hilir. Dalam upaya peningkatan produksi, pengolahan dan pemasaran, masih banyak tantangan dan kendala yang dihadapi. Di antaranya, seperti permodalan, listrik, logistik, sarana dan prasarana masih ada beberapa kekurangan. Dari sisi industri, masih diperlukan organisasi pelaku usaha yang kokoh dan solid.