Investasi Dinilai Asing Mampu Dongkrak Saham Indonesia

NERACA

Jakarta - The Institute of Chartered Accountants in England and Wales (ICAEW) mengeluarkan laporan terbaru yang menunjukkan bahwa para investor asing mengalirkan dananya ke pasar saham ASEAN untuk imbal hasil yang menjanjikan, sementara harga saham Indonesia naik hampir 20% dalam kurun waktu 12 bulan sampai dengan Maret 2013.

ICAEW melaporkan hasil studi terbarunya berjudul Economic Insight: South East Asia yang ditulis oleh Cebr (The Center for Economics and Business Research), mitra ICAEW sekaligus pengamat perekonomian. Penelitian yang digagas oleh ICAEW ini memberikan gambaran terkini kepada 140.000 anggotanya mengenai performa ekonomi di kawasan Asia Tenggara. Laporan tersebut dibuat berdasarkan evaluasi perekonomian per-kuartal di kawasan ini, khususnya lima negara terbesar, yaitu Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura dan Thailand.

Hasil studi tersebut menunjukkan bahwa meningkatnya harga saham saat ini masih bisa mengalami perubahan “Stagnasi yang terjadi di berbagai negara industri merupakan indikasi bahwa para investor tengah beralih ke negara-negara emerging market untuk imbal hasil yang lebih tinggi. Bursa saham ASEAN berhasil memicu pergerakan investasi tersebut sehingga harga saham pun melangit. Akan tetapi tingkat pertumbuhan yang kami lihat di beberapa negara – 20% di Indonesia dan 34% di Filipina – tidak bersifat berkelanjutan, dan bisa menjadi awal terciptanya bubble,” kata Economic Advisor ICAEW yang juga Head of Macroeconomics Cebr, Charles Davis, lewat siaran pers yang diterima Neraca, Rabu (29/5).

Davis mengatakan, kondisi investasi pasar yang menguat juga dibarengi oleh kemampuan perusahaan dan rumah tangga untuk mendapatkan nilai utang yang lebih tinggi. Meskipun rasio utang terhadap penghasilan mengalami penurunan hingga tahun 2010, namun proyeksi positif telah mendorong sektor swasta untuk meningkatkan nilai pinjaman yang dikeluarkan, yang saat ini berada di kisaran 120-130% untuk Singapura, Thailand dan Malaysia.

Sementara Regional Director ICAEW Asia Tenggara Mark Billington mengatakan bahwa tingkat utang di kawasan ini masih dapat dikendalikan selama proyeksi pertumbuhannya positif.

“Sementara ini, tingkat utang tersebut berada di kisaran separuh dari puncaknya pada saat krisis melanda Asia. Keadaan ini masih bisa diterima, namun akan menimbulkan masalah ke depannya apabila pertumbuhan kredit berlanjut dan melampaui laju pertumbuhan angka Produk Domestik Bruto (PDB) yang ada sekarang,” jelas Mark.

ICAEW memproyeksikan pertumbuhan untuk Indonesia dan ASEAN secara keseluruhan baik. Namun pengambilan keputusan harus dilakukan dengan sangat hati-hati untuk memastikan bahwa pertumbuhan kredit dan arus investasi yang masuk ditujukan untuk sesuatu yang menghasilkan dan bukan potensi bubble.

Dalam laporan ini juga disebutkan bahwa krisis global mulai mempengaruhi emerging market. Cina telah menurunkan tingkat investasinya, Brazil tengah berjuang untuk mengendalikan inflasi dan meningkatkan hasil produksi, dan Rusia yang kaya dengan minyak dan gas nampaknya mulai kekurangan energi untuk pertumbuhan di masa mendatang. Menurunnya pertumbuhan emerging market, bersamaan dengan tertekannya perekonomian negara Barat, berakibat pada menurunnya harga komoditas dan mempengaruhi pendapatan ekspor para produsen yang kebanyakan berasal dari negara berkembang.

Aset emerging market, termasuk di kawasan ASEAN, merasakan keuntungan dari rendahnya imbal hasil Surat Utang Negara. Rendahnya imbal hasil dari surat utang yang diterbitkan pemerintah membuat para pemilik modal beralih ke aset emerging market. Ditambah dengan pertumbuhan kredit, maka hal ini akan memicu inflasi dan gelembung meskipun saat ini kondisi pasar tampak sehat karena pemerintah mengawasi pasar perumahan dan ekuitas dengan sangat ketat.

Laporan ini juga menyebutkan bahwa kebijakan keuangan yang modern bisa muncul dan menyulitkan para investor Stimulus (Quantitative easing/QE), mengganggu sinyal pasar, dan mengarah kepada kesalahan perhitungan risiko. Hal ini berarti banyak investor akan menghadapi kerugian tak terduga ketika muncul krisis selanjutnya. Rendahnya nilai uang juga menyebabkan inflasi harga komoditas yang merupakan pukulan terhadap daya beli rumah tangga di seluruh dunia. Sejauh ini ASEAN telah merasakan manfaat masuknya uang ke dalam kawasan ini, namun apabila arus uang tersebut akhirnya berbalik, tentu akan ada dampak yang dirasakan juga.

Related posts