PLN Restui Ekspor Batubara Kena Pajak

Kamis, 30/05/2013

NERACA

Jakarta – PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) (Persero) menyetujui jika ekspor batubara dikenai pajak. Dengan demikian, pemasukan devisa negara akan lebih optimal di samping pemasukan dari sektor lainnya. "Batubara itu kan milik nasional. Jadi kalau mau diekspor ya memang harus kena pajak. Kalau sekarang masih belum kena pajak. Kalau ingin harga batubara naik maka kurangi produksi," kata Kadiv Batubara PLN Helmi Najamuddin di Jakarta (29/5).

Helmi mengungkapkan, bahwa hingga kini, PLN masih menjadi pembeli batubara terbesar di Indonesia. Dalam catatan Hipmi, hasil produksi batubara nasional yang mencapai 370 juta ton pada tahun ini. Namun sekitar 40 persennya telah diekspor.

Lanjut Helmi, pemerintah telah mengestimasi kebutuhan batubara untuk kepentingan dalam negeri di 2013 sebesar 74.320 ton dengan rincian 60,49 juta ton untuk kebutuhan PLTU 0,74 juta ton untuk metalurgi dan untuk industri tekstil, semen, pupuk dan pulp mencapai 13,09 juta ton. "Ke depan porsi batubara untuk kebutuhan dalam negeri harus lebih banyak lagi," tukasnya.

Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia (APBI) menyatakan produksi batubara Indonesia pada triwulan pertama 2013 mencapai 93 juta ton. Ketua APBI Bob Kamandanu mengatakan secara umum produksi ini naik sekitar 2% hingga 3% di atas produksi 2013. "Produksi yang meningkat tinggi sampai 20 persen untuk batubara kualitas menengah ke bawah, yang banyakGAR (Gross as Received) 4.200 dan GAR 3.800 jugasudah mulai kencang. Kalau 4 tahun sampai 5 tahun terakhir itu yang banyak dicari " kata Bob Kamandanu.

Bob mengatakan daritotal produksi batubara pada triwulan pertama 2013,sekitar separuhnya adalah batubara kualitas rendah. Batubara kualitas rendah ini juga banyak diminta oleh pasar ekspor. "Karena mereka sadar yang ada di Indonesia adalah batubara kualitas menengah ke bawah," kata Bob.

Bob memperkirakan produksi batubara tahun ini bisa melampaui 400 juta ton jika hargabatubara tahun ini membaik,di atas US$ 90 per ton. Saat ini harga batubara acuan pada April 2013 masih US$ 88,6 per metrik ton. Bob mengatakan harga saat ini masih rendah karena stok batubara masih tinggi. "Kebetulan ada over stok di India, jadi tren sampai Juni masih akan terus di kisaran itu. Tetapi setelah itu akan membaik karena China juga mulai naik, Amerika Serikat juga membaik," kata Bob.

Bob menambahkan bila kondisi perekonomian Amerika Serikat membaik, maka permintaan batubara dari Korea dan Thailand juga akan meningkat. Bob mengharapkan harga batubara tidak turun hingga di bawah US$ 85 per ton. Meskipun produksi batubara meningkat, Bob mengatakan penyerapan di dalam negeri belum tumbuh secara signifikan. "Dari dulu penyerapan batubara oleh pasar domestik masih sekitar 40 juta ton sampai 60 juta ton per tahun," katanya.

Karena konsumsi dalam negeri yang masih rendah, menurut ia, rencana pembatasan ekspor batubara belum diperlukan. Saat ini untuk menentukan kebijakan batubara ke depan, Bob meminta pemerintah menyediakan data cadangan dan kebutuhan batubara Indonesia.

"Pemerintah Indonesia harus tahu 20 tahun atau 30 tahun ke depan batubara jenis apa yang dibutuhkan, pembangkitnya di mana saja. Juga persebaran cadangan batubaranya di mana saja dan kualitas batubara per daerah," katanya.

APBI menyatakan pada 2012 produksi batubara nasional mencapai 384 juta ton. Sementara Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral menargetkan produksi batubara 2013 sebesar 390 juta ton. Dari jumlah tersebut, yang dialokasikan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri sebesar 74,32 juta ton.

Ditimbun Negara Lain

Wakil Menteri ESDM Susilo Siswoutomo menilai saat ini banyak negara yang sangat bergantung kepada pasokan batubara dari Indonesia. Akhirnya, batubara Indonesia digali habis-habisan dan justru ditimbun di negara lain. "Kita banyak ekspor batubara, tapi banyak negara-negara yang impor batubara dari kita (Indonesia) justru untuk disimpan di sana," katanya.

Dikatakan Susilo, negara-negara yang mendapatkan pasokan batubara dari Indonesia menimbun batubaranya, sampai batubara Indonesia habis baru mereka menggunakannya. "Mereka impor sebanyak mungkin, dan ditimbun, sampai di negara yang mengekspor batubara ke negaranya habis terkuras baru mereka gunakan," ucapnya.

Untuk itu dirinya mendukung upaya pemerintah provinsi Kalimantan Timur untuk membatasi produksi dan ekspor barubara. "Saya dukung itu rencana Gubernur Kalimantan Timur membatasi produksi dan ekspor batubara ini, untuk kontrol volume produksi batubara. Memang kita banyak batubara namun batubara merupakan energi yang tak terbarukan," ujar Susilo.

Namun sampai saat ini Kementerian ESDM belum bisa melakukan pembatasan produksi batubara. "Kita cuma bisa mengontrol, tapi kita juga kesulitan untuk mengawasi langsung di lapangan, yang bisa melakukannya adalah gubernur, bupati di daerah karena merekalah garda terdepan dalam pengawasan produksi batubara, terutama menegakkan hukum bagi tambang-tambang batubara yang tidak berizin. Kita tetap bolehkan adanya ekspor batubara, tetapi syaratnya semua perizinan harus dipenuhi, masalahnya ada yang produksi tanpa izin," tandasnya.