Kejar Produksi 1 Juta Barel, Pemerintah Andalkan Blok Cepu

Sektor Migas

Kamis, 30/05/2013

NERACA

Jakarta - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jero Wacik merasa yakin kilang minyak di Banyu Urip, Cepu, Jawa Tengah, bakal beroperasi pada akhir tahun depan. Dari dari hasil pantauan lapangan, Jero percaya produksi minyak di kilang itu bakal sesuai target. "Dari hasil pantauan saya, kok saya yakin rasanya bisa, akhir 2014 Cepu akan mulai menghasilkan," kata Jero di Jakarta, Rabu (29/5).

Jero Wacik menuturkan, nantinya kilang Banyu Urip ditargetkan memproduksi minyak sebanyak 165.000 barrel per hari (bph)."Sehingga target produksi minyak bumi satu juta barrel per hari di Indonesia bisa tercapai," ujar Jero.

Dia menyebutkan, DPR meragukan kemampuan produksi kilang minyak Cepu. Oleh karena itu, pemerintah harus terus mengawasi jalannya pembangunan kilang agar sesuai target."Bukan bulanan lagi, tapi mingguan. Biar target kilang Cepu bisa beroperasi akhir 2014 tercapai," lanjut Jero.

Beberapa waktu lalu, Menteri Keuangan Chatib Basri mengaku saat ini Indonesia mengalami penurunan produksi minyak, apalagi Blok Cepu juga baru bisa beroperasi secara penuh pada akhir 2015 mendatang. "Meski produksi minyak kita sedang mengalami gangguan, kami optimis bisa melakukan lifting minyak di atas 1 juta barrel minyak per hari pada 2015 mendatang," kata Chatib.

Chatib menambahkan, produksi minyak pada 2014 ditargetkan sebesar 900.000-930.000 barrel per hari. Untuk itu, pemerintah akan terus berkoordinasi dengan pemerintah daerah terkait kegiatan eksploitasi sumber-sumber energi minyak baru sehingga bisa menambah cadangan minyak di Indonesia setiap tahunnya. "Di sisi lain, kami juga akan ekstensifikasi lapangan minyak yang ada, sekaligus mengalihkan konsumsi minyak ke gas," tambahnya.

Selain menyampaikan soal lifting, pemerintah juga menyampaikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2014 mendatang ditargetkan hanya mencapai 6,2 %. Level tersebut dianggap mencerminkan kondisi eksternal yang belum pasti sehingga turut memengaruhi kondisi perekonomian di Tanah Air. Untuk defisit keuangan negara, pemerintah menargetkan defisit mencapai 1,2-1,7 % dari Produk Domestik Bruto (PDB) serta penurunan rasio utang terhadap PDB mencapai 22 % hingga 23 %.

Peningkatan Produksi

Sementara itu, Satuan Kerja Khusus Pelaksana Hulu Minyak dan Gas Bumi menargetkan produksi minyak mentah dan kondensat sebesar satu juta barel per hari bisa dimulai Oktober atau November 2014.

Kepala SKK Migas Rudi Rubiandini saat menjelaskan pencapaian kinerja 100 hari mengatakan, tingkat produksi sejuta barel tersebut tercapai dengan syarat produksi Lapangan Banyuurip, Blok Cepu mencapai puncaknya sebesar 165.000 barel per hari pada Oktober atau November 2014. "Itu skenario optimistis kami," katanya.

Sementara, skenario pesimistisnya adalah produksi sejuta barel baru Desember 2014 atau Januari 2015, setelah produksi Cepu sebesar 165.000 barel per hari tercapai di bulan tersebut. Menurut Rudi, dengan dua skenario tersebut, maka tingkat produksi minyak rata-rata pada 2014 bisa mencapai antara 860.000 dengan skenario pesimistis hingga 900.000 barel per hari dengan skenario optimistis."Sedangkan, produksi rata-rata satu juta barel per hari selama setahun baru akan tercapai di 2015," katanya. Ia menambahkan, pada 30 April 2013, pihaknya meresmikan dua pengeboran sumur di Lapangan Banyuurip.

Total sumur yang dibor di Banyuurip adalah 42 yang terdiri dari 29 sumur produksi dan 13 sumur injeksi. Data SKK Migas menyebutkan, per 31 Maret 2013, progres proyek Banyuurip sudah mencapai 51,1 %. Rinciannya adalah pekerjaan rekayasa, pengadaan, dan konstruksi (EPC) 1 berupa pembangunan fasilitas produksi di darat senilai 746,3 juta dolar AS yang digarap konsorsium PT Tripatra Engineering dan Samsung Engineering sudah mencapai 53,6 %.

Lalu, EPC 2 yang dikerjakan Konsorsium PT Inti Karya Persada Tehnik dan PT Kelsri yang menggarap desain dan instalasi pipa desalinasi senilai 57,03 juta dolar sudah 57,8 %. Untuk EPC 3 berupa pembangunan pipa "offshore" dan "mooring tower" senilai 131,64 juta dolar yang digarap PT Rekayasa Industri dan Likpin LLC mencapai 33,1 %

EPC 4 yang terdiri atas fasilitas penyimpanan dan bongkar muat terapung (floating storage and offloading/FSO) senilai 298,7 juta dolar dikerjakan PT Scorpa Pranedya dan Sembawang Shipyard sudah 59,7 %. Terakhir, EPC 5 berupa pembangunan fasilitas pendukung senilai 95,58 juta dolar AS yang dikerjakan PT Hutama Karya dan PT Rekayasa Industri sebesar 25,8 %.