Buana Finance Targetkan Naik 10%

Penyalauran Pembiayaan

Kamis, 30/05/2013

NERACA

Jakarta- PT Buana Finance Tbk menargetkan pertumbuhan penyaluran pembiayaan tahun ini meningkat 10% menjadi Rp3 triliun dibanding tahun sebelumnya yang hanya Rp2,63 triliun. "Meski ada indikasi perlambatan ekonomi nasional sebagaimana tercermin pada koreksi target pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi 6,3%, kami tetap mewaspadai dan masih mempertahankan target awal," kata Direktur Utama Buana Finance, Soetadi Limin di Jakarta, Selasa (28/5). Dia menambahkan, perseroan juga mewaspadai penurunan prospek penjualan alat berat terkait kecenderungan konsolidasi harga komoditas tambang serta potensi penyesuaian harga BBM Bersubsidi yang akan mempengaruhi tingkat inflasi dan suku bunga BI Rate.

Untuk mendukung target pembiayaan itu, Soetadi mengatakan sumber dana akan diperoleh dari kas internal, perbankan, dan penerbitan "medium term note" (MTN). "Target MTN minimal Rp300 miliar, namun itu tergantung respon dari pasar. Kalau pasar merespon positif maka nilainya dapat ditambah menjadi Rp500 miliar," kata dia. Terkait kinerja perseroan, dia mengemukakan Buana Finance telah menyalurkan pembiayaan sebesar Rp875 miliar hingga April 2013, atau setara dengan 29,2% dari target pembiayaan perseroan.

Sementara, dalam rapat umum pemegang saham tahunan (RUPST) PT Buana Finance Tbk disepakati pembagian dividen tunai tahun buku 2012 sebesar Rp49,37 miliar atau setara Rp30 per lembar saham. Sebelumnya, dipaparkannya, perseroan telah membagikan dividen interim sebesar Rp98,75 miliar atau setara Rp60 per lembar saham. "Sehingga jumlah pembagian dividen meningkat 37,5% bila dibandingkan tahun lalu sebesar Rp71,81 miliar," katanya. Kinerja perseroan sepanjang 2012 tercatat membukukan laba bersih sebesar Rp150 miliar atau tumbuh 48,5% dibandingkan tahun sebelumnya Rp101 miliar. "Hasil positif tersebut mendorong return on equity (RoE) tercatat naik signifikan dari 10,78% di 2011 menjadi 15,37% di 2012," kata Soetadi. Sedangkan aset perseroan juga tumbuh 22,2% mencapai Rp3,49 triliun dan jumlah ekuitas telah menembus angka Rp1 triliun. Sementara "debt to equity" masih relatif terpantau rendah sebesar 2,35 kali. [sylke]