Mudah Digoyang Isu, Investor Lokal Kalah Strategi

Rabu, 29/05/2013

NERACA

Jakarta- Terus bertumbuhnya indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) hingga menembus level 5.200 pemicu investor asing untuk terus meningkat modalnya di pasar saham Indonesia dengan keuntungan yang menjanjikan, dan ditopang pertumbuhan ekonomi yang positif. Ironisnya, derasnya dana asing yang masuk tidak di imbangi tinggi dana investor lokal di pasar modal

Menurut Dirut Kresna Securities, Michael Steven, masih rendahnya dana investor lokal ketimbang dana asing yang masuk disebabkan investor dalam negeri masih mengikuti asing, “Di saat asing membeli, investor lokalpun juga ikut membeli dan sebaliknya pada saat asing menjual,investor lokal juga ikut menjual,” katanya di Jakarta, Selasa (28/5).

Oleh karena itu, lanjut dia, adanya berita-berita negatif yang membuat panik pasar, sebenarnya dijadikan sebuah kesempatan bagi kebanyakan investor asing untuk memutuskan transaksi jual. Karena pada dasarnya transaksi di pasar modal adalah memindahkan dana dari yang tidak mengetahui kepada yang mengetahui.

Jadi, dia menilai, selama ini kekhawatiran masyarakat mengenai investasi di pasar modal pun tidak berdasar. Terlebih pasar Indonesia saat tumbuh sangat signifikan dengan pencapaian Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di level 5.200. Diapun optimistis Indeks dapat berada di level 5.300-5.500 hingga akhir 2013.

Salah satu strategi yang bisa dilakukan untuk itu, yaitu dengan meningkatkan edukasi ataupun pendidikan secara lebih luas kepada masyarakat untuk menambah investor maupun pemodal yang masuk di pasar modal.

Pemahaman Rendah

Hal senada juga disampaikan Direktur Online Trading Academy Indonesia, Novy Kottalewala, secara umum pemahaman masyarakat ataupun investor lokal masih rendah sehingga hanya mengikuti investor asing, “Bangsa kita bangsa yang berkembang dan secara umum pemahaman masyarakat ataupun investor masih rendah. Namun, potensinya sangat besar."ujarnya.

Karena itu, dia menilai, pasar Indonesia menjadi sasaran empuk bagi investor asing meraup keuntungan disamping pasarnya yang besar di Asia. Selain perekonomian Indonesia yang bertumbuh positif, pasar Indonesia masih memiliki ruang yang cukup luas dan potensial sebagai negara emerging market.

Menurut dia, pasar Indonesia tidak berbeda dengan India. Hanya saja, Indonesia lebih terbuka bagi siapa pun yang ingin mengembangkan dananya. Karena itu, hal ini menjadi tuntutan bagi masyarakat Indonesia, sekaligus dalam menghadapi masyarakat ekonomi ASEAN di 2015. "Melalui bank-bank seperti CIMB, DBS, OCBC, asing bisa masuk Indonesia. Selain itu harga yang ditawarkan dalam dolar Singapura lebih tinggi dibanding Indonesia, untuk 1 lot saja misalnya seharga US$20 dolar,”tandasnya.

Strategi trading yang dilakukan asing, lanjut dia, sebenarnya hanya didasarkan pada pertimbangan waktu (timing) untuk melakukan transaksi baik jual ataupun beli. Sementara, sebagian besar investor Indonesia lebih mudah terpengaruh berita-berita atau isu dari luar. Padahal yang harus diperhatikan dalam melakukan transaksi, yaitu seberapa kuat fundamental perusahaan yang tercatat di pasar modal. "Pilih saham yang fundamentalnya kuat, dibanding mendengar berita-berita dari luar." tegasnya.

Adapun perhitungan yang didasarkan dari sisi teknikal analisis, kata dia, hanya untuk mengkonfirmasikan harga saham. Tidak serta merta menjadi pijakan untuk mengambil keputusan trading. Salah satu perhitungan transaksi yang bisa dilakukan yaitu dengan melihat chart yang menunjukkan kemungkinan yang tinggi dengan risiko rendah.

Bagi analis Trust Securities, Reza Priyambada, pelaku pasar bisa mencermati perhitungan saham berdasarkan chart/grafik harga saham yang menunjukkan pada saat harga saham tinggi, saham tersebut berada di area overbought atau justru sebaliknya. “Saham mahal atau murah itu sebenarnya relatif. Perhitungan yang bisa dilakukan oleh pelaku pasar, biasanya dilihat dari perhitungan PER atau chart.” ucapnya.

Menurut dia, untuk perhitungan yang didasarkan pada price earning ratio (PER), tidak sepenuhnya dapat menjadi tolok ukur yang tepat karena menggunakan perhitungan harga saham yang sifatnya fluktuatif. Karena itu, menurut dia, selain dari sisi PER, pelaku pasar perlu memperhitungkan seberapa besar perusahaan berkontribusi terhadap pemegang saham.

Selama perusahaan dapat berkontribusi terhadap pemegang saham, lanjut dia, maka harga saham tersebut dapat mengalami kenaikan."Harga saham yang naik dapat mencerminkan kondisi fundamental perseroan." ujarnya. lia/bani