Perbankan Ancang-ancang, LPS "Pasang Mata"

Kenaikan Suku Bunga

Rabu, 29/05/2013

NERACA

Jakarta - Kalangan perbankan masih menunggu sikap Bank Indonesia (BI) terkait kenaikan suku bunga sebagai respon dari bakal naiknya harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi. Kalau ditarfsirkan, perbankan tengah siap-siap menaikkan suku bunga, dengan dalih mengacu pada suku bunga acuan atau BI Rate. Direktur Utama PT Bank Mega Tbk, Kostaman Thayib, mengaku kalau pihaknya belum ingin menaikkan suku bunga dalam waktu dekat. “Saat ini kami belum (mau) melakukannya (menaikkan suku bunga). Kami masih menunggu keputusan suku bunga acuan dari BI (BI Rate) bulan depan,” ungkap Kostaman di Jakarta, Selasa (28/5).

Saat ini, lanjut dia, tingkat bunga bervariasi dan tergantung dari jumlah serta produk. Dia juga mengatakan, bila Pemerintah menaikkan harga BBM Bersubsidi, maka inflasi 2013 diperkirakan akan meningkat hingga tujuh persen. Dengan meningkatnya inflasi ini, Kostaman memprediksi BI Rate bakal ikut naik. "Kalau BI Rate naik, Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) pasti akan menaikkan suku bunga penjaminan. Artinya, tentu suku bunga deposito perbankan ikut naik, dan ini membuat selisih bunga tabungan dengan deposito besar sehingga orang lebih memilih deposito," terang Kostaman.

Sebelumnya, PT Bank Mandiri Tbk mengaku masih mengkaji kebijakan untuk menaikkan suku bunga tabungan maupun pinjaman. "Kalau Bank Mandiri sendiri sampai sekarang kami memang masih mengkaji karena posisi kami sama seperti umumnya empat bank besar lain, kita masih dalam posisi lebih likuiditas," ujar Direktur Utama Bank Mandiri, Budi Gunadi Sadikin.

Direktur Utama PT Bank OCBC NISP Tbk, Parwati Surjaudaja, justru dengan tegas akan menaikkan suku bunga simpanan dan kredit sebagai respon atas kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi. Dia menilai, kenaikan suku bunga tersebut sebenarnya tidak disebabkan langsung oleh kenaikan harga BBM Bersubsidi, namun karena kenaikan inflasi yang diprediksi terjadi. Terkait likuiditas perseroan, Parwati menyatakan sampai sampai saat ini masih cukup untuk intermediasi.

Awasi pergerakan suku bunga

Sementara Lembaga Penjaminan Simpanan (LPS) akan memonitor bank-bank terkait pergerakan kenaikan suku bunga simpanan. Pasalnya, LPS masih menahan tingkat bunga penjaminan simpanan dalam rupiah dan valuta asing (valas) di bank umum. "Kami akan memonitor mereka (bank-bank)," ungkap Kepala LPS Mirza Adityaswara. Dia melihat kenaikan suku bunga simpanan pada sejumlah bank terjadi lantaran pengetatan likuiditas. Apabila bank-bank tersebut ingin terus berekspansi kredit, maka harus manambah deposit melalui penawaran bunga yang lebih tinggi.

"Bagi bank-bank yang rasio kredit terhadap dana pihak ketiga (loan to deposit ratio/LDR) di atas 90%, jika mereka ingin meningkatkan jumlah kredit maka harus menambah jumlah depositsnya. Artinya, bank-bank tersebut menawarkan bunga agak lebih tinggi," tuturnya.

Akan tetapi, imbuh Mirza, tingkat bunga penjaminan simpanan LPS masih bertahan di level 5,5% untuk rupiah, dan 1% untuk valas di bank umum. Hal tersebut didasarkan pada terjaganya BI Rate di level 5,75%. Di samping itu, lanjut Mirza, LPS memperhatikan pergerakan bunga deposit, kondisi pasar keuangan, dan kondisi ekonomi. "Kami akan monitor, tapi tentunya BI juga memonitor karena mereka yang punya otoritas moneter. LPS hanya lembaga penjamin simpanan, bukan otoritas moneter," jelasnya.

Pejabat Sementara (Pjs) Direktur Penjaminan dan Manajemen Risiko LPS, Noor Cahyo, pernah bilang penetapan tingkat bunga penjaminan simpanan itu didasarkan atas pertimbangan kinerja perekonomian yang masih stabit. Hal ini terlihat dari realisasi inflasi umum mengalami tren penurunan dari 5,9% (Maret 2013) menjadi 5,75% (April 2013). Kondisi likuiditas perbankan juga sebenarnya masih tinggi. Untuk suku bunga JIBOR overnight satu minggu dan satu bulan menunjukkan pergerakan yang relatif stabil pada kisaran 4,18% sampai 4,58% pada April 2013. Selain itu, biaya dana rata-rata tertimbang atau implied cost of fund selama satu tahun terakhir masih pada tren penurunan, yaitu dari 4,44% (Maret 2012) menjadi 3,84% pada Maret 2013.

Bank Indonesia menjelaskan bahwa kenaikan suku bunga yang dilakukan oleh bank dalam merespon inflasi akibat kebijakan kenaikan harga BBM Bersubsidi, tergantung pada likuiditas masing-masing bank. "Sebenarnya hanya beberapa bank saja yang begitu. Itu kan lebih banyak terkait dengan likuiditas bank yang bersangkutan," kata Deputi Gubernur BI, Perry Warjiyo, kemarin. [sylke/ardi]