Delapan Perusahaan Ditugaskan Pasok BBG

Sektor Transportasi

Rabu, 29/05/2013

NERACA

Jakarta - Menteri Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Jero Wacik telah menugaskan delapan perusahaan minyak dan gas (migas) menyalurkan gas sebesar 35,15 juta kaki kubik per hari (mmscfd) untuk kebutuhan bahan bakar gas (BBG) di sektor transportasi sepanjang tahun ini.

Hal itu tertuang dalam Keputusan Menteri ESDM No 2261 K/12/MEM/2013 tentang Harga Jual Gas Bumi dari Konraktor Kontrak Kerja Sama dan Badan Usaha Pemegang Izin Usaha Niaga Gas Bumi Melalui Pipa yang Dialokasikan Untuk Bahan Bakar Gas Transportasi yang diteken Jero Wacik pada 8 Mei 2013 seperti dikutip Neraca, Selasa.

Seperti dikutip dari regulasi tersebut, Selasa (28/5), gas sebanyak 35,15 mmscfd tersebut akan dipasok ke wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi (Jabodetabek), Surabaya, Gresik, Sidoarjo, serta Palembang.

Harga jual BBG di sektor transportasi tersebut ditetapkan maksimum US$ 4,72 per juta british thermal unit (mmbtu). Harga itu hanya berlaku untuk harga jual gas dari kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) dan badan usaha pemegang izin usaha niaga gas bumi melalui pipa yang dialokasikan untuk BBG transportasi.

Adapun delapan perusahaan itu yaitu PT Pertamina EP sebanyak 11,45 mmscfd,PT Medco E&P Indonesia 2 mmscfd,PT PHE ONWJ 4 mmscfd,PT Perusahaan GAs Negara Tbk (PGAS) 5 mmscfd,JOB Pertamina-Talisman 2 mmscfd,PT PHE WMO 5,2 mmscfd,Santos (Madura Offshore) Pty Ltd 5 mmscfd,Sarana Pembangunan Palembang Jaya (SP2J) 0,5 mmscfd.

Konversi BBM

Sebelumnya Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Dirjen Migas) Kementerian ESDM, A. Edy Hermantoro dalam rapat mengenai konversi BBM ke bahan bakar gas. Dia mengatakan, tahun ini pemerintah akan membangun 4 SPBG di Balikpapan.

"Di Jabodetabek juga akan dibangun SPBG CNG yaitu 1 unit mother station (MS) dan 4 unit MRU (mobile refueling unit) senilai Rp127 miliar serta infrastruktur pipa dan gas gas berupa 1 unit mother station (MS), 2 unit SPBG online dan pembangunan pipa sepanjang 22,2 km senilai Rp474 miliar," ujarnya.

Hadir dalam pertemuan tersebut, wakil dari Kementerian Perhubungan, Kementerian Perindustrian, Pemda DKI Jakarta, PT Pertamina, PT Dirgantara Indonesia, PT Medco Energy, PT Total Indonesie dan instansi terkait lainnya.

Khusus untuk Jabodetabek, Edy memaparkan, Pemerintah akan menempatkan MRU dan MS di lokasi-lokasi yang berdekatan atau dilintasi bus Transjakarta. Dengan demikian diharapkan dapat mempermudah pengisian bahan bakar gas. Lokasi penempatan MRU dan MS ini, antara lain di Cibubur, Cilandak dan Lebak Bulus.”Kita mengikuti terus perkembangan busway ini. Jadi nanti MRU dan MS akan diletakkan di dekat-dekat lokasi bus,” terangnya.

Pembangunan SPBG dan jaringan pipa untuk Jabodetabek, dilakukan oleh Kementerian ESDM yang bekerja sama dengan PT Pertamina (Persero). Sementara untuk Balikpapan, dilakukan oleh Kementerian ESDM.

Dalam rapat tersebut, dilakukan presentasi oleh PT Medco Energy yang telah mengkonversi mobil operasional untuk layanan antar-jemput pekerjanya dengan menggunakan bahan bakar gas. Sekitar 23 mobil shuttle Medco menggunakan bahan bakar gas dan menghemat Rp195 juta per tahun. Medco juga menggunakan CNG untuk kendaraan operasinya untuk di Blok Rimau/Kaji, Sumatera Selatan dan Blok SCS/Soka, Sumatera Selatan.

Harga Keekonomian

Sekedar informasi harga keekonomian bahan bakar minyak (BBM) terus melambung, seiring melonjaknya nilai jual minyak mentah di dunia akhir-akhir ini. Bahkan, jenis pertamax saat ini sudah dijual seharga Rp9.050 per liter. Sementara jenis premium dilego sekitar Rp4.500 per-liter, lantaran masih mendapatkan subsidi dari pemerintah. Belakangan terindikasi mulai terjadi trend pengalihan penggunaan pertamax ke premium akibat banyaknya masyarakat yang kewalahan mengkonsumsi bbm tanpa subsidi.

Bisa dibayangkan berapa besar nilai subsidi yang harus ditanggung pemerintah, bila kondisi itu terjadi dalam kurun waktu yang cukup lama. Sementara kemampuan lifting minyak nasional, akhir-akhir ini angkanya semakin menyusut, lantaran kemampuan produksi hampir seluruh sumur yang ada menurun. Diketahui dari data yang dilansir BPH Migas belum lama ini menyebutkan bahwa, angka lifting bahan bakar fosil hanya sekitar 872 barel per hari (Bph). Padahal sepanjang 2011 ini pemerintah mentargetkan bisa mencapai angka 970 Bph.

Subsidi BBM yang harus dikeluarkan pemerintah dari tahun ke tahun terus meningkat. Pada 2010 misalnya, subsidi BBM mencakup premium, solar, gas, dan kerosin mencapai Rp89,2 triliun, dengan total konsumsi hampir 40 juta kilo liter. Sementara pada tahun ini, pemerintah mengalokasikan subsidi sebesar Rp95,9 triliun. Padahal, pengguna bahan bakar bersubsidi terbesar adalah kendaraan pribadi terutama sepeda motor, karena laju pertumbuhan yang jauh lebih cepat dibanding kendaraan umum.

Pada 2009 total kendaraan roda dua mencapai 87 juta unit, sementara mobil sekitar 40% dari jumlah motor di Dalam Negeri. Khusus di Ibukota, diperkirakan akan ada sekitar 12 juta kendaraan hilir mudik pada 2011 di sepanjang jalan Jakarta dan sekitarnya. Bila konsumsi kendaraan bermotor rata-rata satu liter per hari dikalikan dengan total kendaraan yang ada, maka dapat dipastikan ratusan juta kilo liter BBM yang dibakar.