RI Bisa Jadi Basis Industri Pengolahan ASEAN

Prediksi Kadin

Rabu, 29/05/2013

NERACA

Jakarta - Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia menilai, Indonesia sebagai negara dengan potensi sumber daya alam terbesar, memiliki potensi untuk menjadi basis industri pengolahan bagi ASEAN. Berdasarkan data yang diolah, 43 % dari penduduk ASEAN yang sekarang mencapai 600 juta jiwa adalah penduduk Indonesia, dan secara demografis 53 % wilayah ASEAN merupakan wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

"Negara kita memiliki penduduk terbesar dengan biaya hidup yang relatif rendah, Indonesia juga berpotensi menjadi basis industri manufacturing, pertanian pangan dan perikanan,” ujar Ketua Umum Kadin Indonesia Suryo Bambang Sulisto dalam keterangan tertulis Neraca, kemarin. Untuk mewujudkan potensi-potensi tersebut, menurutnya, sangat bergantung pada kemampuan Indonesia untuk mempersiapkan prasarana yang dibutuhkan.

Suryo menyebutkan, beberapa hal yang harus dipersiapkan itu seperti lahan untuk kawasan industri, tenaga kerja terampil, menyiapkan infrastruktur dan sebagainya. Dalam menghadapi ASEAN Economic Community (AEC) 2015 mendatang, Kadin juga mengharapkan adanya keterlibatan integratif dalam pembuatan kebijakan sebagaimana yang sudah dilakukan negara-negara ASEAN seperti Singapura, Malaysia dan Thailand.

“Dalam hal itu Indonesia masih harus berbenah karena sektor swasta masih jauh berada di luar lingkaran pengambilan keputusan oleh negara," tuturnya. Sebelumnya Pemerintah boleh saja berbesar hati dan bangga dengan pertumbuhan industri yang terbilang terus meningkat dari tahun ke tahun. Namun biaya logistik yang terlampau mahal serta buruknya infrastruktur membuat industri nasional ‘gugup’ menghadapi ASEAN Economic Community (AEC) 2015.

"Kami merasa gugup untuk menghadapi implementasi AEC 2015 yang waktunya kurang dari 2 tahun. Dari total populasi penduduk Asean sebanyak 600juta, penduduk di Indonesia mencapai 250 juta. Kalau tidak siap, Indonesia hanya akan menjadi pasar saja," terang Menteri Perindustrian, MS Hidayat. Dalam hitungan pemerintah, sektor industri nasional ikut memacu pertumbuhan perekonomian Indonesia. Dari data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, sektor industri pengolahan migas pada 2012 lalu tumbuh 5,7% dan industri pengolahan non-migas meningkat 6,4% dan memberikan kontribusi sebesar 20,8 % dari total pertumbuhan produk domestikbruto (PDB) nasional.

Sembilan Prioritas

Namun tantangan global sudah ada didepan mata. AEC 2015 akan menjadi tantangan sekaligus peluang Indonesia dalam waktu dekat. Kekhawatiran pemerintah, menurut Hidayat, dipicu dengan masih mahalnya biaya logistik serta minimnya pembangunan infrastruktur di dalam negeri yang membuat daya saing industri nasional masih kalah dibandingkan negara kompetitor di kawasan ASEAN. “Di Indonesia biaya logistik saat ini rata-rata masih 16% dari total biaya produksi. Sedangkan normalnya maksimal hanya 9% sampai dengan 10%, jika tidak diperbaiki nanti Indonesia hanya menjadi penonton," paparnya.

Dari sisi industri sendiri, lanjut Hidayat, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus memperkuat sektor-sektor industri unggulan yang diharapkan bisa menjadi penyelamat Indonesia saat pemberlakuan AEC 2015. "Ada sembilan komoditas industri nasional yang menjadi prioritas untuk memasuki AEC 2015 yang daya saingnya masih relatif lebih tinggi dari negara-negara Asean lainnya," ujarnya. Sembilan komoditas tersebut di antaranya, produk berbasis agro seperti (CPO, kakao, karet), ikan dan produk olahannya, tekstil dan produk tekstil, alas kaki, kulit dan barang kulit, furnitur, makanan dan minuman, pupuk dan petrokimia, mesin dan peralatannya, serta logam dasar, besi dan baja.

Hidayat menambahkan, pihaknya terus memperkuat penguasaan pasar dalam negeri untuk tujuh cabang industri yang berpotensi terganggu dalam implementasi AEC 2015 mendatang. "Ada tujuh cabang industri yang perlu ditingkatkan daya saingnya untuk mengamankan pasar dalam negeri terhadap produk sejenis dari negara Asean lainnya. Tujuh cabang tersebut meliputi otomotif, elektronik, semen, pakaian jadi, alas kaki, makanan dan minuman serta furnitur," tandasnya.

Peningkatan Daya Saing

Di tempat yang sama, Direktur Jenderal Kerjasama Industri Internasional Agus Tjahajana mengutarakan,sejumlah langkah peningkatan daya saing harus dilakukan dalam meningkatkan daya dukung iklim industri menghadapi AEC 2015. Langkah peningkatan daya saing dimaksud antara lain melalui penurunan biaya modal, biaya energi, dan biaya logistik.

"Peningkatan daya saing ini harus dilakukan baik dalam jangka pendek, menengah, maupun panjang," kata Agus. Selain itu juga adanya jaminan pasokan bahan baku, pengawasan impor untuk meredam produk ilegal, dan optimalisasi peningkatan penggunaan produk dalam negeri. "Dalam jangka panjang, perlu juga dilakukan peningkatan faktor pendukung industri, membangun kemampuan sumber daya manusia, dan pembangunan riset serta pengembangan industri," kata Agus.

Berdasarkan data Global Competitiveness Report 2011-2012, peringkat Indonesia masih di bawah negara-negara ASEAN lainnya, yakni Thailand, Malaysia, dan Singapura. Mengutip data dari Sekretariat ASEAN, sebagian besar perdagangan negara-negara anggota ASEAN selama ini dilakukan dengan negara-negara non-ASEAN. Kondisi tersebut menggambarkan belum sepenuhnya termanfaatkan potensi perdagangan di antara sesama negara anggota ASEAN.

Sementara itu, Wakil Sekretaris Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Franky Sibarani mengutarakan seharusnya Pemerintah harus fokus pembenahan dan penciptaan daya saing industri nasional dalam rangka AEC 2015. "Indonesia yang mewakili 50% pasar ASEAN akan menjadi sasaran empuk bagi produsen di ASEAN. Daya saing di bidang perbankan, infrastruktur, birokrasi, dan standar kompetensi merupakan persoalan-persoalan klasik yang harus dibenahi pemerintah,” tandasnya. [iwan]