Tingkat Produktivitas Petani Cengkeh Masih Rendah

Rabu, 29/05/2013

NERACA

Jakarta – Indonesia yang dikenal dengan negara yang kaya akan rempah-rempah ternyata tidak bisa memenuhi kebutuhan cengkeh di dalam negeri. Kebutuhan cengkeh mencapai 120 ribu ton pertahun namun produksi cengkeh nasional hanya sekitar 80 ribu ton.

Direktur Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian Gamal Nasir menjelaskan bahwa rata-rata produktivitas cengkeh di bawah potensinya. “Seharusnya tingkat produktivitasnya dapat mencapai 500-600 kg per hektar. Namun tingkat produktivitasnya antara 260-360 kg hektare selama tiga tahun terakhir. Dengan tingkat produktivitas petani sebesar itu, maka dalam setahun produksi cengkeh diperkirakan 70.000-80.000 ton,” ungkap Gamal di Jakarta, Selasa (28/5).

Ia menjelaskan bahwa kebutuhan cengkeh untuk pabrikan rokok terus mengalami peningkatan setiap tahunnya seperti pada 2011/2012 yang telah mencapai 120 ribu ton pertahun. Sedangkan pada 2015, kebutuhan industri rokok diproyeksikan meningkat hingga 130.000 ton sehingga pemerintah terpaksa mengimpor.

Gamal menyebutkan merendahnya produktivitas cengkeh petani karena masalah-masalah seperti banyak tanaman sudah tua, rusak dan serangan hama, selain juga perubahan iklim global, keterbatasan sarana dan produksi produksi, bibit unggul ditambah SDM petani dan kelembagaan yang masih lemah.

Menurut Ditjen Perkebunan luas areal cengkeh saat ini tinggal 470.000 ha dengan produksi 84.000 ton padahal pada 1987 pernah mencapai 742.000 ha. "Petani mengalihkan ke komoditas lain yang dirasa lebih menguntungkan," kata Gamal.

Minimnya produksi menyebabkan harga cengkeh naik. Harga cengkeh per 2012 lalu mencapai Rp 120 ribu per kilogram (kg). Tahun sebelumnya, harga cengkeh mencapai Rp 111 ribu per kg. Dalam keadaan normal, cengkeh dihargai Rp 60 ribu hingga Rp 80 ribu per kg. Soetardjo mengatakan diperlukan upaya untuk menaikkan produktivitas melalui strategi intensifikasi dan rehabilitasi tanaman. Hal ini penting agar terjadi keseimbangan antara permintaan dan penawaran dalam negeri.

Tidak Signifikan

Sementara itu, Direktur Tanaman Rempah dan Penyegar Kementerian Pertanian, Azwar Abubakar mengatakan harga cengkeh yang tinggi tidak memberikan pengaruh signifikan pada industri rokok. Jenis industri ini menurutnya memiliki pasokan bahan baku dalam jumlah cukup hingga tiga tahun mendatang.

Industri rokok yang memang paling membutuhkan cengkeh pun ikut mengeluh. Ketua Harian Forum Masyarakat Industri Rokok Seluruh Indonesia (Formasi) Heri Susianto mengatakan, melihat tren naiknya harga bahan baku rokok seperti cengkeh ini seharusnya pemerintah perlu turun tangan. “Tidak ada pilihan lain selain impor,” kata Heri.

Meski tahun ini produksi cengkeh diperkirakan akan lebih baik dari tahun lalu, namun cengkeh hasil panenan tersebut tidak bisa langsung digunakan sebagai bahan baku di industri rokok. “Untuk mendapatkan kadar keasaman dan kadar air yang sesuai untuk rokok, maka cengkeh harus didiamkan dahulu atau terfermentasi hingga 1 tahun sampai 2 tahun. Maka dari itu, untuk hasil panen cengkeh tahun ini paling tidak penggunanya pada tahun 2013 mendatang,” tambahnya.

Menurut Heri harga cengkeh ideal untuk industri rokok berkisar antara Rp 60.000 per kilogram (kg)-Rp 70.000 per kg. Padahal saat ini harga cengkeh sudah melambung dua kali lipatnya mencapai Rp 150.000 per kg.

Untuk itulah, Heri berharap ada sebuah lembaga khusus yang menaungi di bidang cengkeh ini seperti layaknya beras dan gula. Dengan dibentuknya lembaga tersebut, maka akan diketahui jumlah kebutuhan dan harga ideal bagi industri dan petani. “Selama ini izin impor diberikan oleh masing-masing perusahaan, sehingga belum tentu perusahaan kecil mampu untuk melakukan impor,” kata Heri.

Sepanjang tahun 2008 sampai tahun ini, Formasi mencatat ada pengurangan jumlah pelaku industri rokok dalam negeri yang cukup signifikan. Heri mencontohkan, untuk di wilayah Malang saja, saat ini jumlahnya hanya tinggal 122 perusahaan rokok, padahal tahun 2008 lalu jumlahnya mencapai 470 factory.

Resi Gudang

Sementara itu, petani cengkeh di Minahasa, Sulawesi Utara, meminta pemerintah melaksanakan program resi gudang guna mengantisipasi jatuhnya harga cengkeh pada masa panen, Mei hingga Agustus tahun ini. Sekretaris Asosiasi Petani Cengkeh Sulawesi Utara, Paulus Sembel mengatakan program resi gudang beberapa kali disampaikan Gubernur Sulut tetapi tak pernah dilaksanakan. “Salah satu solusi mencegah harga turun yakni resi gudang. Kenapa resi gudang tak pernah dilakukan,” katanya.

Resi gudang (warehouse receipt) merupakan dokumen yang menjadi bukti kepemilikan barang yang disimpan di suatu gudang terdaftar yang diterbitkan pengelola gudang itu. Di Indonesia persyartan resi gudang ditentukan UU Nomor 9 tahun 2006 tentang Sistem Resi Gudang. Salah satu manfaat sistem resi gudang adalah memperkuat daya tawar-menawar petani serta menciptakan efisiensi. Dengan sistem itu petani bisa menunda penjualan komoditi setelah panen, sambil menunggu harga membaik, dengan menyimpan hasil panen mereka di gudang-gudang tertentu yang memenuhi persyaratan.

Paulus Sembel mengatakan, harga pokok produksi cengkeh satu kilogram mencapai Rp 70.000 hingga Rp 80.000. Harga produksi tinggi, karena tenaga kerja sektor cengkeh cukup mahal dan harus didatangkan dari luar Sulawesi Utara. Menurut Paulus, panen cengkeh Sulawesi Utara tahun 2013 mencapai 5.000-7.000 ton. Produksi cengkeh sebanyak ini akan menurunkan harga cengkeh. “Apabila harga cengkeh jatuh di bawah Rp 70.000 maka petani pasti rugi,” katanya.

Habel Tumilaar (56), seorang petani mengatakan selama ini petani menikmati harga cengkeh level Rp 100.000 hingga Rp 115.000 per kilogram. Harga itu, ujar Habel, membuat petani dapat meraih untung yang sebagian dipakai untuk merehabilitasi lahan tanaman cengkeh miliknya. Sebagian cengkeh sudah berusia tua dan rusak sehingga membutuhkan perawatan intensif.