Keliling 112 Kota, Kampanyekan Kota Hijau - Nirwono Joga, Wakil Ketua Ikatan Arsitek Lansekap Indonesia

Sejak diluncurkannya Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang, kesibukan Nirwono Joga luar biasa. Berbulan-bulan, dia harus berkeliling ke 112 kota di seluruh Indonesia. Di kota-kota itu, Nirwono diminta sebagai konsultan bagaimana kota-kota itu melaksanakan perintah UU Nomor 26 Tahun 2007 tersebut.

Di Pasal 29 UU itu disebutkan, setiap kota harus memiliki minimal 30% wilayah dalam bentuk ruang terbuka hijau (RTH). “Saya keliling ke kota-kota itu untuk membantu mewujudkan kota hijau di sana,” kata Nirwono kepada Neraca belum lama ini.

Semua petunjuk tentang bagaimana cara mewujudkan 30% wilayah berbentuk RTH, sudah tertuang dalam bukunya yang berjudul ‘RTH 30%! Resolusi (Kota) Hijau’ yang sudah diluncurkan pada 2011 dan buku ‘Memetakan HIjau Kota’ yang diterbitkan pada 2012. “Sebentar lagi, bertepatan dengan ulang tahun Kota Jakarta, saya akan menerbitkan satu buku lagi berjudul ‘Gerakan Kota Hijau’,” kata dia.

Menurut Nirwono, saat ini banyak kota besar di Indonesia tengah menuju bunuh diri secara ekologis. Akibatnya, kota-kota itu tak mampu keluar dari bencana banjir, rob (banjir pasang air laut), krisis air bersih, kemacetan lalu lintas, pencemaran udara, dan berbagai penyakit lingkungan. “Karena itu, kini saatnya kota-kota itu bangkit memperbaiki diri, lingkungan mulai dari hunian, perumahan, dan kota sebagai tempat tinggal kita,” kata alumnus Fakultas Arsitektur Lansekap dan Teknologi Lingkungan Universitas Trisakti, Jakarta ini.

Dia mengungkapkan, selama ini pemerintah daerah enggan menuruti perintah UU Nomor 26 Tahun 2007 dan memasukkan kewajiban 30% RTH dalam Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) masing-masing. Alasannya, karena terbatasnya lahan, anggaran yang tersedia, maupun makin mahalnya harga tahan.

Padahal, kata dia, Provnsi DKI Jakarta yang jumlah RTH-nya masih sekitar 10% saja sebetulnya mampu mewujudkan. Sebab, RTH yang ada di Jakarta tidak hanya dihitung yang status lahannya milik pemda saja, tapi juga ruang hijau yang diupayakan oleh pihak swasta. Setiap bangunan dan gedung berkewajiban menyediakan 30% lahannya sebagai ruang terbuka yang tak boleh dibangun.

Keahliannya di bidang perencanaan tata kota itulah, kini Nirwono menjadi Koordinator Tim Pendamping Program Pembangunan Kota Hijau (P2KH) bersama Direktorat Jenderal Penataan Ruang, Kementerian Pekerjaan Umum. Sebelumnya, alumnus program S2 Faculty of Built Environment Royal Melbourne Institute of Technology (RMIT), Australia, 1996 ini juga aktif sudah aktif berkampanye mewujudkan lingkungan yang asri dan hijau. Saat ini, dia masih menjadi ketua Kelompok Studi Arsitektur Lansekap Indonesia (KeSALI), juga menjadi wakil ketua Pengurus Nasional Ikatan Arsitek Lansekap Indonesia (IALI).

Membangun Jakarta

Suami Tuniek Renita Indrawatie ini kini juga menjadi koordinator Peta Hijau Jakarta/PHJ (Jakarta Green Map). LSM yang dirintis oleh arsitek Marco Kusumawijaya itu merupakan gerakan masyarakat yang berupakan memetakan wilayah hijau Jakarta. Peta Hijau yang sudah dibuat antara lain Kemang (2001), Kebayoran Baru (2002), Menteng (2003), Jelajah Jakarta (Naik Transportasi) Hija (2009), Peta Keanekaragaman Hayati di Jakarta (2011). Peta terakhir adalah Jakarta Dulu, Potret Kini (2012).

PHJ, kata Nirwono, merupakan bagian dari 350 Peta Hijau yang dibuat oleh komunitas yang tersebar di 500 kota di 54 negara di dunia. Isi dari Peta Hijau meliputi kehidupan berkelanjutan (sustainable living), ekonomi hijau, desain dan teknologi, mobilitas, tanda-tanda bahaya; alam (nature), air dan tanah, flora, fauna, kegiatan di ruang terbuka, masyarakat dan budaya (culture and society), karakter budaya, eko-informasi, aktivisme dan keadilan, tengeran dan pekerjaan umum.

“Tujuan kami adalah bagaimana meningkatkan kebiasaan hidup di perkotaan yang sehat dan berkelanjutan dengan cara membantu warga kota agar lebih menyadari keberadaan dan interaksi antara lingkungan dan budaya,” tutur Nirwono. Peta Hijau, kata dia, mengajak warga untuk menjelajahi potensi titik-titik hijau Jakarta sebagai tempat wisata alternative. Lalu, menyosialisasikan keberadaannya, memicu kesadaran warga sekitar, dan memacu upaya pelestarian lokasi hijau yang ada.

“Lokasinya mudah dicapai dengan berjalan kaki, bersepeda, atau memakai transportasi publik seperti bus Transjakarta dan kereta api. Menjelajahi lokasi-lokasi hijau dengan cara hijau pula,” ujar pria kelahiran Jakarta ini. Menurut dia, warga kota Jakarta membutuhkan hiburan dan rekreasi yang murah meriah. Jakarta tidak hanya menyediakan hiburan di mal dan pusat pusat perbelanjaan saja, tapi juga harus menyediakan taman-taman kota yang murah meriah. Itu sebabnya, setiap kegiatannya, PHJ lebih menyukai diadakan di taman-taman kota. Misalnya, Taman Ayodya Barito, Jakarta Selatan atau di Taman Suropati, Menteng, Jakarta Pusat.

Ada yang menggelitik Nirwono soal keadaan Jakarta saat ini. Masih banjir di kala musim hujan dan macet lalu lintasnya. Soal mengatasi banjir di Jakarta, dia punya resep untuk memutus mata rantai banjir. Pertama, benahi dulu tata ruangnya, kembalikan ke fungsi semula. Percepat penambahan luas RTH dari 9,8% menjadi 30% sabagai daerah resapan air. “Karena itu diperlukan tim audit RTH terutama untuk meneliti keberadaan RTH privat, gedung-gedung perkantoran, dan pusat perbelanjaan yang kini menjamur.

Kedua, normalisasi 13 sungai yang membelah kota Jakarta yang lebar semula hanya 20-30 meter menjadi 100 meteran. Di spanjang bantaran juga harus dibangun jalur hijau. “Karena itu perlu merelokasi warga di sepanjang bantaran dengan pendekatan rekayasa social,” ujar bapat dari dua anak itu.

Ketiga, normalisasi saluran air mikro dari hanya 60 cm menjadi minimal 2 meter dan semua terhubung secara ekodrainase. Keempat, revitalisasi dan optimalisasi waduk dan situ yang sudah ada. Bebaskan dari eceng gondok, keruk lumpurnya agar tak dangkal, dan bebaskan dari hunian liar.

Yang juga harus diseriusi adalah perlunya koordinasi antar wilayah di kawasan Jabodetabekjur (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerak, Bekasi, dan Cianjur). Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, Jawa Barat, Banten, serta pemerintah kabupaten/ kota se-Jabodetabek harus bersepakat untuk membenahi tata ruang bersama. “Tidak bisa salah satu. Harus bersama,” kata dia.

Dengan pembenahan tata ruang dari hulu sampai ke hilir, tentu saja membutuhkan kompensasi yang adil. . itu, tentu dari hulu ke hilir ada semacam konpensasi yang adil. Rikan kompensasi kepada Pemerintah Bogor yang selama ini harus menjaga hutan lindungnya dan menutup izin pembangunan vila-vila. (saksono)

BIODATA

Nama : Ir Nirwono Joga, MLA

Tempat tgl lahir : Jakarta, 11 Oktober 1968

Istri : Tuniek Renita Indrawatie

Anak : Dhaneswara Nirwana Indrajoga dan Dhanakirti Nirwana Indrajog

Pekerjaan :

1. staf pengajar Fakultas Arsitektur Lansekap dan Teknologi Lingkungan, Universitas Trisakti.

2. Arsitek lansekap madya

3. Koordinator Tim Pendamping Program Pembangunan Kota Hijau (P2KH) bersama Direktorat Jenderal Penataan Ruang, Kementerian Pekerjaan Umum.

Aktivitas :

1. Ketua Kelompok Studi Arsitektur Lansekap Indonesia (KeSALI).

2. Koordinator Peta Hijau Jakarta sejak 2008.

3. Wakil Ketua Pengurus Nasional Ikatan Arsitek Lansekap Inonesia

4. Dewan Pakar Badan Pelestarian Pusaka Indonesia (BPPI)

5. Penggiat Gerakan Indonesia Menghijau.

Related posts