Membangun Keberpihakan pada Kaum Miskin

Oleh: Bintang MN, Dosen FISIP Universitas Satya Negara Indonesia, Sekretaris Eksekutif Sinergi Indonesia

Rabu, 29/05/2013

Rencana kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) semakin jelas. Menurut rencana, premium akan naik Rp2.000 menjadi Rp6.500 per liter, sedangkan solar naik Rp1.000 menjadi Rp5.500 per liter. Harga solar lebih rendah daripada premium dengan alasan banyak angkutan umum dan para nelayan yang menggunakan solar. Alasan lain, solar banyak dipakai angkutan barang, maka BBM itu lebih cocok dikenakan harga lebih murah dengan tujuan agardampak terhadap inflasi tidak begitu besar. Berdasar perhitungan Kementerian Keuangan, kenaikan harga BBM bersubsidi menyebabkan peningkatan laju inflasi hingga mendekati tujuh persen.

Angka ini lebih tinggi dari asumsi inflasi dalam APBN sebesar 4,9 persen pada 2013. Namun, besaran kenaikan BBM tersebut masih menunggu pembahasan Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (RAPBN-P 2013) dengan DPR yang akan segera dilakukan dalam waktu dekat. Pada pembahasan dengan wakil rakyat itu, masalah yang sangat penting untuk dicarikan solusi adalah perihal dampak kenaikan harga BBM terhadap warga miskin. Seperti yang sudah berulangkali disampaikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, bantuan kepada masyarakat miskin merupakan harga mati.

Mereka akan sangat terpengaruh atas kenaikan harga BBM tersebut. Inflasi yang meningkat akan mengurangi daya beli mereka khususnya kepada harga pangan. Pendapatan mereka akan tersedot ke bahan makanan, sehingga dana untuk kesehatan, pendidikan, dan keperluan lain akan makin sedikit. Kompensasi kenaikan harga BBM bersubsidi untuk masyarakat miskin sudah disiapkan pemerintah dalam RAPBN-P 2013.

Rencananya, program-program sebagai bentuk proteksi sosial tersebut akan dibawa ke DPR. Program pengentasan kemiskinan yang akan diperluas cakupannya antara lain beras miskin (raskin), beasiswa untuk siswa miskin (BSM), dan Program Keluarga Harapan (PKH). Disamping program-program yang sudah ada, pemerintah juga menambah program tambahan Bantuan Langsung Sementara Masyarakat (BLSM).

Pada hakekatnya, BLSM berbeda dengan Bantuan Langsung Tunai (BLT) yang dulu pernah diberikan pemerintah saat menaikkan harga BBM. BLSM khusus untuk masyarakat tidak mampu ini diharapkan bisa mengantisipasi meningkatkan angka kemiskinan akibat kenaikan harga BBM. Pemerintah akan menyalurkan BLSM selama empat bulan, terhitung sejak kebijakan kenaikan harga BBM subsidi dijalankan.

Dana BLSM yang mencapai Rp13 triliun akan diberikan kepada 15,5 juta Rumah Tangga Sasaran (RTS). Setiap bulannya, setiap RTS akan menerima Rp150 ribu. Sejatinya, BLSM adalah salah satu jenis perlindungan sosial yang disiapkan pemerintah selain Program Keluarga Harapan (PKH), Raskin dan Bantuan Siswa Miskin (BSM). Disadari, penyaluran BLSM akan menjadi perdebatan di DPR. Beberapa anggota DPR dan pengamat “mencurigai” seolah bantuan sosial tersebut bermotif politik untuk kepentingan partai tertentu.

Dengan pembahasan yang jernih diharapkan akan muncul pemahaman bersama tentang perlunya usaha untuk membantu rakyat miskin. Sosilalisasi BLSM perlu digalakkan kepada mahasiswa, lembaga swadaya masyarakat, tokoh, ulama dan sebagainya agar merekabisa memahami esensi program tersebut baik. Kenaikan harga BBM adalah kepentingan bersama untuk menyelamatkan APBN dan ekonomi Indonesia pada umumnya.

Menanggulangi Kemiskinan

Sementara itu, perjalanan tahun politik kian terus menghangat. Berbagai figur yang merasa pantas berkompetisi dalam pemilihan umum Presiden Wakil Presiden 2014 juga sudah mulai berkompetisi menjual pikiran dan gagasan kepada rakyat. Ada yang sudah lama dan belakangan agak adem ayem, ada pula yang baru yang sedang getol-getolnya. Sosialisasi diri para anak bangsa itu dilihat dari sisi positif, tentu menarik perhatian. Paling tidak memberi suasana menarik dalam konteks kontribusi gagasan dan pemikiran bagi keberlangsungan bangsa ini ke depan.

Bagi kita, rakyat, gagasan itu menarik. Paling tidak, karena melalui gagasan itu rakyat dapat melihat “isi bagasi” mereka dalam perjuangan panjang mewujudkan cita-cita dan tujuan Kemerdekaan RI, 17 Agustus 1945. Yaitu: Mencerdaskan bangsa, menyejahterakan rakyat, dan menegakkan keadilan sebagai pondasi utama sebuah bangsa yang demokratis. Selebihnya adalah kemauan dan kemampuan leadership dan manajerial dalam proses pengambilan keputusan yang sungguh berpihak kepadarakyat. Khususnya atas berbagai persoalan yang selama membuka dan menuntun kehidupan manusia (warga negara) agar sampai pada kebahagiaan hakiki. Dalam bahasa konstitusi, itu bermakna kewajiban imperatif negara untuk mewujudkan cita-cita kemerdekaan: kehidupan bernegara yang adil dan makmur, satu untuk semua, semua untuk satu.

Teladan spiritual yang disemai Sidharta Gautama adalah kemampuannegara mewariskan nilai-nilai moral dan akal budi bagi seluruh manusia Indonesia, baik sebagai pribadi maupun sebagai warga negara. Warisan monumental Sidharta telah meruntuhkan arogansi kuasa, sikap picik, dan memuja kemewahan menuju kesederhanaan hidup. Sebab, hidup yang berkualitas harus melalui pematangan akal-budi guna mewujudkan kesempurnaan hidup (nirwana). Inilah sesungguhnya cita-cita cerdas yang direkomendasi oleh konstitusi kita.

Bagi ummat Budha sendiri, perayaan Waisak menjadi momentum kebangkitan dari krisis spiritual menuju pemuliaan nilai-nilai kemanusiaan dan kematangan pribadi yang paripurna. Penderitaan sang Budha ketika meninggalkan rumah untuk hidup dan belajar bersama bagi kita, terutama bagi para pemimpin bangsa.

Maka, seiring dengan momentum Waisak tahun ini, sebagai bangsa, selayaknyapara pemimpin dan elite negara menunjukkan tekad serius sebagai pelayan umat yang sanggup menebar nilai-nilai kemanusiaan, keberkahan, dan kebermanfaatan serta memperkuat semangat persatuan dan kesatuan bangsa melalui penghargaan atashak-hak rakyat. (analisadaily.com)