Ancaman Economic Bubble?

Terlepas dari berbagai klaim pertumbuhan ekonomi yang sering disampaikan pemerintah, pada kenyataannya kondisi perekonomian nasional kini dalam posisi bergerak ke arah penurunan. Indikator ekonomi itu sudah terlihat jelas dalam perubahan asumsi makro dalam APBN-P 2013.

Meski potensi rezim petumbuhan tinggi akan tercapai, sesungguhnya yang mengalami pertumbuhan adalah sektor non-tradeable yaitu yang sedikit menyerap tenaga kerja, seperti sektor jasa, keuangan, transportasi dan perdagangan. Sebaliknya, sektor yang berpotensi menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar (tradeable) seperti pertanian, pertambangan dan manufaktur, justru mengalami kemunduran.

Itupun kualitas pertumbuhan yang tidak baik ini pun dapat ditelusuri dari penyaluran kredit yang ternyata lebih banyak diberikan untuk sektor yang tidak memproduksi barang (riil), tapi lebih banyak ke sektor konsumsi dan spekulasi keuangan.

Pertumbuhan ekonomi nasional juga masih bertumpu pada komoditas primer, dan belum masuk ke sektor advanced industry. Ini juga memperlihatkan bahwa Indonesia masih sangat tergantung pada sumber daya alam yang apabila tidak dikelola dengan baik akan mempercepat keruntuhan. Apalagi, pertumbuhan ekonomi yang tergantung pada esktraksi sumber daya alam sangat tidak stabil. Selain itu, bila Indonesia kehabisan sumber daya alam, misalnya minyak bumi, maka kelabilan ekonomi nasional akan semakin cepat menghampiri.

Tidak hanya itu. Indikator lainnya menunjukkan fenomena konsumtif berlebihan seperti di dunia otomotif, dari motor hingga mobil-mobil mewah banyak berseliweran di jalan, hingga blanko STNK pun habis tanpa stok saat mengurus perpanjangan STNK dan harus menunggu beberapa bulan ke depan. Ini gara-gara hanya karena membludaknya pembelian otomotif di Indonesia.

Harga properti dan tanah juga naik gila-gilaan, di kawasan elite Menteng di Jakarta Pusat misalnya, pada periode Januari-Mei 2013 harga semeter persegi sudah mencapai nilai Rp 100 juta lebih. Tapi harga setinggi itupun tetap dibeli, harga-harga perumahan, apartemen dan properti lainnya di Indonesia juga semakin naik tanpa patokan yang jelas, tapi tetap dibeli dan mampu terbeli oleh masyarakat. Luar biasa daya beli masyarakat pada saat ini.

Lalu apakah masih ingat orang berebut antre panjang bagaikan ular di setiap ada peluncuran handphone keluaran terbaru dengan harga diskon? Harga sebuah sandal atau Hp yang kelewat mahal “tak masuk akal” jauh dari biaya produksi hanya ada di Indonesia, karena masyarakatnya sangat konsumtif terhadap merk “kelas dunia” tertentu di atas negara-negara lainnya.

Indonesia merupakan salah satu pasar potensial di dunia dengan jumlah penduduk 230 juta lebih, yang nyaris semuanya memakai barang impor. Berbeda dengan banyak negara lain yang penduduknya jauh lebih banyak ketimbang Indonesia, namun penduduknya tidak begitu konsumtif apalagi terhadap suatu brand luar negeri.

Namun kita harus mewaspadai sejak dini. Karena mungkin saja salah satu indikator awal krisis moneter Indonesia sudah di depan mata ketika harga-harga naik tanpa patokan, sebagian besar masyarakat tetap membelinya. Adalah gelembung ekonomi (economic bubble), atau gelembung spekulatif, atau gelembung finansial yang merupakan cermin adalah perdagangan dalam volume besar dengan harga yang sangat berbeda dengan nilai intrinsiknya.

Meski ada banyak penjelasan tentang penyebab gelembung ekonomi, namun belakangan ini diketahui bahwa economic bubble dapat muncul bahkan tanpa didahului ketidakpastian, spekulasi, atau rasionalitas terbatas. Waspadalah!

Related posts