Relativitas Kekuatan Ekonomi

Selasa, 28/05/2013

Oleh : Tumpal Sihombing

Presiden Direktur BondRI

Kombinasi tingkat yield yang rendah dan pertumbuhan ekonomi yang relatif masih tinggi telah memberikan potensi upside namun terbatas bagi industri jasa keuangan dan pasar modal di negera-negara berkembang dalam kategori peringkat investasi.

Indonesia adalah salah satu negara sasaran investasi yang masih dilirik oleh para investor global, dengan asumsi pertumbuhan ekonomi yang masih menjanjikan dalam kurun jangka panjang ke depan. Yield spread antara pasar di Indonesia dengan negara maju masih sangat lebar. Selama The Fed dan bank sentral negara-negara maju masih menawarkan suku bunga yang lebih rendah, permintaan terhadap aset yang ber-return tinggi dari negara berkembang dengan peringkat investasi masih akan menjadi primadona.

Ditambah dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang relatif masih jauh lebih baik daripada negara berkembang lainnya secara rata-rata, plus kondisi kawasan Eurozone yang masih carut-marut, tak heran jika Indonesia akan tetap menjadi safe-haven para investor global. Sekarang yang menjadi pertanyaan penting dan relevan adalah “apakah kekuatan perekonomian Indonesia saat ini bersifat real atau relatif semata?”, atau “apakah terpuruknya negara maju saat ini membuat perekonomian nasional terkesan relatif kuat?”, atau “apakah Indonesia dinyatakan sebagai negara safe-haven adalah karena para investor global sedang kecewa berat dengan kondisi investasi mereka di negara maju?”, atau singkat kata, “apakah perekonomian Indonesia saat ini sedang mengalami blessing in disguise?”

Kelemahan utama dari sistem perekonomian terbuka adalah kerentanan perekonomian domestik terhadap gejolak kurs Valas dan bahan bakar yang ditetapkan dalam cakupan pasar global. Jika berhadapan dengan kondisi eksternal, maka semua bentuk persepsi terhadap kekuatan ekonomi akan menjadi relatif, tidak ada yang absolut, termasuk perekonomian Indonesia.

Dalam skenario stress-test yang dilakukan terhadap BUMN untuk ragam state of nature dalam asumsi perekonomian berdasar RAPBN-2013 dalam jangka pendek ke depan, tak ada yang satupun skenario yang membahas apa yang akan terjadi apabila USD/Rp melemah ke level 13.000 ke atas. Artinya, perekonomian Indonesia tidak akan sanggup bertahan jika state of nature bergerak ke arah sana. Dengan kata lain, pemerintah akan cenderung pasrah untuk menghadapi apapun yang terjadi dengan satu premis, yaitu “badai pasti berlalu,” sebagaimana yang terjadi pada krisis 1997-1998 yang sempat melanda perekonomian Indonesia dimana Rupiah sempat bertengger di level 16000-17000.

Artinya, apapun yang kita lalui, pemerintah akan berprinsip, “we shall overcome.” Dalam konteks ekonomi normatif, hal itu ada baiknya. Namun dalam ekonomi positif, pendekatan seperti ini terlalu riskan, naif dan kurang bertanggung jawab. Jika tidak ada acuan yang dapat digunakan sebagai basis pembentukan kebijakan saat pricing valas dan bahan bakar bergejolak secara eratik dan tak terkendali, maka bisa disimpulkan bahwa kekuatan perekonomian kita selama ini adalah bersifat semu dan sangat rentan.

Ada dua kelemahan utama perekonomian Indonesia, yaitu lemahnya struktur integral perekonomian dan rentannya ekonomi domestik terhadap gejolak eksternal. Ironisnya, kedua kelemahan tersebut saling berkorelasi dan sedang berlangsung saat ini. Secara relatif, ekonomi kita kuat. Namun secara sistemik, ekonomi kita sangat lemah dan rentan.