Astra Sedaya Finance Tawarkan Kupon Hingga 7,75%

Selasa, 28/05/2013

NERACA

Jakarta- PT Astra Sedaya Finance (ASF) menerbitkan obligasi berkelanjutan II dengan total nilai Rp 10 triliun. Untuk tahap pertama anak usaha PT Astra International Tbk (ASII) ini menawarkan obligasi senilai Rp 3 triliun. “Rp 3 triliun merupakan nilai maksimal. Namun kami akan serahkan ke penjamin emisi obligasi kami,” kata Presiden Direktur ASF, Djony Bunarto Tjondro di Jakarta, Senin (27/5).

Menurutnya, obligasi yang diterbitkan ini terdiri atas tiga seri dengan kupon maksimal 7,75%. Untuk seri A diterbitkan dengan tenor 370 hari dengan kupon 6,25-6,75%. Seri B memiliki tenor 24 bulan dan kupon 6,75-7,25%. Sementara untuk seri C memiliki tenor 36 bulan dan kupon 7,25-7,75%.

Dana dari hasil penerbitan obligasi ini, lanjut dia, seluruhnya akan digunakan untuk modal kerja pembiayaan kendaraan bermotor. Pihaknya mencatat, per Desember 2012 perusahaan telah menyalurkan pembiayaan senilai Rp 20,47 triliun atau mengalami kenaikan 32% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Sebagai penjamin pelaksana emisi, perusahaan menunjuk PT BCA Sekuritas, PT CIMB Securities Indonesia, PT HSBC Securities Indonesia, PT Mandiri Sekuritas, PT RHB OSK Securities Indonesia, dan PT Standard Chartered Securities Indonesia.

Head of Investment Banking PT Mandiri Sekuritas Dadang Suryanto mengatakan, investor yang dibidik untuk penerbitan obligasi tersebut lebih kepada institusi atau asosiasi. “Investornya kami targetkan fund manager, perbankan, asuransi, dan dana pensiun karena dilihat dari tenornya sendiri.” jelasnya.

Untuk penerbitan obligasi ini, masa penawaran awal dijadwalkan pada 27 hingga 31 Mei 2013, dan 3-5 dan 7 Juni 2013. Pernyataan efektif dari Otoritas Jasa Keuangan diharapkan dapat diperoleh pada 19 Juni 2013. Masa pencatatan obligasi di Bursa Efek Indonesia yaitu pada 28 Juni 2013.

Terkait tren penerbitan obligasi, analis obligasi dari Lembaga Penilai Harga Efek Indonesia, Fakhrul Aufa mengatakan, saat ini investor lebih berhati-hati dalam menempatkan dananya. Karena dengan terjadinya kenaikan BBM secara otomatis akan memicu kenaikan inflasi. Oleh karena itu, untuk mengatasi potensi naiknya yield akibat inflasi. Maka emiten disarankan untuk segera melakukan penerbitan obligasi karena saat ini yield masih cukup rendah.

Meskipun demikian, lanjut dia, momen terjadinya kenaikan yield, sejauh ini dapat diimbangi seiring kembali masuknya asing di pasar. Selain itu, pertumbuhan ekonomi Indonesia saat ini dinilai masih terbilang positif. “Kalaupun kupon yang ada saat ini naik, tapi itu masih relatif lebih rendah dari penerbitan obligasi dua atau tiga tahun yang lalu.” ucapnya.

Menurutnya, dengan pertumbuhan ekonomi yang diproyeksikan oleh Bank Indonesia sebesar 6,3%, masih akan mampu untuk mendorong pertumbuhan pasar obligasi sekitar 15-20%. Namun, jika yang terjadi adalah sebaliknya, atau pertumbuhan ekonomi lebih rendah dari yang diekspektasikan maka hal itu akan sangat berisiko bagi emiten dan pasar secara umum. (lia)