Pemerintah Bakal Tambah Kilang Minyak di 2014

Sektor Energi

Selasa, 28/05/2013

NERACA

Jakarta - Guna meningkatkan ketahan enegi nasional, pemerintah bertekad membangun kilang menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Menurut Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jero Wacik, pelaksanaan groundbreaking atau peletakan batu pertama akan mulai dilakukan pada 2014. Saat ini, kata Jero, Indonesia membutuhkan kilang baru sehingga mendesak untuk dibangun karena kalau tidak maka akan mengancam ketahanan energi.

Jero menyatakan meskipun pembangunan kilang itu baru akan rampung pada 2018, namun persiapannya harus dimulai sejak saat ini. Penegasan mengenai pentingnya pembangunan kilang, juga telah disampaikan Menteri ESDM kepada Menteri Keuangan Chatib Basri. "Saya minta agar dipermudah urusan membuat kilang," ujarnya di Jakarta, Senin (27/5).

Untuk saat ini, kata Jero, pembangunan kilang yang dibiayai oleh APBN sudah memasuki tahap studi kelayakan (feasibility study/FS). Diharapkan dari hasil studi ini, dapat diperoleh hasil kajian mengenai produk yang dihasilkan, lokasi, keekonomian serta teknologi yang digunakan. Proyek multi years ini diperkirakan memakan biaya sekitar Rp 90 triliun.

Direktur Utama PT Pertamina (persero) Karen Agustiawan menilai hampir dua dekade Indonesia tidak pernah membangun kilang minyak baru, padahal kebutuhan BBM terus meningkat. Kilang terakhir yang dibangun adalah Kilang Balongan pada 1994. "Indonesia perlu segera membangun kilang, kilang memang harus ada," kata Karen.

Dikatakan Karen, kilang minyak dibangun pada zaman Presiden Soeharto awalnya hanya untuk memasok BBM ke PT PLN (Persero). "Kondisi zaman Soeharto dulu, kilang hanya untuk memasok BBM ke PLN dan bukan untuk produksi premium," ujarnya.

Saat ini, kebutuhan premium jauh lebih banyak, sementara produksi kilang Indonesia tidak mampu memenuhi kebutuhan masyarakat Indonesia setiap harinya. "Makanya tambahan kilang minyak harus," tandasnya.

Pembangunan Kilang

Seperti diketahui, Pertamina berencana untuk membangun dua kilang minyak di Tuban dan Balongan bekerja sama dengan Kuwait Petroleum Corporation (KPC) dan Saudi Aramco melalui anak usahanya, Saudi Aramco Asia Company Limitied. Pembangunan dua kilang tersebut rencananya dapat dimulai pada 2013 dan rampung pada 2018 dan 2019 dengan investasi mencapai US$ 20 miliar dengan kapasitas produksi total 600 barel per hari.

Namun, rencana menambah kilang baru yang berencana beroperasi pada 2018 saat ini terhambat, karena Kementerian Keuangan menolak memberikan insentif kilang kepada dua investor yakni Saudi Aramco dan Kuwait Petroleum Corporation.

Dirjen Migas Kementerian ESDM Edy Hermantoro menjelaskan apabila benar insentif kilang tersebut ditolak Kementerian Keuangan, dia menyarankan Pertamina segera mencari partner lainnya. "Kalau tidak bisa, Pertamina bisa ganti partner lain yang mau membangun kilang, karena masing-masing investor punya komponen hitungan yang berbeda-beda, namun kami upayakan insentif tersebut bisa diterima," katanya.

Saat ini menurut Edy Indonesia sangat membutuhkan kilang minyak baru. Kebutuhannya mendesak, diharapkan ada tambahan kilang di 2018. "Kebutuhan kilang sangat mendesak, 2018 diharapkan ada tambahan kilang, karena ini untuk menutupi kekurangan produksi minyak kita, saat ini kan kilang yang kita punya maksimal hanya bisa produksi sekitar 800.000 barel, sementara kebutuhan minyak kita saat ini 1,4 juta KL per hari," tandasnya.

Pengamat Energi Fabby Tumiwa mengatakan sudah saatnya Indonesia menambah kilang minyak. Pasalnya, kebutuhan BBM di Indonesia sekira 1,3-1,4 juta barel per hari dengan kapasitas kilang domestik hanya 900 ribu bph. "Perlu kita bangun kilang untuk kurangi impor. Ini keputusan bisnis dan politik energi. Saya cenderung melihat kapasitas kilang kita harus ditambah tapi enggak boleh lepas dari konteks bisnisnya," ungkap Fabby.

Fabby menambahkan, kendati demikian, produksi minyak Indonesia saat ini hanya 841 ribu bph. Dirinya meyakini di luar tersebut, Indonesia harus tetap membangun kilang minyak agar Indonesia tidak selalu mengimpor minyak. "Sekarang membuat Indonesia selalu mengimpor minyak. Memang saat ini produksi minyak hanya 841 ribu bph tapi angka tersebut akan bertambah dengan seiringnya SKK Migas yakin akan menembus produksi minyak hingga satu juta barel," jelasnya.

Fabby mengungkapkan, peran pemerintah dalam pembangunan kilang minyak bisa membuat pertahanan energi untuk ke depan. "Dengan adanya kilang baru bisa dipastikan bahwa pasokan BBM bisa dihasilkan dari dalam negeri. Sekarang semua BBM kita tergantung ke kilang Singapura," pungkasnya.