Kinerja Cikarang Dry Port Positif - Arus Kontainer Meningkat

NERACA

Jakarta - Keberadaan Cikarang Dry Port (CDP) di kawasan industri Jababeka, Cikarang, Jawa Barat mulai mendapat perhatian dari perusahaan-perusahaan yang selama ini melakukan kegiatan ekspor-impor. Sebagian besar perusahaan-perusahaan itu berada di koridor jalan tol Bekasi-Cikampek dan Bogor. Hal ini terlihat dari kinerja CDP pada kuartal I 2013. Selama periode Januari-April, arus kontainer yang masuk ke pelabuhan darat pertama di Indonesia ini meningkat signifikan. Jika pada 2012 lalu, kontainer yang keluar-masuk CDP mencapai 6.444 TEU’s, maka selama empat bulan pertama tahun ini telah mencapai 6.558 TEU’s. Benny Woenardi, Managing Director CDP, mengatakan peningkatan itu tak lepas dari kerja keras Tim CDP untuk meyakinkan perusahaan-perusahaan yang ada di sekitar kawasan industri Cikampek, Cikarang, dan Bekasi. “Dari yang tidak mau menjadi coba-coba dan akhirnya mau menggunakan fasilitas yang ada di CDP ini,” ujar dia di Jakarta, Minggu (26/5) pekan lalu.

Sebagian besar perusahaan itu telah membuktikan sendiri kecepatan bill of landing jika melalui CDP. Waktu dwelling time bisa berkurang separoh dibandingkan jika mereka langsung ke Pelabuhan Tanjung Priok. Selama ini, bukan rahasia lagi kalau lama waktu tunggu peti kemas sejak turun dari kapal sampai dengan peti kemas keluar pelabuhan di Tanjung Priok rata-rata hingga enam hari.

“Peti kemas yang melalui CDP berkontribusi menurunkan dwelling time di pelabuhan Tanjung Priok, rata-rata 2,8 hari,” ungkpanya. Apalagi, CDP yang memiliki kode IDJBK pelabuhan internasional telah terhubung dengan pelabuhan lain di dunia melalui perusahaan pelayaran internasional serta sudah menggunakan standard internasional dalam pengelolaan pelabuhan. Fasilitas ini juga dipercaya sebagai Kawasan Pelayanan Pabean Terpadu pertama. “Di CDP kini telah beroperasi kepabeanan, fasilitas karantina untuk hewan dan tumbuhan, hingga layanan kepelabuhan secara online melalui Indonesia National Single Window,” kata Benny.

Selama ini sebagian besar peti kemas impor dari pelabuhan Tanjung Priok dalam keadaan isi, dan pulang dalam keadaan kosong. Melalui CDP, tersedia jasa logistik yang terintegrasi dengan puluhan perusahaan logistik dan supply chain seperti pelayaran, operator terminal, stasiun kereta, gudang, transportasi, logistik pihak ketiga, depo kontainer kosong, serta bank dan fasilitas pendukung lainnya. “Pelanggan kami yang hanya 19 perusahaan hingga tahun 2012 lalu. Kini bertambah menjadi 49 perusahaan hingga bulan April tahun ini,” ujarnya. Benny menjelaskan CDP yang resmi beroperasi sejak 8 Agustus 2010 itu baru benar-benar menjalankan aktivitas kepelabuhanan secara efektif sejak 2012.

Rp100 miliar

Menempati lahan seluas 200 hektar, CDP didesain mampu menampung peti kemas hingga dua juta TEUs. Kapasitas terpasang saat ini 400 ribu TEUs di mana utilisasi sudah naik dari 5% menjadi 34%. Karena itu, “Kami berani menargetkan 10 ribu TEU’s pada semester I 2013 dan 20 ribu TEU’s hingga akhir tahun 2013,” jelasnya. Keyakinan Benny didukung oleh keseriusan manajemen CDP untuk menambah berbagai fasilitas yang dibutuhkan para pelanggan. Saat ini tengah dibangun tiga gudang di mana masing-masing gudang luasnya 1,5 hektar. Ketiga gudang ini untuk mendukung rencana membangun pusat distribusi (distribution center). Belum lagi, jalan akses menuju jalan tol Jakarta-Cikampek di km 28 dan km 34. Pembangunannya telah berlangsung 70%-80%. “Jika selesai dibangun, nantinya ada tiga jalan akses dari jalan tol Cikampek menuju CDP,” tambah Benny.

Untuk mendukung berbagai fasilitas tersebut, Benny menjelaskan telah menambah Rp100 miliar untuk tahun ini. Dengan tambahan investasi tersebut, secara total investasi yang telah digelontorkan sejak 2010 hingga April tahun ini mencapai sekitar Rp600 miliar. Jika aktivitas bongkar muat optimal di CDP, dibutuhkan investasi hingga Rp2 triliun. Benny mengatakan idealnya utilisasi CDP sekitar 25% dari total investasi yang telah dikeluarkan perusahaan. Oleh karena itu, manajemen CDP menargetkan utilisasi sebesar 60 ribu TEUs hingga 100 ribu TEUs pada 2014, atau naik 200% dari realisasi utilisasi hingga saat ini. “Saat ini kami lebih banyak menangani impor daripada ekspor. Kegiatan impor 70% dan ekspor 30%,” tandas Benny. [ardi]

Related posts