Agus Marto Ingin Jaga Moneter dan Suku Bunga

Resmi Jadi Gubernur BI

Senin, 27/05/2013

NERACA

Jakarta - Pasca dilantik menjadi Gubernur Bank Indonesia (BI) yang baru, Agus Dermawan Wintarto Martowardojo, menyampaikan lima visi dan misi dalam memimpin bank sentral. Pertama, dirinya akan berusaha mengajak seluruh komponen di BI untuk mempelajari keadaan ekonomi global untuk memperkuat kebijakan moneter. Hal ini bertujuan untuk mengeluarkan bauran kebijakan moneter seperti tingkat suku bunga dan makro prudensial secara efektif, sehingga tingkat inflasi dan nilai tukar rupiah yang ditargetkan bisa tercapai. “Saya juga akan berbicara dengan otoritas fiskal maupun otoritas sektor riil, baik di pusat atau daerah, untuk bersama-sama mencapai tingkat inflasi yang ditargetkan. Lalu, kita ingin meyakinkan pasar uang, pasar devisa, supaya jadi pasar yang reliable,” kata Agus Marto di Jakarta, Jumat (24/5) pekan lalu.

Kedua, lanjta dia, adalah bahwa dirinya akan terus berusaha mendorong peningkatan stabilitas sistem keuangan. Oleh karena itu, BI akan semaksimal mungkin bekerjasama dengan lembaga-lembaga terkait, seperti Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Kementerian Keuangan (Kemenkeu). “Kita perlu berupaya agar RUU JPSK betul-betul bisa masuk (dalam pembahasan di DPR). Di dalam stabilitas sistem keuangan juga perlu adanya beberapa penguatan dan perubahan UU BI. Karena dengan adanya UU OJK, pengawasan perbankan pindah ke sana,” terang dia.

Ketiga, Agus Marto ingin pengalihan fungsi pengawasan BI ke OJK berlangsung dengan baik. “Sejak republik ini lahir, pengawasan perbankan ada di BI. Jadi diusahakan supaya (perpindahan) ini baik dan taat asas. Kita (BI) akan fokus ke makroprudensial, tapi ini juga tidak bisa dipisahkan dengan mikro. Perlu ada koordinasi yang baik. Semua sarana dan prasarana, juga sistem harus disiapkan dengan baik,” ungkapnya.

Keempat, Agus Marto akan mendorong supaya tercipta sistem pembayaran nasional yang efisien. “Ini terkait dengan wholesale dan retail transaction, yang perlu sistem yang baik dan terintegrasi, serta merujuk pada best practices di seluruh dunia. Karena selama ini dua transaksi itu masih terpisah-pisah sehingga saat ada integrasi sistem pembayaran tersebut, semua perbankan bisa melakukannya dengan baik,” papar Agus Marto.

Terakhir, memperkuat dan meningkatkan fungsi kebanksentralan dari BI untuk area-area pengembangan perbankan syariah, inklusi keuangan, perbaikan tata kelola dan hubungan internasional. “Apalagi Indonesia merupakan anggota G-20, juga menjadi chairman dalam pertemuan APEC Oktober nanti. Untuk dalam negeri, BI akan mempunyai fokus untuk menggerakkan perekonomian Indonesia yang baik, mengembangkan UMKM, dan iklim investasi secara umum,” jelasnya.

Dia juga mengutarakan pandangannya soal perbankan asing yang ada di Indonesia. “Kalau bank asing beroperasi di Indonesia. Apa itu dalam bentuk badan usaha maupun memiliki cabang di Indonesia. Ke depan, saya akan meminta masukan dari jajaran di BI. Lalu akan disampaikan secara spesifik soal bank asing, apakah memang ada permintaan merger dari salah satu bank,” tukas Agus Marto. [ria]