Dyviacom Targetkan Dana Rp 7 Triliun

Gelar Rights Issue

Senin, 27/05/2013

NERACA

Jakarta - PT Dyviacom Intrabumi Tbk (DNET) bakal melakukan penawaran umum saham terbatas dengan hak memesan efek terlebih dahulu (rights issue) tahap I sebesar Rp 7 triliun dengan jumlah saham yang dilepas sebanyak 14 miliar saham, “Otoritas Jasa Keuangan sudah beri izin pernyataan efektif. Rights Issue ini juga sudah disetujui pemegang saham dan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) dan segera digelar awal bulan depan, “kata Direktur Utama PT Dyviacom Intrabumi Tbk, Evensius Go di Jakarta akhir pekan kemarin.

Untuk aksi korporasi ini, nilai nominal saham yang ditawarkan sebesar Rp250 per lembar saham dan harga pelaksanaannya di Rp500 per lembar saham. Selain itu, dana yang dihimpun dari rights issue akan digunakan untuk penyertaan saham kepada tiga perusahaan milik grup Salim.

Rencananya, 28,55% dana hasil rights issue untuk membeli 165,01 juta lembar saham atau 35,84% saham PT Fast Food Indonesia Tbk (FAST) senilai Rp1,98 triliun. Sekitar 30,45% untuk membeli 318,89 juta lembar atau 31,50% saham PT Nippon Indosari Corpindo Tbk (ROTI) senilai Rp2,12 triliun.

Sekitar 37,65% untuk membeli 738,72 juta lembar atau 40% saham PT Indomarco Prismatama (IDM) senilai Rp2,62 triliun dan sisanya digunakan untuk modal kerja perseroan, “Seperti diungkap dalam prospektus, dasar kami melakukan rights issue karena performa perusahaan dalam lima tahun terakhir cenderung stagnan dengan keuntungan minim. Dengan investasi ini diharapkan dalam 1-2 tahun ke depan, keuntungannya dapat menopang perusahaan,”ujarnya.

Nantinya setiap pemegang 23 lembar saham lama yang tercatat dalam daftar pemegang saham (DPS) pada 5 Juni 2013 berhak atas 1.750 HMETD. PT Terra Konsuma Investama dan PT Buana Capital akan bertindak sebagai pembeli siaga dimana Buana Capital juga bertindak sebagai penasehat keuangan. Jika pemegang saham tidak melaksanakan ini, akan terkena dilusi maksimal 98,70%. HMETD dapat diperdagangkan baik di dalam maupun di luar BEI selama 8 hari mulai 10 Juni -19 Juni.

Bagikan Dividen

Selain itu, dia juga menjelaskan bahwa investasi perseroan masih di bawah 50%, sehingga keuntungan investasi yang didapat hanya dividen. Nantinya dividen yang dibagikan kepada ketiga perusahaan grup Salim tersebut akan masuk ke dalam pos pendapatan (beban) lain-lain di dalam laporan keuangan perseroan."Untuk proyeksi angka dividennya belum dapat kami sampaikan sekarang,"tandasnya.

Berdasarkan porsi total dividen yang diberikan oleh FAST dan ROTI di 2011 lalu senilai masing-masing Rp 46,04 miliar (Rp100 per lembar saham) dan Rp 29 miliar (Rp28,65 per lembar saham) dan IDM di 2012 sebesar Rp160 miliar. DNET mendapatkan laba bersih di 2012 sebesar Rp 221 juta.

Pemegang saham juga menyetujui untuk mengubah lini bisnis menjadi perusahaan investasi yang sebelumnya bergerak di bidang teknologi informasi. DNET juga akan menggunakan anggaran modal kerja yang jumlahnya sekitar Rp 200 miliar untuk pengembangan website yang dimilikinya, “Perusahaan akan menambah komputer, peningkatan server serta penguatan jaringan. Kami berharap dapat mengembangkan situs ini hingga seperti situs e-commerce Groupon. Diharapkan aksi korporasi ini tidak hanya menguntungkan pihak DNET saja, akan tetapi juga memberikan profit bagi tiga perusahaan tersebut,”paparnya.

Kemudian perseroan mengklaim tetap berkomitmen untuk memperbesar porsi saham publiknya (free float) setelah rights issue karena jika publik tidak melaksanakan haknya maka porsi saham free float akan menyusut menjadi 0,36%. (nurul)