Industri Reksa Dana Dinilai Belum Optimal - Targetkan 5 Juta Investor

NERACA

Medan – Keyakinan masih berprospeknya investasi reksa dana kedepan, maka dalam lima tahun industri reksa dana menargetkan bisa menjaring lima juta investor dengan dana kelolaan (investasi) sekitar 10% dari produk domestik bruto (PDB) nasional, “Dewasa ini jumlah investor masih 161.000 oleh karena itu memang perlu kerja keras untuk mencapai target lima juta pada lima tahun ke depan,\" kata Ketua Asosiasi Pengelola Reksa Dana Indonesia (APRDI), Denny R Thaher, di Medan akhir pekan kemarin.

Dia menuturkan, jumlah dana kelolaan reksa dana saat ini baru mencapai Rp190an triliun dengan investor sebanyak 161.000. Menurutnya, nilai dana dan jumlah investor reksa dana saat ini yang sudah diraih diakuinya belum maksimal bila dilihat sudah lamanya industri ini diperkenalkan atau sejak 17 tahun lalu.

Lanjutnya, belum maksimalnya industri investasi ini bila dikaitkan dengan jumlah penduduk kelas menengah Indonesia yang lumayan banyak dan pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Namun meski belum maksimal, kata Denny, trennya meningkat terus meski sempat anjlok hingga 30% saat terjadi krisis moneter tahun 1997/1998.

Pertumbuhan dana kelolaan tahun lalu, naik sembilan persen atau di bawah target yang sebesar 15 persen dan untuk investor 3-5% per tahun, “Perlambatan pertumbuhan terjadi karena pengaruhi krisis global. Mudah-mudahan tahun ini dan ke depannya bisa sesuai target,\"ujarnya.

Dia mengakui, dewasa ini reksa dana cenderung lebih mendekatkan dan memperkenalkan produk investasi itu kepada para keluarga dengan harapan paradigma masyarakat terhadap investasi di produk bisa berubah secara positif.

Sementara Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal Otoritas Jasa Keuangan, Nurhaida, mengatakan, edukasi memang sangat diperlukan dan masyarakat harus semakin cerdas untuk menetapkan pilhan investasinya.\"Jangan mudah tergiur dengan tawaran keuntungan tinggi karena itu biasanya mustahil direalisasikan.OJK sendiri dewasa ini semakin ketat mengawasi dan masyarakat diminta melaporkan temuan yang mencurigakan,\" katanya.

Disamping itu, Nurhaida mengungkapkan, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sudah menerima 29 pengaduan tentang investasi bodong dari nasabah di beberapa daerah.”Pengaduan itu sudah ditangani dan sedang dalam proses penyelidikan,”ungkapnya.

Kata Nurhaida, hasil penyelidikan sementara banyaknya nasabah yang tertipu dengan investasi bodong karena tertarik dengan keuntungan besar yang ditawarkan perusahaan. Karena itu, masyarakat diingatkan untuk tidak mudah percaya dengan penawaran produk keuangan jenis apapun kalau keuntungan yang ditawarkan hingga 10% ke atas per bulan. (ant/bani)

BERITA TERKAIT

Pizza Hut Targetkan Buka 60 Gerai Baru - Bidik Dana IPO Rp 81589 Miliar

NERACA Jakarta – Penetrasi pasar lebih luas lagi, PT Sarimelati Kencana Tbk (Persero) selaku pemilik jaringan gerai Pizza Hut di…

Izin Tenaga Kerja Asing Rawan Potensi Pungli - BANYAK INVESTOR MENGELUH

NERACA Jakarta – Dibukanya keran peraturan soal pekerja asing yang diyakini pemerintah mampu menggenjot pertumbuhan investasi di dalam negeri memiliki…

Chitose Targetkan Penjualan Rp 387 Miliar - Bidik Proyek Pemerintah

NERACA Jakarta – Memanfaatkan beberapa proyek pemerintah di sektor pendidikan dan kesehatan yang kenaikan anggaran yang cukup besar, emiten produsen…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

BEI Bangun Kampung Investor di Bengkulu

Dalam rangka memasyarakatkan pasar modal atau mendorong minat masyarakat berinvestasi di pasar modal, PT Bursa Efek Indonesia (BEI) berencana membangun…

Laba Bersih Acset Indonusa Tumbuh 27,14%

Di kuartal pertama 2018, PT Acset Indonusa Tbk (ACST) mencatat kenaikan laba bersih 27,14% menjadai Rp 38,92 miliar dibandingkan priode…

BEI Targetkan 2000 Investor di Sulawesi Utara

Sepanjang tahun ini, PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Sulawesi Utara (Sulut) menargetkan sebanyak 2.000 investor.”Kami cukup optimis target investor ini…