Serius IPO, Bank Maspion Naikkan Jumlah Saham Publik

Lepas 770 Juta Saham

Senin, 27/05/2013

NERACA

Jakarta-Serius merealisasikan pelepasan sahamnya ke publik, PT Bank Maspion Indonesia Tbk akan menambah jumlah saham yang dilepas melalui mekanisme penawaran umum saham perdana (initial public offering/IPO) dari 380 juta lembar saham menjadi 770 juta lembar saham.

Informasi tersebut disampaikan manajemen perseroan dalam prospektus ringkas yang diterbitkan di Jakarta, akhir pekan kemarin. Disebutkan, penawaran sebanyak-banyaknya 770 juta saham baru yang berasal dari portepel dengan nilai nominal Rp100 atau setara 19,99% dari modal ditempatkan disetor penuh.

Rencananya, dana dari hasil penawaran perdana saham akan digunakan untuk ekspansi kredit dalam rangka pengembangan usaha. Sebagai penjamin pelaksana emisi efek, perseroan telah menunjuk PT Makinta Securities. Adapun jadwal sementara penawaran perdana saham yaitu perkiraan tanggal efektif dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada 25 Juni 2013. Masa penawaran umum akan dilakukan pada 27 Juni-1 Juli 2013, penjatahan pada 3 Juli 2013, distribusi saham secara elektronik pada 5 Juli 2013, dan pencatatan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 8 Juli 2013.

Terkait kinerja perseroan, di akhir tahun 2012 total aset perseroan tercatat sebesar Rp3,40 triliun dari sebelumnya sebesar Rp2,79 triliun. Liabilitas perseroan naik menjadi Rp3,03 triliun dari Rp2,42 triliun. Pendapatan bunga bersih perseroan meningkat menjadi Rp127,73 miliar dari Rp105,94 miliar. Di sisi lain, laba komprehensif tahun berjalan turun menjadi Rp23,65 miliar dari Rp38,68 miliar.

Rasio kredit bermasalah atau non performing loan/NPL (gross) Bank Maspion Indonesia mengalami penurunan menjadi 0,24% dari 0,57% dan NPL (net) perseroan turun menjadi 0,17% dari 0,45%.Sedangkan rasio pinjaman berbanding depositonya (Loan to Deposit Ratio/LDR) tercatat naik menjadi 89,71% dari 79,91%.

Kinerja Industri

Sebagian besar kalangan menilai, dengan pertumbuhan ekonomi yang diproyeksikan tumbuh di atas 6% akan mendukung kinerja perbankan di tahun ini. Terbukti, di kuartal pertama 2013, kinerja keuangan beberapa bank besar seperti PT Bank Mandiri (BMRI), PT Bank Rakyat Indonesia (BBRI), dan PT Bank Negara Indonesia (BBNI) mencatatkan pertumbuhan 25-26% (year on year).

BMRI misalnya, pada kuartal pertama 2013 mencatatkan laba bersih Rp 4,3 triliun atau naik 26,4% dari periode sama tahun sebelumnya. Penyaluran kredit perseroan mencapai Rp 392 triliun atau tumbuh 19,7% dari periode sebelumnya yang sebesar 327,2 triliun. Sementara BBRI mencatatkan laba bersih sebesar Rp 5,01 triliun, atau naik 18,76% dibandingkan periode sama tahun lalu sebesar Rp 4,22 triliun. Adapun pertumbuhan kredit BRI tercatat naik 27,6% secara year on year menjadi Rp 361,25 triliun, dibandingkan kuartal pertama tahun sebelumnya sebesar Rp 283,13 triliun.

Tidak kalah dengan kedua bank tersebut, BBNI juga mencatatkan pertumbuhan yang sangat positif. Perseroan mencatatkan laba bersih sepanjang kuartal pertama 2013 sebesar 2,07 triliun, atau naik 34,3% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 1,54 triliun. Dari sisi kredit, perseroan mencatatkan kenaikan 21,6%, atau dari Rp 164,81 triliun menjadi Rp 200,5 triliun.

Analis saham PT Remax Capital, Lucky Bayu Purnomo mengatakan, di samping pertumbuhan kredit investasi, selama tiga tahun terakhir, banyak terjadi kegiatan merger dan akuisisi, antara lain Bank Ekonomi menjadi Bank Ekonomi HSBC, Bank NISP menjadi OCBC NISP, Bank NIAGA Menjadi CIMB NIAGA, Bank KESAWAN menjadi Qatar National Bank Kesawan (QNB Kesawan). Hal ini memberikan angin segar bagi industri perbankan di Indonesia untuk tumbuh pesat.

Selain itu, negara Indonesia termasuk negara berkembang, di mana sifat negara berkembang cenderung dapat menyesuaikan diri terhadap perubahan yang terjadi dari waktu ke waktu. Karena itu, Lucky menilai, kinerja sektor perbankan cenderung positif untuk setahun ke depan. Jadi, strategi yang harus dilakukan yaitu berinvestasi pada saham-saham yang memiliki kapitasisasi pasar dalam jumlah besar.