Kekuatan Indonesia Ada di Tengah

MEA 2015

Senin, 27/05/2013

NERACA

Jakarta – Ketua ASEAN Competitiveness Institute, Soy Pardede, mengatakan bahwa dari sisi kekuatan, posisi Indonesia dalam Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) adalah berada di tengah-tengah, yaitu di bawah Singapura, Malaysia, dan Thailand, tetapi masih di atas Vietnam. “Indonesia diuntungkan dengan adanya kekuataan kompetitif yang dapat dikembangkan, yang dapat meningkatkan daya saing ke depan,” kata Soy di Jakarta, Jumat (24/5) pekan lalu. Dia menambahkan, Indonesia diminta dapat menjadi andalan bagi MEA pada tahun 2015 untuk berkompetisi dalam perekonomian dunia. “Dalam rangka meningkatkan daya saing menyongsong MEA ini, maka perlu memanfaatkan comparative advantages berupa jumlah penduduk, sumberdaya alam(SDA), dan lokasi yang strategis yang saat ini dimiliki. Harusnya bisa jadi andalan untuk membentuk ASEAN yang kompetitif, maka perlu adanya koordinasi yang intensif antara Pemerintah, Dewan Perwakilan Rakyat, pelaku usaha, dan Komisi Pengawas Persaingan Usaha untuk bersinergi,” jelas Soy.

Jika ekonomi ASEAN terhubung, jelas dia, maka akan ada kebebasan lintas barang, jasa, investasi, buruh terdidik, dan aliran modal atau pendanaan. Indonesia harus siap menyambut ini agar dapat bersaing dan tidak hanya menjadi pasar. “Pembentukan MEA ini merupakan bagian dari mempersiapkan ASEAN untuk bersaing secara global. Indonesia seharunya dapat membawa bendera ASEAN dalam persaingan di pasar global dengan negara lain. Kebijakan yang berbeda-beda di masing-masing negara ASEAN yang menimbulkan ketidakseimbangan untuk bersaing, ini yang perlu menjadi perhatian menjelang MEA ke depan,” jelas Soy.

Untuk diketahui, pada triwulan I 2013, jumlah ekspor non-migas Indonesia ke Singapura, Malaysia, dan Thailand masing-masing adalah US$2.954,5 juta, US$1.924,8 juta, US$1.378,6 juta. Sementara impor Indonesia dari Singapura, Malaysia, dan Thailand dalam periode yang sama adalah US$2.470,1 juta, US$2.760,2 juta, dan US$1.509,0 juta. Dengan data tersebut, berarti Indonesia mengalami surplus perdagangan hanya dari Singapura, sedangkan dengan Malaysia dan Thailand Indonesia masih mengalami defisit perdagangan non-migas.

Namun begitu, dari total seluruh negara ASEAN, Indonesia masih mengalami surplus perdagangan non-migas. Pada triwulan I 2013, jumlah ekspor Indonesia ke ASEAN adalah senilai US$8.073,4 juta, sedangkan impornya senilai US$7.629,3 juta. Begitupun yang terjadi pada kuartal I 2012. Indonesia melakukan ekspor non-migas ke ASEAN senilai US$7.906,0 juta, sedangkan impor Indonesia dari ASEAN senilai US$7.747,9 juta. Indonesia, lanjut Soy, tetap perlu berhati-hati dengan produk-produk ASEAN. Hal tersebut sudah diingatkan oleh Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suryamin. “Terutama dari Thailand. Impor non-migas dari Thailand adalah yang terbesar ketiga, setelah impor dari China dan Jepang,” kata dia.

Indonesia perlu kuatir dengan barang-barang dari Thailand, kata Suryamin, terutama kendaraan roda empat. Lebih spesifik lagi adalah mobil sedan, seperti Honda City, Toyota Vios, dan Baleno. Dari tren data BPS terbaca bahwa kecenderungan impor mobil Indonesia adalah untuk jenis sedan. Deputi Bidang Statistik BPS Adi Lumaksono menafsirkan bahwa orang Indonesia semakin mencari privasi. “Orang itu semakin mencari privasi, mencari aman, yaitu dengan mobil yang jumlah penumpangnya sedikit. Ya sedan-sedan itulah,” kata Adi. [iqbal]