Sebabkan Kematian, Waspadai Kanker Prostat

Saat ini kecenderungan angka prevalensi kanker prostat di Indonesia terus meningkat. Sebuah studi bahkan menyebutkan bahwa prevalensi kanker prostat di Indonesia bisa mencapai 11 per 100.000 penduduk.

“Kejadian kanker prostat di seluruh dunia saat ini terus mengalami peningkatan. Di Asia, Jepang dan Korea mencatat peningkatan sebesar 2,5-5 kali lipat. Sementara di Indonesia sendiri, data dari rumah sakit besar di Jakarta, yaitu RSCM dan RS Dharmais menunjukkan kenaikan jumlah penderita penyakit ini hampir tiga kali lipat dalam 10 tahun terakhir,” kata Prof.dr.Rainy Umbas, PhD, SpU, spesialis bedah urologi.

Hasil studi yang sama di tahun lalu tentang kanker prostat di Indonesia menemukan bahwa 58,8% penderita kanker prostat baru datang memeriksakan diri ke dokter pada saat kanker tersebut sudah memasuki stadium lanjut.

Maklum, kanker prostat merupakan keganasan yang tidak memiliki gejala khas. Ketiadaan gejala khas inilah yang mengakibatkan sebagian besar penderita kanker prostat mengabaikan penyakit mereka dan seringkali datang berkonsultasi ke dokter pada saat penyakit mereka sudah memasuki stadium lanjut dimana kanker tersebut sudah menyebar ke tulang (terutama tulang panggul dan tulang belakang).Penyebaran ke tulang menimbulkan nyeri dan tulang menjadi rapuh sehingga mudah mengalami fraktur (patah tulang). Setelah kanker menyebar, biasanya penderita akan mengalami anemia.

“Kanker prostat juga bisa menyebar ke otak dan menyebabkan kejang serta gejala mental atau neurologis lainnya. pada tahap seperti ini risiko terjadinya kematian sangat tinggi. Oleh karena itulah kanker prostat sering dikatakan sebagai pembunuh yang datang diam-diam tanpa gejala,” tambah Prof.Umbas.

Ia mengatakan pemeriksaan dini memiliki peranan penting dalam upaya meningkatkan kualitas hidup penderita kanker prostat. Pria dengan riwayat keturunan (terdapat keluarga yang menderita penyakit serupa) dianjurkan untuk menjalani pemeriksaan deteksi dini sejak usia 40 tahun melalui pemeriksaan colok dubur atau Digital Rectal Examination (DRE).

“Melalui deteksi dini, angka harapan hidup penderita kanker prostat dapat meningkat hingga 60%. Di beberapa negara Asia, kampanye untuk melakukan deteksi dini bahkan sudah dimasukkan ke dalam program kesehatan pemerintah,” tegas Prof.Umbas.

Deteksi dini memungkinkan ditemukannya kanker prostat pada stadium lebih awal sehingga dapat dilakukan tindakan yang sesuai untuk mempertahankan kualitas hidup penderita kanker secara maksimal.

Related posts