Fuad Bawazier: Revolusi APBN Kita

RevolusiSiapapun presidennya dan siapapun menteri keuangannya, diyakini tak akan mampu membebaskan beban utang yang harus dicicil setiap tahun anggaran. Sebab, struktur atau pondasi APBN itu sendiri sangat rapuh. Mengapa? Karena besaran belanjanya tidak dalam posisi berkemampuan mendongkrak potensi pendapatan.

Kendati demikian, mantan Menteri Keuangan Fuad Bawazier yang kini aktif di jajaran pengurus teras Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura) ini berkeyakinan masih bisa menolong ekonomi Indonesia. Bagaimana caranya, berikut petikan wawancaranya.

Seperti apa kondisi perekonomian kita seperti yang tercermin dalam APBN saat ini?

Ini sangat mengawatirkan kita semua. Struktur APBN kita secara garis besar, sepertiganya untuk gaji pegawai baik di pusat maupun di daerah melalui dana alokasi khusus ke provinsi-provinsi. Lalu, sekitar 30% lagi belanja negara dalam bentuk berbagai subsidi. Repotnya, subsidi it uterus membengkak karena dalam bentuk energi yang harus kita impor dalam dalam bentuk dolar AS. Sedangkan, 30% lagi untuk membayar utang yang makin hari makin bertambah. Jika demikian, siapapun presidennya, siapapun menteri keuangannya, tak akan bisa memperbaikinya.

Anda tahu cara yang bisa diterapkan untuk menolong bangsa Indonesia?

Ya harus ada terobosan yang sangat berani, APBN harus kita revolusi, bukan cuma reformasi. Yaitu mengubah struktur belanjanya. Harus lebih banyak kita arahkan untuk belanja memperbaiki infrastruktur sehingga mampu menggenjot sektor produksi. Sektor produksi yang bernilai tambah tinggi dan gtidak banyak bergantung pada impor itulah yang bisa mendongkrak pendapatan negara, melalui devisa maupun perolehan pajak.

Hanya itu?

Tidak. Rombak atau kurangi belanja rutin untuk pegawai yang tidak perlu, terutama perjalanan dinas. Lalu perketat pengeluaran dengan memangkas secara besar-besaran mark up anggaran. APBN kita saat ini sangat tidak efisien. Hancur-hancuran. Jika tak diubah secara frontal, dari mana anggaran untuk menumbuhkan sektor produksi dan sektor riil hingga pertumbuhan ekonomi bertumbuh. Sekarang ini anggaran kita sengaja diciptakan untuk makin menumbuhkan ketergantungan terhadap barang-barang impor yang harganya terus naik. Itu yang menyebabkan keuangan negara selalu tekor.

Kalau begitu, apa memang ada yang sengaja mencari untung dari struktur APBN yang seperti itu?

Oya jelas. Ada pihak yang memang sengaja menciptakan kita tak melakukan terobosan dan bagaimana caranya agar selalu tergantung dengan luar negeri. Misalnya di bidang keuangan, perbankan, teknologi, telekomunikasi, juga pangan. Padahal kita kan sebetulnya negara agraris yang kaya akan sumber daya alam, tapi mayoritas bahan baku pangan kita sudah impor. Pertanian kita tak mampu membendung masuknya produk pertanian dan negara lain. Jika ini diterus-teruskan, petani kita akan bangkrut dan tak akan ada lagi yang mau menjadi petani.

Kabarnya, juga banyak produk undang-undang yang dibuat sengaja menguntungkan asing?

Itu sudah bukan rahasia umum lagi. Sangat banyak. Dengan demikian ada pihak yang sengaja mencari keuntungan atau mendapat komisi dari hasil barang impor tersebut baik pengusaha maupun pejabat pemerintahnya, juga di kalangan legislatif.

Misalnya?

Ya undang-undang perbankan, undang-undang tentang investasi, undang-undang pertanahan yang memungkinkan pemilikan asing hingga 99%. (saksono)

Related posts