Indonesia Jadi Magnet Investor Asing

Tawarkan Return Tinggi

Senin, 27/05/2013
NERACA

Jakarta –Menjadi terbaik ketiga di Asia setelah Jepang dan Filipina dan juga pertumbuhan indeks Bursa Efek Indonesia (BEI) tergolong tinggi disamping return yang ditawarkan, menjadi keyakinan industri pasar modal di Indonesia masih menjadi magnet investor asing.

Kepala Divisi Bursa Efek Indonesia Poltak Hotradero mengatakan, investasi pasar modal di Indonesia paling menguntungkan bila dibandingkan negara-negara ASEAN lainnya,”Apabila ada investor yang menginvestasikan US$ 100 pada 2003 di saham-saham utama pasar modal Indonesia, maka saat ini nilainya sudah mencapai US$ 980,"ujarnya di Jakarta akhir pekan kemarin.

Poltak mengatakan, apabila terjadi kasus yang sama yaitu seseoang menginvestasikan US$ 100 pada saham utama di Singapura 10 tahun lalu maka nilainya saat ini adalah US$ 335, sedangkan di Malaysia investasi tersebut tumbuh menjadi US$ 336.

Namun, apabila US$ 100 diinvestasikan pada saham utama di Thailand 10 tahun lalu maka nilainya akan naik US$ 556, sedangkan di Filipina tumbuh menjadi US$ 709. Menurutnya, fenomena itu menunjukkan ada tiga pasar modal besar di ASEAN, yaitu Indonesia, Filipina dan Thailand. Indonesia merupakan yang terbesar dibandingkan negara-negara ASEAN.

Kata Poltak, pasar modal adalah sektor terbuka yang bisa diakses oleh investor dari seluruh dunia. Seorang investor bisa menanamkan dan menarik modalnya di pasar modal pada waktu bersamaan. Hanya saja, Indonesia dinilai belum mampu memanfaatkan pasar modal yang besar dan sangat menguntungkan ini untuk mengembangkan perekonomian.

Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Muliaman Darmansyah Hadad, pernah mengungkapkan, meningkatnya kapitalisasi pasar saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) belum bisa mengungguli Singapura, “Dengan kapitaslisasi pasar yang terus meningkat, pasar modal kita hanya kalah oleh Singapura,”katanya.

Kendatipun demikian, dirinya mengakui, pasar modal dalam negeri sudah lebih besar dari Malaysia, Thailand, dan Filipina. Oleh karena itu, pasar modal dalam negeri masih punya potensi besar dalam menguasai pasar modal regional. Hanya saja, menyambut Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2015 masih belum siap.

Saat ini kinerja emiten nasional semakin menunjukkan kinerja yang baik, sehingga investor asing maupun domestik terus mencoba menempatkan saham di emiten Indonesia, khususnya melalui sektor yang dianggap memiliki prospek baik. Namun kata Muliaman, saat ini investor nasional hanya berjumlah tidak lebih dari 400.000, dengan jumlah perusahaan yang sudah melakukan IPO ("initial public offering") sebanyak 150 perusahaan.

Jumlah tersebut menurut dia, jauh di bawah kapasitas yang seharusnya bisa dimiliiki oleh pasar modal nasional, “Maka itu pendalaman pasar, penguatan efisiensi pasar dan integritas pasar menjadi bagian penting. Perlu adanya variasi produk keuangan yang bisa diakses masyarakat,"ujarnya. (bani)