TOWR Bukukan Pendapatan Rp 720,2 Miliar

Jumat, 24/05/2013

Kuartal pertama tahun ini, PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR) melalui anak perusahaan operasionalnya PT Profesional Telekomunikasi Indonesia (Protelindo) berhasil membukukan pendapatan usaha Rp 720,2 milyar dan EBITDA sebesar Rp 600,7 milyar. Informasi tersebut disampaikan perseroan dalam siaran persnya di Jakarta, Kemarin.

Disebutkan, dengan perolehan EBITDA sebesar Rp 600,7 miliar menggambarkan peningkatan dari tahun ke tahun sebesar 49,6% dalam pendapatan usaha dan 48,7% dalam EBIDTA dibandingkan priode yang sama tahun lalu.

PT Sarana Menara Nusantara Tbk sebagai pemilik dan operator menara telekomunikasi independen terbesar di Indonesia berhasil menambah 532 menara dan 1.346 penyewa selama kuartal pertama tahun ini, yang menyebabkan jumlah keseluruhan menaranya menjadi 8.992 menara dan total penyewa menjadi 16.195 penyewa.

Selain itu, penambahan ini memperlihatkan peningkatan dari tahun ke tahun sebesar 33% dalam jumlah menara dan 40,7% dalam jumlah penyewa dibandingkan dengan priode yang sama tahun lalu. Meskipun mempertahankan tren yang kuat dan berkelanjutan dalam pertumbuhan jumlah menara dan penyewanya, perseroan mengklaim tetap merupakan salah satu perusahaan menara independen di dunia dengan tingkat pinjaman yang paling rendah.

Pada 31 Maret 2013, jumlah pinjaman bersih TOWR adalah Rp 7.317,6 milyar, sehingga rasio Pinjaman Bersih dibagi dengan EBITDA (dengan menggunakan EBITDA untuk Q1 2013 yang disetahunkan) adalah sebesar 3,0x. Pada tanggal 20 Mei 2013, Protelindo dan anak perusahaannya, Protelindo Finance B.V., menandatangani US$ 475 juta and EUR 40 million Syndicated Term Loan and Revolving Credit Facility Agreement. Disebutkan, transaksi tersebut pada awalnya dibiayai oleh DBS Bank Ltd., ING Bank N.V., dan Standard Chartered Bank.

Kalangan perbankan memberikan reaksi yang positif selama proses sindikasi, dengan mendapatkan penawaran yang oversubscribed sebanyak dua kali dengan partisipasi melebihi 33 bank baik dari dalam maupun luar negeri. Sebagai hasil dari transaksi ini, TOWR secara efektif memperpanjang profil jatuh tempo sebagian besar pinjamannya menjadi jatuh tempo di Mei 2018 dan menjadikan seluruh saldo utangnya menjadi struktur utang tanpa jaminan. Dana dari pinjaman tersebut akan digunakan untuk keperluan pembiayaan kembali (refinancing) dan tujuan-tujuan umum perusahaan. (bani)