PNM Dorong Wirausahawan UMKM Kreatif

Jumat, 24/05/2013

NERACA

Surabaya – Lembaga keuangan nonbank milik negara, PT Permodalan Nasional Madani (Persero) atau PNM mendorong pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) agar kreatif mengembangkan strategi pemasaran untuk meningkatkan penetrasi pasar. Untuk membekali strategi pemasaran para nasabahnya, PNM melakukan program pelatihan. Salah satunya, PNM Cabang Surabaya menggelar pelatihan regular kepada sekitar 125 nasabah Usaha Mikro Kecil (UMK) dari berbagai sektor usaha di Surabaya dan Malang. Pelatihan ini menghadirkan trainer Mustain dan mengangkat tema “Kiat Sukses Mengelola Usaha secara Profesional dan Strategi Pemasaran.”

Pemimpin PNM Cabang Surabaya, Haryono mengatakan, untuk menjadi wirausahawan yang sukses, diperlukan keterampilan mengelola usaha secara profesional dan kreatif dalam melihat dan mengaplikasikan strategi pemasaran. “UMKM tidak hanya fokus pada produksi, mereka juga harus belajar mengelola bisnis dengan baik dan menjual produknya untuk memperoleh keuntungan maksimal,” katanya di Surabaya, Jawa Timur, Kamis (23/5).

Menurut dia, Banyak faktor yang mendukung keberhasilan dalam berwirausaha, seperti kualitas dan keunikan produk atau jasa yang ditawarkan serta strategi pemasaran maupun mental pantang menyerah. Kemudian Corporate Secretary PNM, Gung Panggodo mengatakan, program pelatihan nasabah ini merupakan bagian terintegrasi dari bisnis PNM sebagai BUMN yang dikhususkan bagi pemberdayaan UMKM.

“Aktivitas pemberdayaan UMK yang mengombinasikan bisnis pembiayaan dan capacity building ini masih menjadi keunggulan dan keunikan bagi PNM dibanding para pesaingnya,” ujarnya. Sementara itu, Kepala Divisi Pengembangan Kapasitas Usaha PNM, Arief Mulyadi mengatakan sampai akhir bulan Maret 2013, PNM telah memberikan pelatihan kepada 8.075 orang dan pelatihan tersebut dilakukan oleh 22 cabang di seluruh Indonesia.

“Langkah ini dinilai dapat mengoptimalkan bisnis perseroan maupun kontribusi PNM dalam mendukung program pemerintah, khususnya bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat di daerah,” jelasnya. Hal tersebut tercermin dari pertumbuhan kinerja pembiayaan maupun perluasan jumlah nasabah. PNM Cabang Surabaya mencatat total outstanding pembiayaan mikro secara akumulatif hingga Maret 2013 sebesar Rp 220,85 miliar dengan jumlah nasabah sebanyak 3.889 nasabah. Nilai pembiayaan ini meningkat sekitar 14,64% dibandingkan dengan bulan Maret 2012 senilai Rp 192,63 miliar. PNM Cabang Surabaya pada tahun ini menambah empat kantor Unit Layanan Modal Mikro (ULaMM). Keempat kantor Kesambon, Tambakboyo Tuban, Ngimbang Lamongan, dan Gunung Gangsir. Keempat kantor baru tersebut menambah jumlah ULaMM di Cabang Surabaya menjadi 38 kantor unit dibanding akhir tahun lalu sebanyak 34 kantor unit.

Perlu diketahui sebelumnya, dalam upayanya mengembangkan sektor UMKM ini, PT PNM telah menyabet tiga penghargaan BUMN Award 2013. Kategori yang berhasil diraih PNM adalah BUMN dengan Program Pemberdayaan Masyarakat Terbaik, Penerapan Inovasi Teknologi atau Model Bisnis untuk Peningkatan Produktifitas dan/atau Efisiensi, serta Pelaksana Program BUMN Peduli Terbaik. PNM merupakan salah satu perusahaan pelat merah yang memperoleh penghargaan BUMN Award 2013.

Perputaran bisnis PNM, yang menggunakan dana komersial melalui Unit Layanan Modal Mikro (ULaMM), menjadi salah satu dasar penilaian Kementerian BUMN. Selain itu, kinerja positif PNM juga tercermin dari penambahan jumlah kantor ULaMM, dari 12 unit pada 2008 menjadi 577 unit di 2.759 kecamatan dan 27 provinsi pada 2013. Selama periode Januari – Maret 2013, PNM membukukan laba Rp 18,20 miliar atau naik 60,5% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu Rp 11,33 miliar. Sementara itu, totaloutstandingpenyaluran pembiayaan PNM selama kuartal I mencapai Rp 2,97 triliun, naik sekitar 7,2% dibandingkan dengan periode yang sama 2012 sebesar Rp 2,77 triliun. Sampai dengan akhir tahun 2013, PNM optimistis target penyaluran pembiayaan yang dipatok Rp 3,3 triliun dapat tercapai. Target penyaluran kredit tersebut lebih tinggi 17,8% dari realisasi tahun lalu Rp 2,8 triliun. [mohar]