Akhir Pekan, Tren IHSG Masih Terkoreksi

Jumat, 24/05/2013

NERACA

Jakarta – Derasnya aksi jual investor lantaran dihantui sentimen negatif aata manufaktur China yang terkontraksi di Mei dan juga rencana The Federal Reserve yang akan mencabut stimulus, membawa indeks Bursa Efek Indonesia (BEI) terkoreksi. Mengakhiri perdagangan Kamis sore, indeks harga saham gabungan (IHSG) ditutup melemah 86,596 poin (1,66%) ke level 5.121,403. Sementara Indeks LQ45 ditutup jatuh 15,305 poin (1,74%) ke level 864,873.

Kata analis Trust Securities, Reza Priyambada, indeks BEI terkoreksi karena di picu sentimen negatif dari pasar Asia dan bursa saham Amerika, “Bursa saham AS yang melemah memberi dampak negatif bagi pasar saham Asia termasuk indeks BEI. Pelemahan terdalam terjadi pada bursa Nikkei Jepang seiring dengan anjloknya nilai obligasinya,”katanya di Jakarta, Kamis (23/5).

Dia mengatakan, pelemahan bursa global itu menjadi salah satu alasan pelaku pasar saham di dalam negeri mengambil posisi ambil untung. Selain itu, bursa saham domestik juga sedang berada dalam area jenuh beli (overbought).

Sementara analis Panin Sekuritas, Purwoko Sartono menambahkan, selain sentimen dari Asia, pasar saham domestik juga bereaksi negatif atas pernyataan The Fed yang akan mengurangi program pembelian obligasi jika pasar tenaga kerja terus membaik. Berikutnya, indeks BEI Jum’at akhir pekan diproyeksikan akan menguat, “Tekanan jual saham di pasar saham domestik diproyeksikan akan mulai berkurang, meski demikian potensi koreksi lanjutan masih membayangi,”ungkapnya.

Pada perdagangan kemarin, seluruh indeks sektoral di lantai bursa pun berguguran dengan koreksi rata-rata lebih dari satu persen bahkan ada beberapa yang dua persen. Indeks sektor tambang paling banyak kena aksi jual, jatuh lebih dari tiga persen.

Perdagangan berjalan cukup ramai dengan frekuensi transaksi mencapai 210.340 kali pada volume 7,354 miliar lembar saham senilai Rp 9,695 triliun. Sebanyak 52 saham naik, sisanya 251 saham turun, dan 66 saham stagnan. Data manufaktur China berkontraksi di Mei pertama kalinya dalam tujuh bulan. Seluruh bursa di Asia merespons hal ini dengan koreksi tajam.

Aksi panik jual terjadi di pasar saham Jepang, alhasil indeks Nikkei 225 pun terjun bebas lebih dari 7 poin. Sentimen negatif dari China jadi penyebab aksi jual ini. Penurunan yang terjadi di bursa saham Jepang ini merupakan yang terparah sejak terjadinya gempa dan tsunami pada 15 Maret 2011 silam.

Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers di antaranya Taisho (SQBI) naik Rp 21.500 ke Rp 260.000, Gowa Makassar (GMTD) naik Rp 1.750 ke Rp 10.650, Unilever (UNVR) naik Rp 750 ke Rp 31.600, dan Goodyear (GDYR) naik Rp 700 ke Rp 24.200.

Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Gudang Garam (GGRM) turun Rp 2.250 ke Rp 53.350, Indo Tambangraya (ITMG) turun Rp 1.850 ke Rp 31.100, Bukit Asam (PTBA) turun Rp 1.050 ke Rp 13.900, dan Inovisi (INVS) turun Rp 800 ke Rp 6.200.

Perdagangan sesi I, indeks BEI ditutup anjlok 48,334 poin (0,93%) ke level 5.159,665. Sementara Indeks LQ45 jatuh 9,311 poin (1,06%) ke level 870,867. Koreksi yang terjadi di indeks sektoral cukup dalam, rata-rata lebih dari satu persen. Saham-saham unggulan jadi incaran untuk aksi ambil untung, terutama di sektor tambang, konstruksi dan infrastruktur.

Perdagangan berjalan cukup ramai dengan frekuensi transaksi mencapai 103.916 kali pada volume 3,638 miliar lembar saham senilai Rp 4,342 triliun. Sebanyak 64 saham naik, sisanya 190 saham turun, dan 86 saham stagnan.

Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers di antaranya Taisho (SQBI) naik Rp 21.500 ke Rp 260.000, Gowa Makassar (GMTD) naik Rp 1.500 ke Rp 10.400, Global Teleshop (GLOB) naik Rp 410 ke Rp 2.150, dan Trikomsel (TRIO) naik Rp 275 ke Rp 2.075.

Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain HM Sampoerna (HMSP) turun Rp 1.000 ke Rp 87.000, Indo Tambangraya (ITMG) turun Rp 900 ke Rp 32.050, Gudang Garam (GGRM) turun Rp 850 ke Rp 54.400, dan Inovisi (INVS) turun Rp 800 ke Rp 6.200.

Diawal perdagangan, indeks BEI dibuka turun 4,67 poin atau 0,09% ke posisi 5.203,33, sementara indeks 45 saham unggulan (LQ45) melemah 1,17 poin (0,13%) ke level 879,01, “Ambil untung jangka pendek menekan indeks BEI, namun kami melihat masih dalam batas yang wajar," kata analis Kresna Securities, Etta Rusdiana Putra.

Dia menambahkan, sentimen domestik juga masih relatif kondusif, meski pemerintah melakukan revisi target pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi 6,2% dan merevisi target nilai tukar rata-rata di Rp9.600 per dolar AS di 2013.

Dirinya mengemukakan, sisi positif revisi target itu masih sejalan dengan perkiraaan pelaku pasar yang memperkirakan ekonomi tumbuh 6,3%, sementara rata-rata nilai tukar diperkirakan di kisaran Rp9.688 dolar AS.

Bursa regional, di antaranya indeks Hang Seng dibuka melemah 412,82 poin (1,77%) ke level 22.848,26, indeks Nikkei-225 naik 251,51 poin (1,61%) ke level 15.877,77 dan Straits Times melemah 16,96 poin (0,49%) ke posisi 3.437,41. (bani)