Bulog Diminta Jinakkan Harga Daging di Jakarta dan Jabar - Dapat Jatah Impor 3.000 Ton

NERACA

Jakarta - Badan Urusan Logistik (Bulog) akan mendapatkan jatah impor daging sapi sebanyak 3.000 ton. Menurut Menteri Pertanian Suswono, impor yang dilakukan oleh Bulog untuk menstabilkan harga daging sapi yang saat ini masih tinggi di Jakarta dan Jawa Barat. \"Sudah disetujui daging impor untuk operasi pasar yang tentunya masuk ke pasar hanya untuk DKI (Jakarta) dan Jawa Barat,\" kata Suswono, kemarin.

Suswono menuturkan pemerintah akan melakukan operasi pasar yang akan dilakukan di Jakarta dan Jawa Barat. Hal itu menurut dia karena pasokan ke dua wilayah tersebut kekurangan sehingga harga melonjak mencapai Rp85.000-Rp90.000 per kilogram. Menurut Suswono, Kementerian Perdagangan menginginkan harga daging di pasar turun menjadi Rp70.000-Rp80.000 per kilogram, setara dengan Rp32.000 per kilogram bobot hidup. Harga tersebut, lanjutnya, masih memberikan keuntungan bagi peternak asal rantai distribusinya tidak panjang.

Ia menambahkan, untuk memenuhi permintaan Bulog volume impor daging 7-10% dari total kuota impor akan dibuat analisa kebutuhan yang mencakup perhotungan kebutuhan dan menjaga kestabilan harga di level berapa, termasuk juga penyesuaian terhadap target swasembada daging yang membolehkan impor maksimal 10% dari total konsumsi nasional.

Lebih lanjut, Suswono mengatakan, ke depannya Bulog dapat ikut melakukan impor sebagaimana pelaku usaha lainnya. \"Yang jelas, Bulog tentu kalau dia ditugaskan (stabilisasi harga daging) pasti sudah investasi. Kalau investasi hanya sekedar untuk operasi pasar tentu akan rugi. Bulog bisa ikut (impor) sebagaimana para pelaku usaha lain,\" katanya.

Stabilisasi Harga

Sebelumnya, Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan Bachrul Chairi memaparkan pihaknya telah menetapkan jatah impor daging sapi untuk Bulog sebanyak 3.000 ton dan diharapkan mampu menstabilisasi harga daging sapi yang masih tinggi. \"Jatah impor yang dikelola maksimum 3.000 ton atau tujuh persen dari kebutuhan total,\" katanya.

Bachrul mengatakan, impor yang dilakukan Bulog ini hanya merupakan langkah untuk operasi pasar agar harga daging sapi yang ada di pasaran bisa stabil di harga Rp75.000 per kilogram. \"Ini hanya operasi pasar, pengelolaan daging impor dalam jangka pendek dan tujuannya bukan untuk berbisnis,\" kata Bachrul.

Bachrul menjelaskan, kuota sebanyak 3.000 ton tersebut diharapkan mampu menstabilkan harga daging sapi di pasar-pasar hingga bulan Desember 2013 ini. \"Namun, jika memang masih diperlukan nantinya bisa ditambah,\" ujar Bachrul.

Terkait dengan perizinan, lanjut Bachrul, pihaknya menyanggupi masih menunggu Kementerian Pertanian untuk menyelesaikan surat keputusan dan Rekomendasi Impor Produk Hortikultura (RIPH), namun dia yakin akan selesai dalam waktu dekat ini. \"Kalau bisa pekan ini akan selesai, kami terus melakukan komunikasi dengan Kementerian Pertanian,\" kata Bachrul.

Meskipun telah mendapatkan jatah impor daging sebanyak 3.000 ton, Direktur Utama Bulog Sutarto Alimoeso mengaku membutuhkan sebanyak 28.000 ton daging sapi untuk melakukan stabilisasi harga. Ia menjelaskan jika mengacu pada perhitungan yang dipakai Bulog untuk beras, maka Bulog harus menguasai tujuh hingga sepuluh persen dari total impor. \"Besarannya kurang lebih sebanyak 28.000 ton, namun daging berbeda dengan beras,\" kata Sutarto.

Sutarto mengatakan, saat ini Bulog sedang menyiapkan diri terkait penugasan untuk pengendalian harga daging, terutama dalam hal infrastruktur.

Menteri Perdagangan Gita Wirjawan juga berkomentar. Menurut dia, bila daging impor didatangkan dalam jumlah yang besar, maka harga daging sapi di dalam negeri akan segera turun. \"Kita sudah berbicara untuk mereka mendapatkan jatah. Ini kan izinnya diproses di kemendag dan kita akan duduk dengan mereka. Dan semangat kita semua untuk membuka kuota-kuota tertentu untuk daging sapi yang tidak diproduksi di dalam negeri. Hitungan Bulog saya kira masuk akal, tetapi semakin banyak (daging impor) akan semakin menurunkan harga,\" katanya.

Menurut Gita, harga daging sapi saat ini sebesar Rp 90-100 ribu/kg dirasa cukup membebani daya beli masyarakat. Harga daging normalnya hanya Rp 70-75 ribu/kg. \"Harga daging masih bertengger di harga Rp 90-100 ribu/kg. Ini terlalu mahal bagi rakyat. Rakyat hanya bisa dikisaran Rp 70-75 ribu/kg. Daging sapi tahun lalu hanya Rp 75 ribu/kg ini yang harus kita turunkan. Mesti ambil sikap untuk kenyamanan karena pemerintah ingin menaikkan harga BBM. Apalagi Lebaran dan Ramadhan,\" katanya.

Related posts