Menggagas Sekolah Transformatif

Oleh: Intan Indah Prathiwie, Alumnus Psikologi UI

Jumat, 24/05/2013

Semua orang pasti sepakat bahwa pendidikan merupakan pranata (institution) yang memiliki fungsi dasar untuk membebaskan manusia (freedom from) dari kondisi \"kegelapan\", seperti kebodohan, kemiskinan, kejahilan dan lain sebagainya. Sekaligus, merupakan instrumen untuk membebaskan manusia supaya mampu (freedom to) merengkuh \"cahaya\" demi mewujudkan potensinya secara penuh. Oleh sebab itu, pendidikan memiliki peranan strategis untuk memberikan kehidupan bermartabat dan berkualitas kepada manusia.

Selain itu, pendidikan merupakan kunci bagi kebesaran suatu bangsa. Sebab, pendidikan adalah instrumen untuk mencetak SDM-SDM unggul yang diharapkan dapat mengaktualkan talenta mereka hingga mampu berkontribusi bagi bangsa ini dengan cara masing-masing.

Sayangnya, sebagian sekolah di Indonesia kerap keliru menerjemahkan ini dalam paradigma yang sangat teknis dan teknokratis, seperti keharusan memberikan mata pelajaran dalam bahasa Inggris, menghafal mati materi demi mendapatkan nilai tinggi dan lain sebagainya. Celakanya, kekeliruan paradigma ini begitu meluas sehingga menjadi standar yang seragam di banyak sekolah. Akibatnya, sekolah-sekolah tersebut gagal menjadi sekolah progresif. Yaitu, sekolah yang menjadi wahana bagi anak didik untuk melakukan perubahan dalam dirinya ke arah yang lebih baik sesuai potensi khas masing-masing murid.

Oleh karena itu, bangsa ini perlu mencari model pendidikan transformnatif yang menganut progresivisme. Menurut Ellis, Cogan, dan Howey dalam Introduction to Foundations of Education (1991), progresivisme adalah paradigma yang menganggap guru sebagai challenger and inquiry leader (pengkritik dan pemandu penelitian). Dalam progresivisme, guru mendidik murid untuk bisa memecahkan permasalahan yang selalu berubah di tengah tantangan zaman yang dinamis. Juga, bertujuan mengenalkan murid terhadap beragam pengalaman sosial konkret supaya tidak terperangkap di menara gading. Adalah menarik untuk mencari metoda-metoda segar yang dapat melahirkan sekolah transformatif, baik dalam level nasional maupun global.

Pertama, sekolah Summerhill di Inggris. Sebagaimana diceritakan sang pendiri sekolah, AS Neill dalam otobiografinya, Summerhill School (Serambi, 2006), sekolah ini memberikan kebebasan anak-didiknya untuk menentukan jam pelajaran, mata pelajaran yang diambil, dan lama belajar. Summerhill juga mengajarkan ketrampilan praktis atau life skills, seperti bertukang, berkebun dan lain sebagainya. Sekolah ini bahkan memungkinkan siswa membatalkan kebijakan kepala sekolah melalui rapat siswa. Hasilnya, murid-murid Summerhill menjadi anak yang terampil, cerdas, percaya diri, pemberani dan punya kemampuan untuk menjalani hidup. Kedua, INS Kayutanam (INS-K) yang diketuai oleh Tengku Sjafei. Sebagaimana dituturkan AA Navis dalam Autobiografi (Gramedia, 1995), guru-guru di sekolah di Kayutanam (Sumbar) ini memberikan pelajaran bertukang, berkebun, dan bermain alat musik kepada siswa. Singkat kata, INS-L meyakini prinsip belajar praktik. Potensi unik masing-masing pribadi anak didik juga mendapat perhatian karena setiap murid bebas mengambil kelas sesuai bidang mereka.

Ketiga, sekolah Tomoe di Jepang yang dikisahkan Tetsuko Kuroyanagi dalam Totto-Chan (Gramedia, 2006). Sekolah Tomoe begitu membebaskan, mengasyikkan dan mengajak berpikir kreatif. Kelasnya saja terdiri atas rangkaian gerbong-gerbong kereta api listrik. Di sini, ada juga keharusan bercerita secara bergilir bagi anak-anak. Karena ceritanya boleh bertemakan apa saja, daya kreatif siswa dirangsang menyusun kisah yang menarik. Bahkan, siswa diajak berjalan keluar untuk menikmati alam, pepohonan, dan hewan sembari belajar banyak hal: ilmu alam, biologi, dan sebagainya. Buku-buku perpustakaan sekolah bebas dibaca untuk segala tingkatan.

Meski berbeda, ketiga sekolah progresif atau transformatif itu sejatinya memiliki sejumlah prinsip yang sama. Pertama, menekankan pentingnya pemahaman dan bukan hafalan mati. Pelajaran tidak diberikan satu arah lewat metode menghafal, melainkan disajikan dengan dialog, praktik lapangan, dan belajar di luar kelas. Ibaratnya, guru hanya berperan sebagai fasilitator untuk membangunkan \"potensi anak\" ketimbang sebagai instruktur yang seakan selalu tahu segalanya dan tidak boleh salah apalagi dibantah.

Kedua, memberikan kecakapan hidup (life skills) lewat pelajaran praktik (learning by doing). Maksudnya, murid tidak sekadar diasah daya kognitifnya, tapi juga dipertajam kemampuan praktisnya sehingga akan menjadi lulusan yang siap hidup, tangkas mencari nafkah, dan mandiri alih-alih menjadi beban masyarakat sebagai \"pengangguran intelektual\" atau \"pengangguran terselubung.\"

Ketiga, prinsip kebebasan yang bertanggung jawab. Inilah perpaduan antara unsur pedagogi Barat yang mengutamakan individualitas (kebebasan murid) dengan unsur pedagogi Timur yang mementingkan kolektivitas (empati terhadap masalah-masalah sekitar). Maksudnya, setiap murid dirangkul kebebasannya dan inisiatif pribadinya, tapi bukan berarti mendidik murid menjadi pribadi steril-nilai yang egoistis. Sebaliknya, murid tetap harus terjun langsung dalam masalah-masalah sekitar. Maka itu, para guru biasanya menekankan pentingnya para alumnus terus memerhatikan alam sekitar dan segera mencari kerja atau bahkan menjadi pengusaha pencipta lapangan kerja demi membantu sesama.

Akhirnya, institusi pendidikan kita harus meninggalkan paradigma pendidikan teknokratis yang kerap memasung kreativitas dan menumpulkan aktualitas potensi anak didik. Sebaliknya, kita perlu menengok metoda-metoda pendidikan alternatif demi membangun gugus-gugus sekolah yang bersifat transformatif bagi anak didik. Semoga tercapai! (haluankepri.com)