Samudera Indonesia Bagikan Dividen Rp23 Miliar

NERACA

Jakarta- PT Samudera Indonesia Tbk (SMDR) menyetujui pembagian dividen kepada pemegang saham sekitar Rp23 miliar atau 33% dari laba bersih perseroan tahun buku 2012 sebesar US$7,4 juta. “Para pemegang saham menyepakati pembagian dividen sebesar 33% dari laba bersih atau Rp145 per lembar saham.” kata Direktur Keuangan PT Samudera Indonesia Tbk, Anwarsyah Batubara di Jakarta, Rabu (22/5).

Menurutnya, pembagian dividen merupakan bentuk apresiasi perseroan kepada pemegang saham meskipun laba mengalami penurunan, sementara pembagian dividen sendiri akan dilakukan secepatnya sesuai dengan peraturan yang ada.

Selain pembagian dividen, kata dia, juga disetujui sisa dari laba bersih akan dijadikan laba ditahan. Penggunaannya antara lain akan digunakan untuk mengembangkan lini bisnis logistik dan terminal. Pasalnya, saat ini yang dinilai memiliki potensi besar yaitu pada logistik dan terminal. Karena itu, pihaknya akan fokus mengembangkan lini bisnis tersebut.

Untuk meningkatkan kinerja pada tahun ini, perseroan menganggarkan dana belanja modal sebesar US$15 juta atau setara Rp147 miliar. Nilai tersebut lebih kecil dibandingkan tahun lalu, karena kebutuhan perseroan untuk pengembangan bisnis 2013 tidak sebesar sebelumnya.

Disebutkan Anwarsyah, sumber dana belanja modal tahun ini semuanya berasal dari dana internal, tapi juga sedang menjajaki pinjaman dari perbankan. Perseroan akan menggunakan dana ini untuk membangun terminal dan pengembangan logistik di pelabuhan sehingga diharapkan pendapatan perseroan tahun ini meningkat 4,9% menjadi US$614 juta.

Hingga kini, lanjut dia, armada yang dioperasikan perseroan terdiri dari 10 tanker bahan kimia dengan ukuran mulai dari 2.800 DWT sampai 11.200 DWT, dua tanker bahan bakar minyak berukuran masing-masing 17.700 DWT, dua tanker gas, tiga unit kapal untuk mendukung offshore activities, dua unit kapal curah dengan ukuran 57.700 DWT dan satu kapal general cargo berukuran sekitar 9.000 DWT.

Sementara itu, pada tahun 2012, perseroan mencatat peningkatkan pendapatan sebesar US$614,0 juta, atau meningkat sekitar 4,9% dari US$585,5 juta di tahun sebelumnya. Namun karena peningkatan beban jasa yang terutama didorong oleh kenaikan harga bahan bakar (bunker) yang signifikan, laba tahun berjalan turun menjadi US$9,7 juta dibandingkan tahun 2011 sebesar US$16,6 juta. Dari sisi aset perseroan juga turun sebesar 2% menjadi US$704,4 juta. “Laba bersih kami turun imbas dari naiknya harga bahan bakar,” jelasnya.

Related posts