BSN Akui SNSU Tak Membanggakan - Menyambut MEA 2015

NERACA

Jakarta - Badan Standardisasi Nasional (BSN) mengakui bila posisi penelitian dan pengembangan SNSU (Standar Nasional Satuan Ukuran) Indonesia saat ini berada dalam posisi yang tidak membanggakan. Kepala BSN, Bambang Prasetya menuturkan, meskipun begitu, pihaknya tidak menutup mata atas keberhasilan yang telah dicapai oleh seluruh pihak (stakeholder) yang telah melaksanakan tugas penelitian dan pengembangan SNSU. “Dalam menghadapi kebijakan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2015, kita harus berbenah. Sekarang justru berbalik. Dulu 3 negara ASEAN seperti Thailand, Malaysia dan Singapura, yang tadinya berkiblat ke Indonesia dalam pengembangan standardisasi, termasuk SNSU, saat ini malah diakui secara internasional,\" kata Bambang di Jakarta, Rabu (22/5).

Menurut dia, ketiga negara tersebut telah menerapkan serta meyakini perlunya satu national metrology institute sebagai national research centre on fundamental and scientific metrology yang kuat dan mandiri. Lebih lanjut Bambang menjelaskan, tanpa sistem pengukuran yang kuat didukung dengan riset pengukuran yang mampu menjawab kebutuhan, niscaya SNI (Standar Nasional Indonesia) yang digunakan sebagai hidden technical barrier to trade tidak akan bisa diterapkan secara efektif.

Bambang juga menambahkan, untuk menghadapi dan duduk setara dalam MEA 2015 tidak ada pilihan lain bagi Indonesia, kecuali melakukan penguatan sistem pengukuran nasional mulai dari peraturan perundang-undangan, kelembagaan pengelolaan standar nasional ukuran serta sistem pendidikan ilmu metrologi. \"Dengan tetap menghargai keberhasilan oleh berbagai pihak, sudah selayaknya seluruh stakeholder menata kembali dan memperkuat sistem penelitian dan pengembangan ilmu pengukuran dan pengembangan Standar Nasional Satuan Ukuran\" ungkap dia.

Pada kesempatan yang sama, Menteri Negara Riset dan Teknologi, Gusti Muhammad Hatta menambahkan, dalam menghadapi MEA, peran BSN sangat vital dalam membendung produk-produk luar. Oleh karena itu, agar dapat bersaing dalam rantai produksi dan transaksi global, Indonesia harus mampu memenuhi persyaratan-persyaratan produksi dan transaksi yang ditetapkan serta mampu menerapkan aturan-aturan dalam pasar dalam negeri untuk melindungi seluruh kepentingan pasar.

Daya saing sebuah bangsa dalam konteks globalisasi dapat dipahami sebagai kemampuan sebuah bangsa untuk dapat diterima sebagai pemain dalam rantai produksi dan transaksi global. “Metrologi mencakup aspek teoritis atau scientific metrology dan practice pengukuran, baik penerapan dalam industri, kepentingan keamanan, kesehatan, keselamatan warga negara serta kelestarian lingkungan hidup melalui regulasi pemerintah,” jelas Gusti M Hatta.

Sebelumnya, Kementerian Perdagangan (Kemendag) juga mengakui sebagian besar alat ukur atau timbangan di Indonesia tidak layak guna. Alhasil, konsumen yang paling dirugikan. \"Analisis Sucofindo tahun 2012 menyebutkan sebanyak 54% kita punya alat ukur, takar dan timbangan, tidak sesuai dengan ketentuan. Dengan kejadian itu, maka jelas kita akan lakukan penertiban,\" ungkap Direktur Jenderal Standarisasi Perlindungan Konsumen Kemendag, Nuz Nuzulia Ishak, kemarin. [ardi]

BERITA TERKAIT

Masyarakat Diingatkan Tak Terjebak Kampanye Pangan Murah

NERACA Jakarta – Masyarakat diingatkan untuk tidak terjebak pada kampanye pangan murah, sementara pasangan capres dan cawapres yang akan berkompetisi…

BI Diminta untuk Tak Naikkan Suku Bunga

  NERACA   Jakarta - Bank Indonesia (BI) dinilai untuk tidak perlu menaikkan suku bunga acuan pada rapat kebijakan Rabu…

BKPM : Politik Tak Ganggu Investasi

    NERACA   Jakarta - Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Thomas Trikasih Lembong menegaskan aspek politik sama sekali…

BERITA LAINNYA DI BERITA EKONOMI

Korporasi Diharapkan Tak Borong Valas

      NERACA   Jakarta - Bank Indonesia (BI) meminta dunia usaha tidak memaksakan diri untuk "memborong" valuta asing…

Iklan Edisi Ramadhan Yang Paling Disukai - Hasil Studi Kantar Millward Brown

    NERACA   Jakarta – Hasil studi Kantar Millward Brown soal Iklan Ramadhan yang paling disukai di 2018 menyebutkan…

IIF Target Salurkan Pembiayaan Infrastruktur Rp10 Triliun

  NERACA   Jakarta – PT Indonesia Infrastructure Finance (IIF) menargetkan bisa menyalurkan pembiayaan untuk infrastruktur mencapai Rp10 triliun. Hal…