Rupiah Lemah, Ekonomi Indonesia Berisiko

NERACA

Jakarta - Ekonom PT Bank OCBC NISP Tbk, Gundy Cahyadi, menilai jika sentimen pasar terhadap rupiah akan terus melemah, maka akan berisiko besar terhadap prospek perekonomian Indonesia. \\\"Pertumbuhan ekonomi triwulan pertama ini sedikit mengecewakan, yaitu enam persen, telah menunjukan kesan adanya dampak negatif dari melemahnya rupiah terhadap laju pertumbuhan konsumsi dan juga investasi dalam negeri,\\\" ujar Gundy, melalui keterangan tertulis yang diterima Neraca, kemarin.

Hal ini, lanjut dia, sebenarnya tidak mengejutkan mengingat bahwa pertumbuhan impor sendiri telah melemah cukup signifikan di beberapa bulan terakhir dan kenyataannya adalah nilai rupiah yang melemah telah menurunkan daya beli konsumen dan juga pemilik usaha di Indonesia. Melemahnya rupiah ini sendiri tidak terlalu berdampak kepada laju pertumbuhan ekspor Indonesia karena kebanyakan barang-barang yang diekspor dari Indonesia adalah komoditas, yang secara fundamental cenderung lebih price inelastic. \\\"Artinya, tingkat konsumsinya tidak terlalu sensitif terhadap pergerakan harganya,\\\" terangnya.

Gundy juga menuturkan, kalau memang pemulihan perekonomian dunia masih belum terlihat mantap, maka ada kemungkinan yang sangat besar kalau laju pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa jadi akan terus menurun jika memang rupiah masih terus melemah. \\\"Oleh karena itu, dalam pandangan kami, komitmen dari Pemerintah maupun BI untuk terus menjaga kestabilan rupiah di pasar (menghindari perlemahan yang cenderung excessive) bisa dipercayai,\\\" tutur Gundy.

Terkait dengan rencana kenaikan harga BBM Bersubsidi, Gundy menilai hal itu merupakan satu perkembangan yang sebenarnya positif untuk risiko makro Indonesia dan bisa jadi membantu posisi defisit neraca perdagangan Indonesia, setidak-tidaknya di jangka waktu dekat ini. Menurut dia, yang lebih penting tetaplah berupaya memonitoring program- program yang akan diumumkan pemerintah untuk mendongkrak upaya peningkatan produktivitas di dalam negeri, terutama di sektor industri yang memang telah terkesan terlantar oleh karena adanya commodity boom dalam kurun waktu 5-7 tahun terakhir ini,\\\" ujar Gundy. [ardi]

BERITA TERKAIT

Percepatan Infrastruktur dan Transformasi Ekonomi Indonesia

Oleh: Eddy Cahyono Sugiarto, Tenaga Ahli Kedeputian Kantor Staf Presiden Visi besar para Founding Father Indonesia terefleksi dalam Pembukaan UUD 1945 alenia…

Kenaikan Tarif Tol Bikin Ekonomi Melesu

    NERACA   Jakarta - Ketua Pengurus Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Tulus Abadi menilai rencana PT Jasa…

Perusahaan Indonesia Perlu Tingkatkan Sistem Pencegahan Korupsi

Perusahaan Indonesia Perlu Tingkatkan Sistem Pencegahan Korupsi NERACA Jakarta - Berbagai perusahaan yang beroperasi di Indonesia, baik itu swasta maupun…

BERITA LAINNYA DI BERITA EKONOMI

Holding Migas jadi Tujuan Berikutnya Pemerintah

      NERACA   Jakarta - Menteri BUMN Rini Soemarno menargetkan pembentukan Holding BUMN Migas terwujud pada triwulan-I tahun…

Pemerintah Pastikan Pajak E-Commerce Tak Rugikan WP

  NERACA   Jakarta - Pemerintah memastikan pengenaan pajak terhadap transaksi elektronik (e-commerce) nantinya tidak akan merugikan Wajib Pajak (WP)…

Pemerintah Pastikan Stok Pangan Akhir Tahun Aman

  NERACA   Jakarta - Kementerian Pertanian menjamin stok pangan jelang perayaan Natal 2017 dan Tahun Baru 2018 aman. Kepala…